Orientasi Tertinggi Hidup Mumin

       Dalam suatu kesempatan khutbah Jumat di Masjid al-Taqwa UMJ, 2009, Pelatihan Baitul Arqam FAI UMJ di Depok, 2010, dan Perkuliahan Pascasarjana UMJ, 2012, kami pernah menyampaikan konsep orientasi tertinggi hidup seorang mumin.  Orientasi ini maksudnya adalah sebuah fokus yang harus menjadi perhatian dan kesadaran penuh seorang mumin dalam hidupnya.  Bila orientasi ini berhasil dimiliki, maka seorang mumin dapat dipastikan mendapatkan semua orientasi lain yang ‘kurang lebih tinggi’ daripada orientasi tertinggi tersebut. Dia akan mendapatkan banyak hal yang diinginkan dalam hidupnya, jika

memiliki orientasi tertinggi hidup ini. 

       Baik al-Quran maupun hadis, ternyata keduanya bermuara pada sebuah simpul  yang sama tentang orientasi tertinggi hidup mumin ini. Dalam keperluan merumuskan konsep orientasi ini, dari al-Quran kita akan ambil ayat-ayat tentang keberadaan Allah, sementara dari hadis kita ambil konsep trilogi ajaran Islam. Keterangan al-Quran dan hadis (di bawah) ini, bila diilustrasikan dengan dua gambar segitiga yang  salah satunya digambar terbalik, maka akan ada pertemuan simpul keduanya pada bidang atau sudut yang paling kecil. Pertemuan dua bidang pada sudut terkecil itulah yang kami maksud sebagai orientasi tertinggi tadi.

       Pertama, dari ayat-ayat al-Quran  tentang keberadaan Allah, maka keberadaanNya tersimpul pada tiga kata kunci :

1. Allah di sana 

2. Allah di sini 

3. Allah dalam diri kita

       Keberadaan Allah dalam diri kita, khususnya, adalah orientasi tertinggi hidup seorang mumin. Ayat representatif hal ini adalah ayat 16 surat Qaf;

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَ نحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ 

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

       Keberadaan Allah dalam diri kita, menjadikan Allah senantiasa bersama dan menyertai hidup kita. Dengan disertai oleh Allah, hidup kita senantiasa baik, karena Dia adalah Sumber Kebaikan. Seorang mumin dalam posisi orientasi hidup tertinggi ini, amat dapat dimungkinkan terhindar dari sesuatu yang tidak baik, buruk, dan  tercela. Para nabi dan orang-orang saleh adalah contoh mereka yang sudah b6erhasil memiliki orientasi ini. Sebaliknya, orang-orang yang hidupnya berjarak jauh dan sangat jauh dengan keberadaan Allah di sana, maka meminjam ungkapan al-Quran, fa ma lahu min nur (QS. 24 : 40)orang itu hidupnya gelap tidak ada (petunjuk) cahaya.  Orang-orang ini selalu berbuat keliru. Begitu juga seseorang yang hidupnya sesekali berbuat baik, lalu lain kali dia berbuat tercela, maka kualitas hidupnya, sejatinya belum sepenuhnya disertai oleh Allah, karena baginya Allah hanya di sini (representasi dari dua ‘wakil’ Allah : Malaikat Raqib Pencatat Amal Baik dan Malaikat Atid Pencatat amal Buruk).

       Kedua, dari hadis riwayat Bukhari tentang pengajaran Jibril kepada Rasulullah, dikenal konsep trilogi ajaran Islam sebagai berikut :

1. Islam 

2. Iman 

3. Ihsan

       Konsep Ihsan khususnya, dalam riwayat tersebut didefinisikan sebagai :

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

Ihsan itu adalah engkau mengabdi kepada Allah, seolah-olah engkau melihatNya (dengan mata kepala); Jika engkau tidak melihatNya, (sesungguhnya) Dia melihat engkau.

       Definisi Ihsan di atas menunjukkan bahwa seorang mumin telah mendapatkan orientasi tertinggi dalam hidupnya, jika dia memiliki keyakinan bahwa dirinya senantiasa dalam pengawasan Allah (Yang Maha Gaib), dimanapun dan kapanpun dia berada. Keyakinan ini membuatnya untuk tidak melakukan sekecil-kecilnya kekeliruan dalam pandangan Allah. Seseorang pada tingkat Ihsan, senatiasa terarah hidupnya. Berbeda halnya  jika seseorang berada pada posisi Iman, apalagi Islam.  Dalam tingkat Islam, seseorang amat mungkin hanya menjadikan Islam sebagai label hidupnya, bukan prinsip yang memandu; Islam  hanya sebatas KTP, misalnya. Karena itu orang seperti ini belum benar-benar menjadi seorang Muslim (lihat misalnya QS. 49:14). Akan halnya pada tingkat Iman, yang menurut surat al-Hujurat (49) berada di dalam hati ini, seseorang memang akan terbimbing dalam hidupnya dari berbuat salah; tetapi pada tingkat ini seseorang berada dalam posisi beragama secara formal, dimana kriteria-kriteria Iman –sebagaimana diurai oleh hadis Bukhari, dipenuhinya.  Sekali lagi, formal; keadaan yang kurang lebih tinggi, jika dibanding tingkat Ihsan, yang sudah melawati batas-batas formalitas, tetapi melompat jauh pada sesuatu di balik yang formal. Jika pada tingkat Iman, seseorang beriman pada  adanya Allah yang tidak terlihat oleh mata kepalanya, misalnya, maka pada tingkat Ihsan,  keberadaan Allah itu ‘jelas’ dilihatnya.   

       Kembali kepada ilustrasi dua segita yang salah satunya diposisikan terbalik di atas, maka pertemuan simpul keduanya pada bidang atau sudut yang paling kecil, adalah pertemuan antara konsep Allah yang ada dalam diri kita sebagai tergambar dari ayat-ayat al-Quran, dengan konsep Ihsan sebagai yang tergambar pada hadis. Orang yang Allah telah bersemayam dalam dirinya, PASTI berada tingkat Ihsan; dan sebaliknya, seorang yang sudah mencapai tingkat Ihsan, JELAS merasakan keberadaan Allah dalam dirinya. Itulah orientasi tertinggi hidup yang seyogyanya dicita-citakan dan diupayakan keras oleh setiap mumin untuk mendapatkannya. Wallahu a’lam..

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s