Pluralisme dan Butir Organik Ahlul Kitab

Belakangan ini wacana keagamaan kita diramaikan oleh isu pluralisme. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan pluralisme tak ayal menyulut protes tokoh-tokoh pluralis. Pro kontra seputar wacana pluralisme tersebut juga pernah mengundang perhatian seorang Alwi Shihab dengan menulis secara berseri tentang pluralisme (Republika/9-10/9/’05). Yang menarik dari tulisannya adalah tesanya tentang syarat tertentu bila pluralisme hendak diterapkan di Indonesia, yaitu komitmen yang kokoh terhadap agama masing-masing. “Model pluralisme yang bersyaratkan komitmen yang kokoh terhadap agama masing-masing telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.”, tandas Alwi.

Terkait ini kita perlu merenungkan kembali butir-butir organik al-Qur’an tentang Ahlul Kitab. Sebab konsep Ahlul Kitab inilah yang pasti membuahkan keteladanan Nabi saw dimaksud. Satu hal dari tesa peraih dua gelar doktor dari Universitas ‘Ain Syam, Mesir, dan Temple University, AS di atas adalah bahwa faham pluralisme belum menemukan konsep dan paradigmanya yang jelas untuk Indonesia. Diperlukan penajaman-penajaman konseptual tertentu tentang pluralisme itu sendiri.
Dua Varian
Salah satu butir organik Ahlul Kitab dalam al-Qur’an dan hendak dijadikan batu uji–oleh tulisan ini–bagi faham pluralisme adalah afirmasi al-Qur’an tentang tidak samanya Ahlul Kitab itu. Mereka terbagi dalam dua varian: yang konsisten dan yang tidak konsisten. Al-Qur’an surat Alu Imran ayat 113-115 menjelaskan: Mereka itu tidak sama. Di antara Ahlul Kitab ada golongan yang berlaku lurus (konsisten), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (bersembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan bersegera kepada kebaikan. Apa saja kebaikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala)nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
Contoh sikap konsisten didapatkan pada Abdullah bin Salam. Tokoh kharismatik dan Ulama Yahudi ini langsung menyatakan keimanannya kepada Muhammad manakala ia mengetahui Nabi yang dijanjikan itu hijrah dan tiba di Madinah. Sikap Abdullah tersebut merupakan komitmen keimanannya terhadap Taurat yang memberitakan kedatangan bahkan menyebutkan nama Nabi akhir zaman ini (Q.s.7:157). Di kalangan Nasrani, sikap serupa didapatkan pada seorang Negus. Raja Ethiopia yang saleh ini sebelumnya sempat menginterogasi rombongan hijrah kaum muslimin yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib. Setelah diketahuinya common flatform antara Islam dan Nasrani sebagai Agama Wahyu, ia pun menerima dan melindungi kaum muslimin. Bahkan menurut Imam Ibnu Katsir, beliau masuk Islam.
Kontras dengan contoh di atas adalah Ahlul Kitab yang tidak konsisten. Ketika figur Abdullah bin Salam beriman dan masuk Islam, kalangan Yahudi menjadi lebih sengit memusuhi Nabi. Pemusuhan Rasulullah yang menurut Cendikiawan Mesir Muhammad Husein Haekal, lebih sengit tinimbang konfrontasi orang-orang kafir Quraisy Mekah, disebabkan kedengkian Yahudi terhadap Nabi Terakhir yang bukan berasal dari golongan mereka. Kaum Nasrani tidak memusuhi Nabi. Al-Qur’an bahkan secara khusus mengapresiasi mereka sebagai kelompok bersahabat dengan Nabi disamping tidak menyombongkan diri. Hanya kritik persuasif al-Qur’an terhadap konsepsi teologis mereka dan kisah-kisah dramatik Nabi Isa di dalamnya memang menggambarkan sebagian mereka yang menurut al-Qur’an tidak lagi sejalan dengan Injil (Dalam suatu diskusi di (dulu) IAIN Jakarta, Romo Frans Magnez Suseno secara gamblang mengakui keberatan pihak Kristen terhadap konsepsi al-Qur’an tentang Trinitas).
Ironi Dialog
Tokoh-tokoh pluralis seperti M.Dawam Rahardjo dan Azyumardi Azra telah sampai pada kesimpulan perlunya dialog antar agama. Azyumardi, misalnya, sudah menawarkan ragam format dialog : dialog parlementer, dialog kelembagaan, dialog teologi, dialog dalam masyarakat, dan dialog kerohanian. (lihat, Konteks Berteologi di Indonesia, 1999, h.62-64).
Di antara format dialog tersebut yang sangat penting karena menyangkut bangunan sikap dasar keagamaan, hemat penulis, adalah dialog teologi. Format dialog ini menurut Azyumardi mencakup bahasan persoalan-persoalan teologis dan filosofis, misalnya pemahaman kaum Muslim dan Kristen tentang Tuhan masing-masing, sifat wahyu, dll. Hanya saja kalau jujur merenungkan penuturan Romo Magnez di atas, format dialog ini mengundang pesimisme, kalau bukan mustahil. Substansi keimanan disinyalir menjadi hambatan. ‘Konsep besar’ pluralisme biasanya kemudian beralih kepada format kelima berupa dialog yang bertujuan untuk menyuburkan dan memperdalam kehidupan spiritual di antara berbagai agama. Nama-nama seperti Sayyed Hossein Nashr, Frithjop Schuon, Annemarie Schimmel, dll. yang menggagas aspek esoteris agama-agama menjadi rujukan bersama. Tetapi ironi, bentuk dialog ini merupakan ‘pelarian’ dari bentuk sebelumnya yang karena semangat filsafatnya yang radix sesungguhnya dapat membantu kita menemukan kebenaran ajaran Allah yang hanya satu itu. (Q.s.2:147).
Ironi lain dibuat pluralis lainnya, Dawam Rahardjo. Ketika membuat salah satu rumusan argumen Pluralisme Teologi, ia pernah menyatakan bahwa Agama Kristen tidak bisa memberikan verifikasi ilmiah (empiris, historis) tentang ketuhanan Yesus; begitu juga Islam tidak mampu membuktikan secara ilmiah bahwa Muhammad menerima wahyu dan pamungkas para Nabi. Dari sini mudah membaca konstruk paradigma Dawam: ia menempatkan wahyu di bawah kedigdayaan verifikasi ilmiah. Atau dengan kata lain otoritas wahyu tersubordinasi dalam relatifitas akal. Pertanyaannya: agama mana yang berhasrat memosisikan kalam Tuhannya di bawah akal? Tidak ada. Tanpa disadarinya rumusan seperti ini hampir menutup pintu dialog karena sudah meluluhlantahkan’ elan vital agama. Azyumardi memang mengakui bahwa dialog agama bukanlah persoalan sederhana dan masih banyak kendala. Adalah suatu kemajuan dalam ranah intelektualisme keagamaan di Indonesia bila suatu saat dialog ideal seperti format ketiga dapat digelar. Entah.
Meretas Arah Baru
Berkenaan dengan Surat Alu ‘Imran, Imam al-Wahidy menuturkan dialog teologis antara Rasulullah dengan serombongan (60 orang) Nasrani Najran. Dikisahkan Rasulullah mengajak mereka agar berserah diri (islam) kepada Allah. Mereka menjawab kami sudah islam lebih dahulu. ‘Kalian dusta, kalian mengatakan Allah punya anak.’ Sergah Rasul. ‘Kalau begitu, siapa bapaknya.’ Tanya mereka. Rasulullah kemudian memberikan argumentasi diantaranya bahwa bukankah seorang anak itu menyerupai bapaknya; kalau Allah itu Maha Pemelihara, Maha Pemberi rezeki, mengapa Isa tidak; kalau Allah itu tidak makan, tidak minum, mengapa Isa sebaliknya (makan, minum, dan dilahirkan). Seketika itu kaum Nasrani terdiam. (lihat Asbab al-Nuzul, 1968, h. 53).
Dari dialog barusan ada beberapa catatan; pertama, bahwa dalam hidup berpluralisme, dialog teologis, kalau mau, amat dimungkinkan terjadi seperti dicontohkan Nabi saw. Kedua Nabi jelas berusaha meluruskan faham teologis Ahlul Kitab dengan menguji konsistensi keimanan mereka hatta dengan otoritas akal sekalipun. Ketiga, bahwa meski ada inkonsistensi teologis dari dialog di atas, Rasulullah diperintah untuk tetap konstruktif, yaitu meneguhkan kebenaran ajaran Allah dan mengajak Ahlul Kitab berserah diri kepadaNya: Katakanlah kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa, dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepadaNyalah kami menyerahkan diri, demikian al-Qur’an (Q.s.3:84).
Literatur-literatur tentang Ahlul Kitab, atau gagasan tentang pluralisme khususnya, amat miskin mengelaborasi tentang pentingnya ‘menemukan’ sekelompok Ahlul Kitab yang konsisten itu. Sebagai butir organik, konsep Ahlul Kitab Konsisten ini tidak bisa diabaikan dalam pengusungan wacana pluralisme sejauh merujuk ayat-ayat al-Qur’an. Mengabaikannya justeru akan menjebak diri dalam generalisasi yang tidak jelas juntrungnya. Apalagi dengan rincian mereka yang membaca ayat Allah, bersujud, bersembahyang, beramar ma’ruf, bercucuran air mata manakala mendengar al-Qur’an (Q.s.5:83), kajian tentang pluralisme dan Ahlul Kitab belum mendapatkan arah signifikan. Betapa benderangnya al-Qur’an mewartakan siapa dan bagaimana mereka. Betapa perlunya kita bertemu dengan Ahlul Kitab yang berkomitmen kokoh seperti Negus dan Abdullah bin Salam. Dengan orang-orang seperti mereka kita dapat merenungi dan tunduk bersama di depan ayat-ayat Allah.
Bila kita tidak mengkaji secara jujur, kapan kita menemukan arah baru untuk mulai menerapkan pluralisme berkomitmen kokoh di Indonesia seperti yang digagas oleh Alwi Shihab di atas ? Wallahu a’lam.

This entry was posted in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s