Revitalisasi Studi Islam dan Rekognisi Studi Sekuler

Dalam kesempatan memberikan pengarahannya kepada mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu, 9 November 2011, Prof. Dr. Dede Rosyada, Direktur Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) yang baru saja terpilih menggantikan Prof. Dr. Machasin, mengatakan bahwa Direktorat DIKTIS Kementerian Agama,  sangat berkepentingan pada penguatan  mutu akademik perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam dalam rangka mengantisipasi semakin besarnya ekspektasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan tinggi Islam. Karena itu, dua hal, menurutnya, yang harus dilakukan : pertama, peningkatan kualifikasi sumber daya manusia, dan kedua, peningkatan layanan kepada mahasiswa.

Yang pertama, tegasnya, adalah mendorong agar para dosen melanjutkan studi lanjut, yang salah satunya dengan pemberian program beasiswa baik untuk jenjang Strata 2, maupun Strata 3  (Beliau menyampaikan, sampai saat ini, ada 332 orang dosen PTAI yang masih Strata 1, dan diwarning pada tahun 2015 tidak diperbolehkan lagi mengajar; sementara jumlah doktor PTAI belum mencapai jumlah 50%; baru 24 % dari komposisi rasio dosen dan mahasiswa). Pada yang kedua,  beliau mengajak agar para dosen meningkatkan layanannya kepada mahasiswa, terutama menyangkut presensi dosen di kelas. Sistem  team teaching, misalnya, dianggapnya sebagai salah satu cara yang baik agar kegiatan perkuliahan di kelas tetap berlangsung, apabila ada di antara dosen yang berhalangan mengajar. Di samping masalah kehadiran, performa mengajar dosen juga harus ditingkatkan, yaitu menyangkut penguasaan materi dan metode mengajar. Peningkatan presensi dan performa mengajar dosen, menurutnya, dapat menumbuhkan gairah belajar yang tinggi pada mahasiswa.

Profesor Dede  juga menyampaikan harapannya kepada para mahasiswa agar terus menggiatkan kajian-kajian keislaman dengan sumbernya yang sangat kaya untuk melahirkan ilmu-ilmu ‘baru’, agar  kontinuitas keilmuan Islam tetap terjaga. Dalam konteks ini, pihaknya mempunyai motto Revitalisasi Studi-studi Islam dan Rekognisi Studistudi Sekuler; Revitaliasi Studi Islam berarti terus memperkuat  riset-riset bermutu dalam bidang pengkajian Islam, sehingga menjadi khasanah keilmuan yang bukan saja diakui secara nasional, tetapi juga internasional. Beliau  juga menghimbau agar para mahasiswa ikut berkontribusi pada upaya memberikan muatan-muatan keislaman (rekognisi) pada ilmu-ilmu sekuler, dalam rangka integrasi keilmuan Islam dan keilmuan sekuler, sebagai sebuah gagasan besar yang terus berproses dan harus dikawal bersama. Para akademisi Muslimlah yang bertanggung jawab dalam upaya rekognisi studi sekuler ini, kata beliau. Wallahu alam.

This entry was posted in News and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s