Kuliah Filologi

Selasa, 15 November 2011, kami mendapat perkuliahan Pendekatan dan Metodologi Studi Islam (PMSI) melalui filologi, oleh Doktor Haji Oman Fathurrahman yang juga Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Menurutnya, filologi  dapat membantu kajian-kajian keislaman, karena objeknya yang berupa sumber-sumber asli berupa manuskrip atau tulisan tangan.

Menurut Oman, kajian keislaman di nusantara sangat terkait dengan disiplin filologi. Naskah-naskah nusantara yang sangat kaya, misalnya,dilahirkan dari tulisan-tulisan tangan para ulama Islam nusantara yang mapan pada abad XVI. Tradisi tulisan tangan ini dimulai pada abad XIV dan ‘berakhir’ dengan tradisi tulisan cetak pada abad XIX. Naskah-naskah nusantara ini sangat kaya meliputi bidang keilmuan yang beragam mencakup tafsir, hadis, tauhid, fikih, tasawuf, kalam, dan lain-lain. Tafsir Marah Labid karangan Syeikh Nawawi al-Bantaniy dan  Tarjuman al-Mustafid karya Syeikh Abdul Rauf bin Ali al-Fansuriy, misalnya, untuk menyebut contoh.

Yang menarik bagi kami adalah, ‘kritik’ (informasi)nya tentang dua istilah yang kerap dipakai secara kurang tepat oleh masyarakat akademik, atau sejarawan khususnya; istilah ashhab al-jawiyyin, yang berarti ‘sahabat-sahabat yang  berasal dari Jawa (menurut Azyumardi, istilah ‘Jawa” mencakup bukan hanya Nusantara, tetapi Asia Tenggara), misalnya, menurut Oman, tidak digunakan. Yang digunakan adalah istilah jama’at min al-jawiyin, yang berarti sekelompok ulama-ulama Jawa (Oman kemudian menampilkan sebuah naskah sebagai bukti).

Begitu juga penyebutan ulama terkenal, Abdul Rauf al-Sinkily; yang ‘sebenarnya’ adalah Abdul Rauf bin Ali al-Jawiy al-Fanshuriy (lagi-lagi Oman menampilkan sebuah naskah sebagai bukti).

Kajian filologi memang sangat penting dalam ranah kajian keislaman, umumnya, dan kajian keislamaan di Nusantara, khususnya. Masih banyak, menurut Oman, yang harus dilakukan; pembuatan ensiklopedi ulama nusantara dan topografi naskah nusantara, misalnya, belum dilakukan. Begitu juga perpustakaan digital naskah-naskah nusantara. Semua ini, tambahnya, justru sudah dilakukan oleh dunia keilmuan Barat, seperti Jerman, Perancis, Belanda, dll. Perguruan Tinggi Islam di Indonesia seperti Univerasitas Islam Negeri (UIN), katanya, harus melakukan itu, bukan saja karena Indonesia sangat kaya akan manuskrip-manuskrip, tetapi juga adanya keharusan untuk menunjukkan local wisdom nusantara kepada dunia. Wallahu a’lam.

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s