Iman dan Kesucian Jiwa

Salah satu hal penting menyangkut tentang keimanan adalah kesucian jiwa. Keimanan kita kepada Allah, kepada para RasulNya, kepada Hari Akhir, dll., terkait dengan masalah kesucian jiwa ini. Keterkaitan tersebut secara sederhana dapat dikatakan, karena dalam jiwalah keimanan kita bertempat dan bersemayam. Manakala jiwa kita bersih, maka keimanan kita suci bersih pula. Tetapi manakala jiwa kita kotor, dapat dipastikan keimanan kita menurun dan bermasalah. Bukankah air jernih akan kelihatan tetap jernih, jika berada di gelas yang bening dan bersih ? Tetapi sebaliknya, bila dituang ke gelas yang kotor, air jernih tersebut menjadi keruh.

Antara al-Nafs dan al-Ruh

Kata “jiwa” dalam al-Quran disebut dengan kata al-nafs. Tidak kurang al-Qur’an menyebutnya 295 kali, terdiri dari bentuk tunggal, al-nafs, dan jamaknya, anfus dan nufus. Bila di atas dikatakan, bahwa jiwa itu bisa bersih dan bisa kotor, hal tersebut merujuk kepada ayat al-Quran surat al-Muddatsir, ayat 38,

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌ

Tiap-tiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS. 74:38)

(Maksudnya, segala perbuatan kita, entah yang baik atau yang buruk, akan berpengaruh kepada jiwa).

Sementara itu, pembicaraan tentang jiwa dalam khazanah keilmuan Islam, muncul seiring dengan pembicaraan tentang penciptaan manusia. Ketika kita diciptakan oleh Allah, Dia meniupkan ruhNya ke dalam tubuh kita. Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim menyebutkan, setelah 40 hari air mani dan sel telur bertemu dalam rahim, terbentuklah segumpal darah; setelah 40 hari menjadi darah, terbentuklah segumpal daging; dan setelah usia gumpalan daging tersebut 40 hari, ditiupkanlah ruh Allah. Setelah itu, Allah melengkapi manusia ciptaanNya itu dengan indera pendengaran, indera penglihatan, dan hati,

أَلَّذِيْ أَحْسَنَ كُلَّ شَيْئٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ, ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِيْنٍ, ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيْهِ  مِنْ رُوْحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيْلاً مَا تَشْكُرُوْنَ

(Allah)Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya, dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS.32:7-9)

Ruh yang Allah tiupkan ke dalam tubuh kita, pada intinya adalah Sebuah Kekuatan atau Daya dari Allah agar manusia bisa hidup. Bukankah Allah itu al-Hayyu :Yang Maha Hidup ? Dalam hal ini ruh dapat berarti roh atau nyawa, karena dengan bernyawalah kita bisa hidup.

Tetapi kata ruh bisa juga berarti jiwa. Atau tegasnya, jiwa itu adalah ruh. Seorang Sufi besar abad delapan Hijriyah, Syeikh Abd al-Karim al-Jiliy dalam bukunya yang sangat terkenal, Al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awail wa al-Awakhir, sangat tegas sekali menyamakan kata al-ruh dengan al-nafs atau jiwa. Jadi, “jiwa” bisa diartikan dari kata al-nafs dan atau al-ruh.

Mengartikan ruh dengan jiwa, hemat penulis, jauh lebih penting daripada mengartikannya dengan roh atau nyawa, sebab ruh yang Allah tiupkan kepada kita itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya : tumbuhan, hewan, langit, bumi, dsb. Boleh jadi makhluk-makhluk Allah ini bernyawa, tetapi Allah tidak meniupkan ruhNya kepada mereka. Mereka bernyawa, tetapi tidak berjiwa. Sementara manusia, selain bernyawa, juga berjiwa. Inilah kelebihan dan kesempurnaan penciptaan manusia,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS.95:4).

Jiwa Yang Suci

Lepas dari belum diketahuinya hakikat ruh/jiwa karena itu adalah urusan Allah dan karena terbatasnya pengetahuan manusia (QS.17:85), yang penting adalah bahwa kita telah dibekali potensi yang sama oleh Allah, yakni jiwa  yang suci. Dapat ditegaskan, bahwa sejak mula kita diciptakan, kita telah dibekali jiwa yang suci oleh Allah SWT. Di alam ruh dahulu, jiwa yang suci inilah yang menjawab pertanyaan Allah tentang siapa Tuhan sebenarnya,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِيْ ءَادَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هذَا غَافِلِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu)  agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (QS.7:172)

Pengaruh Indera

Surat al-Sajdah yang disinggung di atas, menyebutkan bahwa manusia diberikan oleh Allah indera pendengaran (al-sam’), indera penglihatan (al-abshar), dan hati (al-afidah). Ketiga kelengkapan inderawi inilah yang nyata amat berpengaruh kepada jiwa. Sebagai contoh, bukankah jiwa kita merasa senang manakala mata melihat keindahan, telinga mendengar berita yang menggembirakan, dan hati mengingat pengalaman yang menyenangkan. Sebaliknya, jiwa kita menjadi kosong, hampa dan gusar, manakala seluruh alat inderawi kita mencerap hal-hal buruk seperti pembunuhan, perkosaan, penganiayaan, dll. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jiwa yang suci dan tenang akan dirasakan bila kita berinteraksi dengan segala sesuatu yang baik, sementara jiwa yang kotor dan gelisah disebabkan oleh keburukan-keburukan.

Orang mumin adalah orang yang selalu berusaha memelihara ketenangan dan kesucian jiwanya dengan segala yang baik berupa amal-amal saleh dan ketaatan kepada Allah. Dia selalu menghubungkan dirinya dengan sumber kebaikan, yaitu Allah SWT. Syeikh Abd al-Karim al-Jiliy dalam bukunya di atas mengatakan, bahwa orang-orang yang beramal saleh dan taat ini, tidak lain karena mereka berada dalam sinaran jiwa yang suci. Kata al-Jiliy,

وَلَيْسَتِ الطَّاعَاتُ إِلَّا مُقْتَضَيَاتِ الْأَنْوَارِ الرُّوْحِيَّةِ

Ketaatan-ketaatan itu merupakan tuntutan cahaya jiwa

Orang mumin seperti inilah yang senantiasa disertai Allah dimana dia berada dan kemana dia melangkah. Dalam sebuah Hadis Qudsiy disebutkan,

قَالَ اللهُ تَعَالىَ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلهُ الَّتِيْ يَمْشِي ِبهَا

Kata Allah: Maka bila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran bagi apa yang didengarnya, Aku menjadi penglihatan terhadap apa yang dilihatnya, Aku menjadi tangan dari apa yang dipegangnya, dan aku menjadi kakinya kemana dia melangkah.

Penutup

Akhirnya jelas, bahwa kesucian jiwa adalah buah dari usaha kita untuk terus menerus menyesuaikan, menyelaraskan kesaksian kita di alam ruh bahwa Allah Tuhan kita, dengan segala gerak dan perilaku kita bersama Allah dalam kehidupan dunia ini. Keselarasan antara kesaksian kita di alam ruh dengan perbuatan kita bersama Allah ini adalah kunci memperoleh kesucian jiwa. Sedikit saja, apalagi terus menerus kita meninggalkan Allah, bukan saja jiwa kita menjadi keruh, tetapi juga keimanan kita berada di kualitasnya yang rendah. Bagaimana tidak menjadi keruh dan kotor, satu perbuatan dosa yang kita anggap kecil, dalam pandangan Allah sangatlah besar, tahsabunahu hayyinan wa huwa ‘inda ‘l-Lahi ‘azhim.

Berbahagialah orang yang selalu menjaga kesucian jiwanya, karena perjalanan hidupnya bermula dari ketulusan iman  kepada Allah, dan akhirnya kembali dengan keridhaan Allah SWT. Wallahu a’lam..

This entry was posted in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s