Kaji Ulang Iman kepada Qadha dan Qadar

Iman kepada Qadha dan Qadar adalah bagian dari rukun iman yang enam. Percaya atau beriman kepada Allah, para MalaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, dan Hari Akhir adalah lima rukun lainnya. Demikian menurut keyakinan Ahlussunnah. Lima rukun ini, biasanya dirujukkan kepada Surat al-Nisa (4), ayat 136; sementara keimanan kepada Qadha dan Qadar didasarkan kepada Hadis Riwayat Muslim.

Istilah iman Qadha-Qadar sendiri sebagai disebut bersamaan (“Qadha-Qadar”) ditemukan dalam banyak literatur akidah. Hemat kami, penyebutan Qadha-Qadar tersebut kurang tepat, oleh karena kandungan pengertian masing-masing. Penyebutan yang dimungkinkan adalah iman kepada Qadar dan Qadha, atau Qadar-Qadha.

Iman kepada Qadar Allah berarti beriman kepada keputusan Allah yang berbentuk pilihan-pilihan baik atau buruk. Hadis riwayat Muslim di atas menegaskan wa tu’minu bi ‘l-qadari khairihi wa syarrihi (Engkau beriman kepada QadarNya yang baik atau buruk). Qadar atau keputusan Allah yang baik atau buruk bagi manusia ini terjadi ketika Malam Laylatul Qadar. Pada Malam Kemuliaan tersebut Allah memberikan keputusan berupa pilihan-pilihan baik dan buruk yang dapat diambil oleh manusia. Allah, misalnya, memutuskan bahwa si A akan sehat, bila dia mengkonsumsi makanan halal, atau tidak makan minum sembarangan, berolahraga, dan lain-lain. Tetapi sebaliknya, si A tadi akan sakit, bila dia makan minum sembarangan, malas berolahraga, mengkonsumsi makanan yang haram, dan lain-lain.

Keputusan Allah dalam bentuk pilihan-pilihan ini, menadakan bahwa Dia sangat bijaksana; amrin hakim, kata al-Qur’an (QS. 44:4). Banyak juga ayat yang menegaskan bahwa Allah tidak akan pernah berbuat zalim kepada hamba-hambaNya (QS. 8:51, 22:10, 41:46, dan 50:29). Hanya memutuskan dengan pilihan buruk, misalnya, tentu keputusan yang tidak bijaksana.

Pilihan-pilihan yang Allah putuskan tersebutlah yang manusia ambil dalam kehidupannya. Bila dia melakukan yang baik, berarti dia meniti Qadar Allah yang baik; tetapi sebaliknya, bila dia melakukan yang buruk, berarti dia meniti Qadar Allah yang buruk.

Saat manusia memilih salah satu pilihan dari dua pilihan tersebut, maka terjadilah keputusan final, atau Qadha Allah.

This entry was posted in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s