Al-Tafsir al-Hadits Karya Muhammad Izzat Darwazah

Salah satu metode penafsiran yang relatif baru adalah penafsiran al-Qur’an berdasarkan kronologi turun surat-suratnya. Metode ini diperkenalkan oleh Muhammad ‘Izzah Darwazah, mufasir asal Palestina, melalui karya tafsirnya, Al-Tafsir al-Hadits: al-Suwar Murattabah Hasba al-Nuzul. Bila karya tafsir konvensional seperti Tafsir al-Thabari, Ibnu Katsir, atau yang kontemporer seperti al-Tafsir al-Munir terikat dalam susunan surat al-Qur’an dalam mushaf, maka kitab al-Tafsir al-Hadits karya Darwazah ini tidak terikat susunan surat tersebut. Karya Tafsir ini justru menjadikan urutan turun surat-surat al-Qur’an sebagai metode dan  karakteristik penafsirannya.

Dilihat dari empat metode penafsiran yang dikenal umum, yaitu metode analitis (tahliliy), global (ijmaliy), komparasi (muqaran), dan tematik (mawdhui), maka metode penafsiran Darwazah dalam al-Tafsir al-Hadits ini, bukan salah satu dari empat metode tersebut. Metode penafsirannya tergolong ‘mazhab baru’ dalam penafsiran karena menjadikan susunan surat al-Quran berdasarkan turunnya sebagai pedoman dalam penafsiran. Tujuan metode Darwazah ini sangat jelas, yaitu dapat menangkap semangat al-Quran dari sejarah kehidupan dakwah Rasulullah SAW yang dapat dibentuk dengan menyusun kronologi surat-surat al-Quran. Bagi Darwazah, seluruh bagian al-Quran (ayat, surat dan juz) saling berhubungan secara berangkai, tematik, dan kronologis.

Namun demikian, dalam penilaian Abdul Majid al-Muhtasib, Darwazah banyak melakukan penafsiran seperti pada metode Tafsir Mawdhui; misalnya ketika ia menafsirkan surat al-Fajr (89) ayat 17, 18, 19 tentang pemuliaan anak yatim, yang diperkuatnya dengan surat al-Nisa (4), ayat 2, 6, dan 10; begitu juga penafsiran Darwazah terhadap surat Fathir (35) ayat 32 tentang tiga golongan orang yang mewarisi al-Quran, yang diperkuat oleh Darwazah dengan surat al-Waqiah (56) ayat 7-11, surat al-Nur (24) ayat 55, dan surat al-Maidah (5) ayat 15-16.

Dilihat dari corak penafsirannya, maka pada umumnya karya-karya tafsir kontemporer (termasuk al-Tafsir al-Hadits), tergolong bercorak al-adabiy al-ijtimaiy, sebagaimana disimpulkan oleh Muhammad Husen al-Dzahabiy. Darwazah sendiri memang sangat konsen terhadap persoalan-persoalan yang terjadi pada umat Islam. Baginya, agama Islam, sebagaimana yang direpresentasikan al-Quran, bukan saja agama yang bersifat ruhani, moral,  dan lokal saja, sebagaimana ada pada agama-agama selainnya, tetapi agama eksistensial (din kiyan), politik (siyasat), organisasional (nizham), kerja (amal), dan real (waqi’).

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s