Manajemen Muthmainnah

Dalam beberapa kali kesempatan memompa semangat kerja di lingkungan sivitas akademika Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta (FAI UMJ), Prof. Dr. Armai Arief menyampaikan konsep menarik yang diistilahkannya sendiri sebagai Manajemen Muthmainnah (manajemen ketenangan). Konsep Manajemen Muthmainnah, sebagai padanan manajemen kerja modern yang terdiri dari practizing, organizing, actualizing, dan controlling (POAC) ini perlu diketahui dan dibudayakan, tegas Armai, dalam rangka membangun budaya kerja produktif di lingkungan FAI UMJ

Manajemen Muthmainnah tersebut terdiri dari lima prinsip kerja, yaitu :

1. Bekerja Keras; berarti bekerja dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki untuk tidak cepat putus asa ketika menghadapi tantangan kerja. Dengan bekerja keras seseorang akan terbiasa untuk memaksimalkan potensi dirinya yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

2. Beker Cerdas; berarti bekerja dengan penuh ketelitian dan perhitungan; dengan kata lain menggunakan otak. Dengan bekerja cerdas, seseorang akan mencapai hasil kerja maksimal, tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga otot.

3. Bekerja Berkualitas; berarti bekerja melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya; tidak asal-asalan.

4. Bekerja Tuntas; berarti bekerja dengan target waktu, tidak menunda-nuda. Semua pekerjaan selesai pada waktunya, tidak menumpuk.

5. Bekerja Ikhlas; berarti bekerja dengan sepenuh hati, seberat apapun pekerjaan itu. Orientasi kerjanya bukan  semata-mata untuk mencari nafkah untuk dirinya dan keluarganya, tetapi lebih dari itu, diniatkannya dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.Dengan membudayakan lima prinsip kerja ini, memang sangat niscaya bahwa baik seseorang

Dengan membudayakan lima prinsip kerja ini, sangat niscaya produktifitas kerja yang tinggi dapat dihasilkan oleh siapapun. Dalam konteks institusi, misalnya, bila orang-orangnya berproduktifitas tinggi, maka kemajuan intstitusi itu adalah suatu keniscayaan; dan pada gilirannya, ketenangan (muthmainnah) baik individual maupun kolektif, adalah suatu keniscayaan lainnya. Wallahu a’lamu.

This entry was posted in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s