Habibie tentang Teknologi, Demokrasi, dan Cinta

Kamis, 17 Maret 2011, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, kembali mengadakan acara Lecture Series on Democracy. Kali ini, tokoh yang tampil adalah Bacharuddin Jusuf Habibie (disingkat  Habibie), mantan Presiden Republik Indonesia Ke-Tiga, yang berbicara tentang “Teknologi dan Demokrasi”.

Mengawali kuliah umumnya, Habibie mengatakan bahwa antara teknologi dan demokrasi saling memiliki keterkaitan. Keterkaitan keduanya, menurutnya, karena ada faktor manusia. Tidak ada teknologi, kalau tidak ada manusia; dan tidak ada pemikiran-pemikiran tentang demokrasi, juga bila tidak ada manusia. Soal manusia ini, kemudian menjadi tema sentral seluruh isi perkuliahan BJ Habibie.

Terkait dengan teknologi khususnya, Habibie yang terkenal dengan sebutan Mr.Crack karena berhasil memecahkan teori tentang patahan pada ekor pesawat terbang ini, mengatakan manusia ibarat komputer yang terdiri dari hardware dan software; tubuh berfungsi sebagai hardware, sementara hati, jiwa, akal, dan ruhani, adalah softwarenya. Keduanya tidak bisa “dipisahkan”, meski –tegasnya—perhatian terhadap software ini jauh lebih penting, karena software yang berkualitas tinggi, akan membuat sebuah hardware jauh lebih bernilai (Habibie mencontohkan, seonggok besi dari sebuah mobil mercy bekas, jauh lebih tinggi harganya dari besi sebuah mobil kijang bekas). Pendidikan, tegasnya, adalah sarana paling utama untuk mempertinggi kualitas hati, jiwa, akal, dan ruhani, agar manusia mempunyai nilai tambah bagi dirinya, sehingga nasibnya tidak digantungkan dan tergantung pada orang lain (Habibie menegaskan pentingnya kemandirian sebuah bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti yang menjadi tekadnya ketika beliau dipanggil oleh Pak Harto tahun 1974 untuk membangun dan memajukan dunia teknologi di Indonesia, dan diwujudkannya tahun 1995 ketika berhasil menerbangkan pesawat buatannnya sebagai karya bangsa Indonesia).

Yang sangat menarik dari seluruh isi kuliah Habibie, adalah soal cinta. Awalnya adalah pengantar singkat Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,  yang mengatakan bahwa Habibie dan isteri beliau, almarhumah Ainun Habibie, kini seperti menjadi ikon jalinan cinta kasih muda-mudi.  Habibie dan Ainun, begitulah ikon baru ‘menggantikan’ ikon Romeo dan Juliet, atau Rama dan Sinta, bagi simbol ketinggian dan keluhuran nilai cinta. Habibie memang sangat menekankan pentingnya arti cinta ini. Baginya, cinta adalah semacam simbol-simbol bahasa yang membuat sebuah software komputer berfungsi.  Tanpa simbol bahasa tersebut, tidak ada komputer. Begitu juga bagi manusia. Cinta, kata Habibie, dalam artinya yang sangat luas adalah penggerak dan penghidup jiwa ini; cinta kepada diri sendiri, cinta kepada isteri, anak, keluarga, pekerjaan, dan karena dasar cintalah –demikian pengakuan Habibie– dia menguasai teknologi (yang juga dapat disimpulkan dari ungkapan-ungkapan puitisnya, Habibie sangat mencintai agamaNya, sehingga jelas terlihat beliau adalah seorang ilmuwan yang sangat religius).  Dari sinilah Habibie mengatakan, cinta adalah bagian sangat penting dalam hidup manusia.

This entry was posted in News and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s