Ukuran Kemuliaan dan Kehinaan

Dalam pengajian bulanan yang diadakan secara bersama oleh Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), pada Jum’at, 7 Mei 2010, Prof. Dr. Qamari Anwar menyampaikan hal menarik tentang ukuran kemuliaan dan kehinaan dalam ajaran Islam. Dengan mengutip surat al-Fajr (89) ayat 15 dan 16, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Prof.Dr. Hamka (UHAMKA) ini mengatakan bahwa dalam Islam ukuran kemulian dan kehinaan bukanlah harta.

Qamari menjelaskan, berdasar kedua ayat tersebut, umumnya manusia beranggapan bahwa mulia dan hina diukur dari harta, baik berupa materi, kekayaan, jabatan, dll; kalau seseorang sedang diberi harta oleh Allah, orang tersebut merasa dimuliakan oleh Allah, sementara jika Allah mengujinya dengan ‘mempersempit’ hartanya, orang tersebut merasa  Allah menghinakannya.

Berbicara di depan sivitas akademika tiga fakultas ini, Qamari menegaskan bahwa seorang muslim, termasuk seluruh anggota Muhammadiyah harus merubah paradigma umum tentang ukuran kemuliaan dan kehinaan yang salah di atas. Menurut Qamari, tiga ayat selanjutnya (17,18, dan 19) justru memberikan pengertian sebenarnya tentang ukuran tersebut kepada umat Islam; yaitu tidak mempedulikan anak yatim, tidak mau memberi makan kepada orang miskin, dan mencintai harta yang berlebihan. Kalau seseorang melakukan salah satu atau ketiga hal tersebut sekaligus, maka orang tersebut, dalam pandangan Islam, adalah hina; tetapi jika ia senantiasa mau mengulurkan tangan kepada anak yatim dan orang miskin, karena didorong oleh kecintaannya kepada harta yang biasa-biasa saja, maka orang tersebut adalah mulia.

Demikian indahnya ajaran Islam. Islam tidak melarang umatnya untuk memiliki harta, karena itu adalah hak individu yang juga dijamin oleh Islam (lihat misalnya QS.28:77), tetapi hendaknya harta tersebut bernilai sosial dengan disalurkan sebagiannya untuk membantu orang-orang yang kekurangan. Wallahu a’lam..

This entry was posted in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s