Fitrah dan Empat Potensi Ruhani Lainnya

Sebagai diketahui umum, manusia terdiri dari dua unsur : jasmani dan ruhani. Unsur jasmani adalah unsur fisik dimana manusia terdiri dari  sejumlah anggota tubuh seperti kaki, tangan, dll. Unsur jasmani ini ada dan berkembang dari makanan (yang kita makan) yang nyatanya berasal dari tanah. Al-Quran memang ada menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah (QS.32:7, 37:11). Sementara itu unsur ruhani adalah unsur non fisik seperti adanya rasa bahagia, cemas, iman, dsb. Al-Quran menyebutkan bahwa ketika penciptaan manusia sempurna (fisiknya), ditiupkan ruh Allah ke dalam tubuhnya (QS. 15:29). Dari kedua unsur ini, Ibnu Taimiyah dalam Majma al-Fatawa, mengatakan bahwa unsur ruhani lebih penting dari unsur jasmani (unsur fisik hanya akan menjadi jenazah !; sementara keimanan, misalnya, akan menjadi bekal kita menghadap Allah).

Kalau pada unsur jasmani kita dapat menyebutkan banyak potensinya, seperti kaki, tangan, dst., maka unsur ruhani mempunyai lima potensi : akal (al-‘aql), hati (al-qalb), jiwa (al-nafs), ruh (al-ruh), dan fitrah (al-fithrah). Dari lima potensi ruhani ini, potensi fitrah-lah yang sangat penting dibanding empat potensi lainnya. Potensi fitrah menentukan kualitas keempat potensi ruhani lainnya.

Bagaimana membaca perbedaan dari lima potensi ruhani ini ?

Hemat penulis, keempat potensi ruhani selain fitrah di atas, mempunyai potensi positif dan negatif, sementara potensi ruhani senantiasa positif ! Kita ambil dua contoh : akal dan hati. Akal memiliki potensi positifnya bila digunakan untuk memikirkan hal-hal positif seperti –sebagaimana banyak ‘didesak’ oleh al-Quran agar kita suka– memperhatikan betapa alam raya ciptaan Allah ini luar biasa teraturnya (lihat misalnya QS.2:164); tetapi juga bisa berpotensi negatif, jika kita memakai akal untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Begitu juga hati. Hati yang dalam keadaan positif digambarkan al-Quran sebagai hati yang tenang (muthmainnah) (QS. 13:28) dan bertakwa (QS.22:32) dengan melakukan amal-amal saleh. Sebaliknya, hati yang negatif disebutkan sebagai hati yang tertutup menerima petunjuk Allah (QS.2:7).

Lain halnya dengan fitrah yang digambarkan al-Quran pada ayat berikut : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS.30:30).

Surat al-Rum di atas tegas sekali menyebutkan bahwa potensi fitrah adalah potensi agama yang lurus (al-din al-qayyim).Potensi agama ini adalah berupa ketundukan kita yang total kepada Allah (islam) dan semua yang Dia aturkan untuk kita melalui ajaran-ajaran agamaNya. Dalam ajaran Islam, misalnya, jelas sekali mana hal-hal positif yang harus kita ikuti, dan mana hal-hal negatif yang harus kita hindari. Dengan menjalankan ajaran agama sebaik-baiknya, maka potensi fitrah akan mengarahkan akal, hati, jiwa, dan ruh kepada potensi positifnya, jika ia negatif; dan bila keempatnya sudah positif, maka agama akan mengukuhkannya. Sebaliknya, jika seseorang buruk dalam menjalankann ajaran agamanya, maka keempat potensi ruhaninya, selamanya negatif dan buruk.

Wallahua’lamu.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s