Al-Quran dan Penelitian tentang Semut

Dalam suatu kesempatan (kalau tidak salah tahun 2000) pada acara  Bahtsul Masail (Pengkajian Masalah-masalah Keagamaa) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bekasi, kami pernah mengajukan sumbangsih pemikiran dalam forum tanya jawab, betapa al-Quran mendorong umatnya untuk mengadakan penelitian-penelitian dalam rangka menghasilkan ilmu pengetahuan. Al-Quran, tegas kami, banyak membicarakan selain ‘hal-hal besar’ seperti langit, bumi, gunung, lautan, dll., juga hal-hal kecil seperti lalat, lebah, nyamuk, dan semut. Umat Islam memang sedang lengah; yang kecil saja tidak ditelitinya, apatah lagi yang besar-besar, sementara banyak ayat yang mendorong umat Islam untuk berfikir dengan banyak sebutan : apala ta’qilun, apala ya’qilun, apala yalamun, apala tatafakkarun, dll.

Bila China berancang-ancang akan meluncurkan pesawat ulang-aliknya ( Berdasarkan keterangan dari Direktur Hainan Space Center Project Headquarter, Wang Weichang, proyek pembangunan pusat peluncuran pesawat angkasa ini akan rampung pada 2013 mendatang), maka negara-negara Islam (termasuk Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim), harus introspeksi sejauh mana kiprah mereka dalam menghasilkan ilmu pengetahuan melalui penelitian-penelitian ilmiah. Itu China, yang perlu kita contoh, sebagaimana pernah ada spirit berupa perintah Kanjeng Rasul agar umat Islam belajar ke negeri China.

Bagaimana dengan Barat ? Dalam suatu artikel Republika, kami pernah membaca tulisan menarik tentang adanya penelitian seorang ilmuwan Barat tentang semut. Ternyata ilmuwan tersebut terinspirasi oleh keterangan al-Quran tentang semut pada satu-satunya tempat, yaitu ayat 18 Surat Semut (al-Naml); “Hingga apabila mereka (Nabi Sulaiman dan pasukan besarnya) sampai ke lembah semut, berkatalah seekor semut: hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.

Ilmuwan ini terinspirasi oleh seekor semut yang menyeru ‘penduduk’nya di atas, yang  disebut oleh al-Quran dengan kata-kata namlat. Kata (namlat) ini dalam ilmu tata bahasa Arab menunjuk kepada kata benda yang berarti ‘perempuan’, feminim, atau isim muannats, sebagaimana kata muslimat, shaimat, shadiqat yang masing-masing berarti seorang perempuan yang muslim, seorang perempuan berpuasa, dan seorang perempuan yang benar. Berdasarkan petunjuk al-Quran ini, ilmuwan tersebut meneliti seluruh komunitas semut di banyak tempat, dan ternyata luar biasa temuannya; seluruh komunitas semut dipimpin oleh seorang semut perempuan, alias Ratu Semut ! Tentu saja hasil penelitian yang diinspirasi oleh al-Quran ini menjadi di antara khazanah ilmu pengetahuan yang harus diapresiasi tinggi. Subhanallah.

Kita memang perlu menoleh ke kanan dan ke kiri; ke barat, ke China, dan ke mana saja untuk banyak meneliti; dan lebih dari itu, kita harus lebih banyak, lebih sering, dan lebih tekun menoleh kepada al-Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan, agar inspirasnya tentang hal-hal besar dan hal-hal kecil serta kelihatannya sepele seperti seekor semut, tidak terlewati begitu saja karena kelengahan kita.

Di bulan Ramadhan (1432 H) sebagai bulan diturunkannya al-Quran, kesadaran tentang al-Quran sebagai inspirator bagi umat Islam dan bagi dunia ilmu pengetahuan ini, seyogyanya mulai dihidupkan lagi. Wallahu a’lam.

This entry was posted in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s