Momentum Kebangkitan Hijriyah

Tahun Baru Islam 1430 Hijriyah tiba. Sebagian umat Islam acapkali memeringatinya dengan Peringatan Satu Muharram. Peringatan ini tradisi baru dalam kebudayaan Islam. Rasulullah saw dan generasi terdahulu (salaf al-shalih) tidak pernah menyelenggarakannya. Kurang jelas siapa yang memulai tradisi peringatan Muharram ini (dan kapan?). Yang terang, Khalifah Umar bin Khaththablah yang menjadikan bulan Muharram sebagai bulan pertama Hijriyah. Yang penting dicatat, penamaan “Hijriyah” itu merujuk kepada peristiwa monumental hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi saw sendiri terjadi pada bulan Rabi’ul Awal menurut kebanyakan ahli sejarah. Sementara penentuan Muharram sebagai bulan pertama, tidak lepas dari saran ‘Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib kepada Umar. Alasan keduanya, menurut al-Maqrizi, karena hitungan tahun di Arab dimulai dengan bulan Muharram (Syibli al-Nu’mani, 1994, h. 395).

Lepas dari itu, peristiwa hijrah memang monumental. Ini misalnya terekam dalam kata-kata Umar: “Peristiwa hijrah menandai terpisahnya antara yang hak dan yang batil, karena itu buatlah penanggalan sejarah dengan peristiwa tersebut.” (Abu Thurab, 1984, h.39).

Kekuatan sosial-politik

Dakwah Muhammad saw merupakan gerakan dakwah keagamaan. Orientasinya bersifat sosial. Artinya, hendak menjadikan suatu masyarakat yang belum islami menjadi masyarakat islami (islamic society), atau masyarakat yang adil berdasarkan etika, meminjam Fazlur Rahman. Masyarakat islami ini ditegakkan di atas prinsip pengesaan Allah (tawhid). Filosof Muhammad Iqbal menegaskan tiga esensi tauhid: persamaan (equality), persaudaraan (solidarity), dan kemerdekaan (freedom) (Muhammad Iqbal, 1966, h.151).

Masyarakat islami atas dasar tauhid ini tidak dapat diwujudkan di Makkah. Tokoh Makkah seperti Umayyah bin Abi Shalt, misalnya, menentang keras bila dia harus disamakan (sebagai hamba Allah) dengan Bilal, budak beliannya. Baginya, dia adalah tuan (konototatif dengan Tuhan) yang dapat berbuat apa saja kepada budak-hambanya. Bukan Umayyah saja, tokoh lainnya seperti Walid bin Mughirah, Abu Sufyan bin Harb, Akhnas bin Syurayq, dll. ada dalam barisan penentang Islam. Pada akhirnya, terjadi benturan psikologis-politis antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai jahiliyah yang established saat itu. Inilah yang melatar-belakangi peristiwa hijrah.

Peristiwa hijrah ke Madinah (622 M/ 1 H) menandai era baru gerakan dakwah Islam. Bila pada fase Makkah, umat Islam mengalami ketertindasan, maka di Madinah mereka mulai bangkit menyusun langkah-langkahnya sebagai kesatuan sosial-politik. Unsur-unsur pokok pembentuk negara modern seperti wilayah kedaulatan (Yatsrib/Madinah), penduduk (kaum mukminin), undang-undang (Alquran dan Sunnah), dan Kepala Negara (Rasulullah) menandai kebangkitan kaum muslimin ini. Dengan cepat sekali, kata Harun Nasution, Islam berubah bentuknya dari hanya agama, menjadi agama dan negara (Ahmad Sukardja, 1995, h.v). Mereka hidup dalam sebuah kesatuan sosial-politik (ummat) yang sangat kuat (QS.59:8-10). Dalam hal ini, keberadaan beberapa suku Arab pagan dan Umat Yahudi yang terikat dalam Piagam Madinah, tentu tidak dapat diabaikan (meski kemudian banyak yang membelot!).

Umat Islam paska kebangkitannya sangat diperhitungkan oleh komunitas Quraisy Makkah. Betapapun, mereka mengkhawatirkan Islam suatu saat akan “merebut” Makkah (dengan Kabahnya) sebagai kota metropolis kegiatan sosial-politik-ekonomi di Jazirah Arabia saat itu.

Pada tahun ke-tujuh paska hijrah, Nabi saw mulai “menunjukkan” kekuatan Islam. Bersama kurang lebih 1.400 kaum muslimin, beliau berangkat ke Makkah melaksanakan umrah. Peristiwa ini melahirkan Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian tersebut, tersirat manifesto politik Quraisy terhadap kekuatan politik Madinah. Disepakati pada tahun itu kaum muslimin menunda umrahnya, tetapi diizinkan masuk ke Makkah pada tahun berikutnya. Larangan memasuki Makkah bagi kaum muslimin hanya akan merugikan citra Quraisy, sebab Makkah memang selalu terbuka bagi siapa saja untuk berziarah.

Reformasi sosial-budaya

Apa yang dikhawatirkan kubu Quraisy akhirnya terjadi; Makkah jatuh ke tangan kaum muslimin pada tahun 630 M/9 H. Dengan kekuatan 10.000 orang, kaum muslimin dapat merebut Makkah dari tangan Quraisy tanpa perlawanan sama sekali. Perebutan ini bukan kemauan Nabi, tetapi karena pengkhianatan Abu Sufyan cs terhadap salah satu klausul Perjanjian Hudaibiyah yang menyatakan tidak boleh saling memerangi. Banu Bakar sebagai sekutu Quraisy memerangi Banu Khuza’ah sekutu Muslimin.

Bagi Muhammad dan kaum muslimin, Makkah bukan sekedar menyemburatkan romantisme patriotik sebagai tanah air mereka. Akan tetapi Makkah adalah kota simbol kelahiran Agama Tauhid dimana Ibrahim mengajarkan gagasan keesaan Tuhan (Allah). Dan, gagasan tersebut telah digantikan dan diselewengkan dengan penganekaan tuhan berhala. Rasulullah dan kaum muslimin mempunyai kewajiban moral mengembalikan gagasan tauhid Ibrahim itu.

Dari sini, penaklukan (baca: pembebasan) kota Makkah tidak harus selalu dibaca melalui kacamata politik: Islam itu kuat, dan dengan kekuatan itu Islam menginvasi Makkah. Peristiwa pembebasan Makkah, hemat penulis, merupakan momentum reformasi sosial-budaya masyarakat Makkah. Di hampir kematangan doktrinalnya, Islam membebaskan Makkah dari praktik-praktik zalim yang mencederai nilai-nilai asasi kemanusiaan; ada perbudakan, pembunuhan karakter perempuan, pencitraan Kabah sebagai bukan rumah untuk “melayani” Allah, tetapi tempat melayani berhala, termasuk politisasi Kabah sebagai sarana bisnis kaum aristokrat. Ketiakadilan sosial, disekuilibrium ekonomi, dan kebutaan agama adalah ciri pokok masyarkat Makkah saat itu. Sejarah umat manusia di bawah struktur sosial masyarakat Makkah, bukan saja tidak islami, tetapi berada di titik nadir.

Bila momentum kebangkitan di Madinah ditandai oleh terbentuknya kesatuan sosial-politik kaum muslimin berdasarkan prinsip tauhid, maka momentum reformasi sosial-budaya masyarakat Makkah ditandai oleh kembalinya supremasi ajaran tauhid melalui pembebasan Makkah dan Kabah. Ketika masuk ke dalam Ka’bah, Rasulullah (ditemani Usamah bin Zayd, Bilal, dan Utsman bin Thalhah), menghancurkan semua berhala di dalamnya. Inilah simbol kemenangan agama tauhid dan reformasi segala bentuk kezaliman yang dibungkus atas nama Tuhan.

Refleksi

Peristiwa hijrah seyogianya menjadi daya tonjok (striking force) psikologis bagi umat Islam untuk bangkit. Pahit memang, menelan ‘keluhan’ bahwa 14 abad sudah peristiwa hijrah berlalu, tetapi kaum muslimin tak kunjung bangkit dan maju. Umat Islam mengalami ketertinggalan dari umat lain, Barat misalnya.

Hamid Rafiabady dalam bukunya Hijrah: A Turning Point in Islamic Movement, menggagas konsep hijrah disertai jihad agar umat Islam keluar dari semua persoalannya. Menurutnya, Islam adalah jalan hidup sempurna yang dapat memandu umat manusia mencari solusi masalahnya. “For coming out of oppression and slavery it has suggested Hijrat and Jehad,” tegasnya. (Hamid Rafiabady,1995,h.84). Baginya, jihad adalah perjuangan (struggle bukan qital/fight) memerangi semua hal negatif seperti kebodohan, percekcokan, kemiskinan, perbuatan bid’ah, dll. yang menjangkit “tubuh” kaum muslimin.

Jihad dalam konsepsi Rafiabady jelas dimulai dengan mengubah mental umat, dari mental kemunduran menjadi mental kemajuan. Semua sifat buruk dan jahat harus diubah dengan sifat-sifat baik dan membangun: kebodohan harus dihilangkan dengan belajar disiplin, kemiskinan harus “diperangi” dengan bekerja keras, dan seterusnya. Tanpa perubahan mental itu, umat Islam –meminjam Abu Hasan Ali al-Nadawi–, akan terus lemah kesadarannya (dha’ifat al-wa’y) untuk bangkit. “Kemajuan” peradaban Barat, misalnya, disebut al-Nadawi justeru karena mereka mempunyai kesadaran yang tinggi (qawiyyat al-wa’y) untuk menjadi bangsa yang maju.

Nabi saw melalui momentum hijrah sesungguhnya telah membangun mental kesadaran kolektif kaum muslimin sebagai umat yang maju. Alquran mengistilahkannya sebagai umat terbaik (khayru ummat) (QS.3:110). Umat Terbaik yang bervisi membawa umat manusia kepada kemajuan, menebar kebaikan, menangkal keburukan, dan berakidah tauhid itu, menjadi ironi kita sandang, manakala kita luput menangkap dan (apalagi) tidak bergerak sejalan spirit kebangkitan momentum hijrah.

This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s