Puisi Arab dan Penafsiran Al-Quran

Al-Quran dikenal dengan kemukjizatan bahasanya (al-ijaz al-lughawiy). Bahasa dimaksud adalah bahasa Arab, karena ia (al-Quran) diturunkan dalam bahasa Arab,

إنا أنزلناه قرءانا عربيا لعلكم تعقلون

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

        Kemukjizatan al-Quran dari segi bahasa ini, selanjutnya mendorong para ulama untuk menggali kandungan al-Quran, sebab seperti dicatat oleh al-Baqillaniy, bahasa al-Quran itu amat berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya,

Sesungguhnya susunan kata (nazhm) al-Quran menurut tasharrufi wujuhihi dan tabayuni madzahibihi, berbeda dengan susunan kata yang biasa mereka (orang Arab) gunakan. Al-Quran memiliki bentuk kata (uslub) yang khusus dan berbeda dengan bentuk kata bahasa Arab pada umumnya.

Contoh bahwa bahasa al-Quran itu berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya, adalah ditemukannya beberapa kosakata  yang orang Arab tidak langsung mengetahui maknanya (gharib), kecuali sesudah mereka mencari maknanya pada puisi atau syair Arab. Al-Suyuthiy, misalnya, mencatat, kurang lebih 199 kosakata ayat al-Quran yang oleh Ibnu Abbas diartikan melalui puisi Arab. Semua kosakata ini ditanyakan artinya oleh para sahabat kepada Ibnu Abbas dan Ibnu Abbas merujukkannya kepada puisi-puisi para penyair Arab seperti Ubaid, Unturat, Abu Sufyan, Lubaid, Thurfat, dll.  Sebagai contoh adalah kata ‘iziin dalam ayat ,

فمال الذين كفروا قبلك مهطعين (36) عن اليمين وعن الشمال عزين (37)

yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas sebagai halq al-rifaq (حلق الرفاق) berdasar puisi Ubaid berikut :

فجاءوا يهرعون إليه حتى      يكونوا حول منبره عزينا

Kata ‘iziin pada ayat 37 surat al-Maarij di atas berarti berkelompok-kelompok, sebagaimana kata ‘iziin pada puisi Ubaid di atas. Begitu juga kata al-wasilat dalam ayat,

يا أيها الذين ءامنوا  التقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجهدوا في سبيله لعلكم تفلحون

yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas sebagai al-hajat melalui puisi Unturah berikut,

إن الرجال لهم إليك وسيلة      أن يأخذوك نكحلي وتخضبي

Kata wasilah pada ayat 35 surat al-Maidah di atas berarti keperluan, sebagaimana kata wasilah pada puisi Unturat di atas.

Penggunaan puisi Arab oleh Ibnu Abbas ini membuktikan bahwa puisi Arab sudah menjadi metode penafsiran al-Quran sejak masa awal Islam.  Puisi Arab menjadi rujukan dari setiap kata yang mereka tidak mengerti artinya. Ibnu Abbas, seperti dicatat oleh al-Suyuthiy mengatakan puisi Arab itu adalah Diwan al-Arab, apabila terdapat kata dalam al-Quran yang kita tidak mengerti, maka carilah maknanya dalam Diwan tersebut.

Metode puisi Arab dalam rangka untuk menafsirkan al-Quran ini, selanjutnya menjadi metode yang baku dalam menafsirkan al-Quran dan. Sesudah periode pertama (masa Nabi SAW dan sahabat) yang direpresentasikan pada Ibnu Abbas seperti disebutkan di atas, metode puisi Arab ini dapat ditemukan pada periode masa Tabiin, karena masa ini tidak terlepas dari pengaruh sahabat sebagai pendahulu dan guru mereka. Setidaknya dapat dicontohkan dari generasi Tabin yang menjadi murid langsung Ibnu Abbas di Makkah, seperti Said bin Jabir, Mujahid bin Jabr, Ikrimah, Thawus bin Kisan, dan Atha bin Rabah. Said bin Jabir, misalnya, sebagai murid utama Ibnu Abbas dan paling banyak meriwayatkan tafsirnya, dapat dikatakan menggunakan puisi Arab juga dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran, sebagaimana gurunya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s