Empat Hal dalam Hidup Manusia

Ibnu Taimiyah, dalam kitabnya, Majma’ al-Fatawa, ada menulis hal menarik; menurutnya ada empat hal yang selalu ada dalam hidup manusia, yaitu : pertama, sesuatu itu disukai dan dicari keberadaannya (amrun mahbubun mathlub al-wujud); kedua, sesuatu itu dibenci dan dihindari keberadaannya (amrun makruhun mabghadh al-wujud); ketiga, cara untuk memperoleh sesuatu yang kita sukai  (al-wasilat ila amrin mahbub); keempat, cara untuk menghindar sesuatu yang kita benci (al-wasilatu ila daf’i al-makruh).

Dalam kehidupan ini, empat hal di atas memang nyata dirasakan oleh siapapun. Semua orang ada mempunyai keinginan dalam hidupnya : bahagia, senang, sehat, sukses, dll. Al-Quran, misalnya, menjelaskan bahwa dijadikan indah (baca: diinginkan) dalam kehidupan manusia : wanita, anak, harta benda emas perak, kendaraan, dan hewan ternak (QS.3:14). Semua orang juga tentu tidak menginginkan sesuatu yang buruk dalam kehidupannya. Hanya orang bodoh dan kurang waras yang menginginkan begitu. Bahkan logika akal sehat kita mengatakan, biarlah hal yang kita cita-citakan belum tercapai, asal sesuatu yang buruk tidak menimpa dalam kehidupan kita. Lebih baik kita tidak sakit walaupun uang kembang kempis, misalnya, dibanding uang banyak, tetapi kita sendiri tidak sehat. Kecenderungan menolak yang jelek, lebih kuat dibanding mendapatkan yang enak.

Namun demikian, Allah banyak memberi kita potensi untuk memperoleh yang baik, dan menghindarkan diri dari yang buruk. Potensi insting (hidayah ghariziyah), potensi indera (hidayah hawasiyah), potensi akal, (hidayah aqliyah), bahkan lebih dari itu, potensi agama (hidayah diniyah), adalah media/sarana/cara yang dapat manusia gunakan bila ia mau, untuk meraih kebaikan dalam hidupnya, dan menjauhkan segala yang buruk untuknya. Sebab, sangat mungkin terjadi dalam hidup ini, seseorang menginginkan sesuatu yang ia inginkan (dan itu sah), tetapi caranya salah, tidak benar menurut akal sehat, dan bahkan melanggar rambu agama. Sebuah cara hidup yang salah. Sebaliknya, boleh jadi sesuatu itu benar-benar kita sadari sebagai buruk dan salah, tapi nyatanya  beribu-ribu cara kita gunakan untuk mendapatkannya. Sebuah sisi lain dari cara hidup yang salah.

Yang benar adalah, kita perbesar kemauan dan tekad kita meraih sebanyak-banyak hal baik dalam kehidupan ini dengan caranya yang benar; dan sebaliknya dengan cara yang benar juga kita jauhkan semua hal yang dapat merusak kehidupan kita. Dari sederet alternatif cara, maka ajaran-ajaran agama adalah cara paling efektif dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Wallahu a’lam..



This entry was posted in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s