Syarat Tafsir Mawdhui

Dalam kesempatan tanya jawab dengan Guru Besar Tafsir dan Ulumul Quran Universitas Al-Azhar, Mesir, Abdul Hayy al-Farmawiy, penulis menanyakan tentang salah satu syarat penafsiran al-Quran dengan metode mawdhui (metode penafsiran al-Quran dengan mengambil satu topik), yang beliau tulis dalam bukunya, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhui; apakah syarat  penyusunan ayat-ayat al-Quran berdasarkan turunnya berlaku mutlak atau tidak.

Al-Farmawiy menjawab, bahwa syarat penyusunan ayat-ayat al-Quran berdasarkan turunnya tersebut dilakukan menurut kadar kemampuan seseorang. Hasba ‘l-qudrah, tegasnya.  Dengan kata lain tidak mutlak. Namun demikian, tegas al-Farmawiy, cara tersebut sangat penting dilakukan, sebab untuk mengetahui mana ayat yang nasikh dan mansukh, misalnya, tidak dapat dilakukan kecuali dengan cara menyusun ayat-ayat al-Quran secara nuzuli ini; begitu juga dalam hal khas dan ‘am. Meski tidak secara gambalng disebutkan bahwa syarat ini ‘sulit’ dilakukan, al-Farmawi menegaskan bahwa menelaah sebanyak-banyak sumber akan sangat membantu syarat ini dapat dilakukan. Wallahu a’lam.

This entry was posted in Tafsir and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s