Renungan Satu Muharram 1431 H

Pergantian tahun dari 1430 Hijriyah (H)  ke 1431 H satu hari yang lalu dimulai dari hitungan tanggal satu Muharram. Muharram adalah salah satu dari 12 bulan yang dikenal dalam Islam dan merupakan bulan pertama dalam hitungan bulan pada sistem penanggalan Hijriyah. Berbeda dengan sistem penanggalan Masihiyah atau Tahun Masehi (M) yang berdasarkan kelahiran Nabi Isa AS, sistem penanggalan Hijriyah bersumber dari sejarah Nabi Muhammad Rasulullah SAW, dimana tahun kehijrahan beliau (622 M) dari Makkah ke Madinah dijadikan hitungan tahun pertama (i H) pada sistem penanggalan ini. Meski berusia lebih muda 600-an tahun dari sistem penanggalan Masehi, sistem penanggalan Hijriyah membuktikan bahwa umat Islam mempunyai khazanah dan patokan sendiri dalam perhitungan waktu,

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتب الله يوم خلق السموت والأرض منها أربعة حرم

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah duabelas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara bulan-bulan tersebut ada empat bulan yang diharamkan…(QS.9:36)

Hijrah Rasulullah sebagai dasar dan sumber penanggalan Hijriyah merupakan peristiwa penting yang menandai era baru beliau dalam membina dan memajukan umat Islam dengan kota Madinah sebagai pusatnya. Sebelumnya, pusat keislaman berada di kota Makkah, tempat beliau pertama kali menyemaikan benih-benih ajaran tauhid.

Hemat penulis, ada dua tujuan dilakukannya hijrah itu; pertama memenuhi prinsip kebutuhan aman dalam beribadah, kedua, untuk membuktikan ketulusan iman kaum muslimin.

Tujuan pertama, yaitu untuk memenuhi prinsip kebutuhan akan suasana aman dalam beribadah, oleh karena Makkah tidak lagi kondusif sebagai tempat untuk menjalankan ibadah kepada Allah. Memang kewajiban shalat lima waktu belum ada saat itu; tetapi bukankah ada perintah untuk ibadah shalat malam (qiyam al-layl) yang sudah ada sejak awal-awal kenabian ? Kaum kafir Quraish sangat intimidatif terhadap kaum muslimin, dari mulai yang ringan seperti cemoohan sampai yang membahayakan seperti usaha pembunuhan yang direncanakan. Karena itulah, mereka hijrah guna mendapatkan tempat yang lebih aman.

Tujuan kedua, yaitu untuk membuktikan ketulusan iman kaum muslimin, didasarkan kepada keterangan Surat al-Hasyr ayat 8,

للفقراء المهاجرين الذين أخرجوا من ديارهم وأمولهم يبتغون فضلا من الله ورضوانا وينصرون الله ورسوله, أولئك هم الصادقون

(Harta rampasan perang juga diperuntukkan) bagi para fuqara yang berhijrah

Dari ayat di atas jelas bahwa peristiwa hijrah, selain merupakan usaha memenuhi kebutuhan prinsip berupa keamanan beribadah, adalah merupakan perwujudan suatu priinsip lainnya, yakni pembuktian benarnya keimanan seseorang kepada Allah dan RasulNya, ulaika hum al-shadiqun, mereka itulah  orang-orang yang benar. Sebagai gambaran, bukankah Rasulullah menceraikan isterinya Ummu Hani ketika isteri yang satu ini tidak mau ikut hijrah ke Madinah ? Rasulullah juga pernah menikahkan kembali puterinya, Zaynab, dengan suaminya, Abu al-’Ash bin Rabi’ yang sebelumnya kafir, kemudian tertawan di Madinah lalu masuk Islam. Umar bin Khattab memutuskan perkawinannya dengan isterinya yang kafir. Demikian keterangan Muhammad Ali al-Shabuni. Peristiwa hijrah adalah peristiwa ujian pembuktian keimanan, hingga menyangkut ikatan perkawinan  sekalipun. Manakala ikatan perkawinan tersebut berdasarkan keimanan yang sama kepada Allah, jelas tidak ada rasa berat sedikitpun untuk berhijrah, tetapi manakala ada  di antara sang suami atau sang isteri yang tidak mau berhijrah, maka salah satunya wajib menomorsatukan keimanannya kepada Allah dengan menceraikan pasangannya yang kafir. Surat al-Mumtahanah ayat 10 berisi perintah kepada kaum mukminin agar menguji wanita-wanita yang hijrah ke Madinah; apakah hijrahnya mereka itu benar-benar didasarkan atas iman kepada Allah dan RasulNya, atau bukan,

يأيها الذين ءامنوا إذا جاءكم المؤمنت مهجرت فامتحنوهن ألله أعلم بإيمانهن فإن علمتموهن مؤمنت فلا ترجعوهن إلى الكفار لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang-orang kafir dan orang-orang kafir tidak pula halal bagi mereka (QS.60:10).

Pergantian tahun hijriyah seyogyanya memberikan semangat baru dalam kehidupan beragama kita. Berdasar tujuan dari peristiwa hijrah sebagaimana disinggung di atas, paling tidak ada dua agenda pokok yang harus dilakukan di tahun baru 1431 H : peningkatan ibadah dan peningkatan keimanan itu sendiri.

Peningkatan ibadah berarti mengupayakan agar ibadah-ibadah yang kita lakukan mengalami peningkatan, baik dari segi kuantitasnya, lebih-lebih kualitasnya. Dari segi kuantitas, misalnya, ibadah yang kita lakukan mengalami penambahan dari segi jumlahnya; bertambah rakaat pada shalat, misalnya. Dari segi kualitas, seluruh ketentuan-ketentuan yang menjadikan ibadah kita diterima, menyangkut syarat-syarat, misalnya.

Peningkatan keimanan berarti terus memperbaharui keimanan kita dari semua yang yang berpotensi merusak iman itu sendiri. Perbuatan-perbuatan nifak, misalnya. Sebagaimana bunyi suatu hadis, orang yang berkata dusta, orang yang berkhianat dalam suatu amanat, dan orang yang mengingkari janji adalah mereka yang tergolong orang-orang munafik, dan dapat dipastikan rusak imannya.

Selamat tahun baru 1431 H. Semoga ibadah dan keimanan kita meningkat.

This entry was posted in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s