Karakter Pribadi Muslim

Jumat, 12 Ramadhan 1432 H, Masjid al-Taqwa Univeristas Muhammadiyah Jakarta menyelenggarakan Kajian Rutin Ramadhan Bada Shalat Jumat dengan narasumber Dr. Abdul Muthi, M.Ed., Sekretaris Pengurus Pusat Muhammadiyah, dengan topik Karakter Pribadi Muslim. Menurut Muthi, puasa adalah  ibadah yang dapat memanusiakan manusia, dalam arti menjadi sarana agar potensi dorongan berbuat positif lebih dominan ketimbang potensi dorongan berbuat negatif. Dia kurang setuju dengan pendapat Mahmud Syaltut yang mengatakan bahwa ibadah puasa dapat menjadikan manusia seperti malaikat yang senantiasa berbuat baik, tanpa sedikitpun berbuat negatif. Manusia, tegas Muthi, justru lebih mulia daripada malaikat, karena dia dikaruniakan oleh Allah daya nafsu yang harus dikendalikan menjadi daya kreatif yang baik. Karena itu, manusia memerlukan bimbingan syariat atau agama dalam rangka mengendalikan nafsunya, menjadi Nafsu Yang Tenang/Terkendali (al-nafsu al-muthmainnah) dari sifat dasar nafsu yang senatiasa mendorong manusia berbuat buruk (QS. 12:53). Kendali atau kontrol terhadap nafsu berbuat negatif, dan sebaliknya memaksimalkan potensi kreatif nafsu untuk berbuat kebaikan ini, menurut Muthi, adalah hakikat takwa yang ditujukan dari ibadah puasa. Muthi kemudian mengelaborasi uraian takwa ini dengan menyebutkan indikator-indikator takwa dari surat al-Baqarah ayat 177 yang juga disebutnya sebagai karakter pribadi muslim; Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya  kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Di bagian akhir, Muthi menegaskan bahwa dari ayat 177 surat al-Baqarah di atas, tegas sekali bahwa ibadah puasa tidak hanya berorientasi individual seperti peningkatan keimanan yang cenderung menjadikan ibadah puasa bersifat ritualistik dan formalistik; tetapi juga sangat berorientasi sosial seperti ajaran berinfak dalam banyak ranahnya : harta, tenaga, fikiran, waktu, ilmu, dll., sehingga orang yang berpuasa bukan hanya berbuat untuk dirinya, tetapi juga beramal bagi orang lain. Wallahua’lam.

This entry was posted in News and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s