Kajian Islam Komprehensif (KIK)

       Kajian Islam Komprehensif (KIK) adalah salah satu  mata kuliah wajib yang harus diambil oleh setiap mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, baik untuk tingkat master maupun doktor. Bobot mata kuliah ini empat sks. Dua pertemuan pertama kami mengikuti perkuliahan ini,  masing-masing bersama Dr. Fuad Jabali (6/03/12) dan Prof. Dr, Azyumardi Azra (20/03/12), kami mendapatkan kesan tersendiri terhadap mata kuliah ini. Sebuah kesan tentang mata kuliah yang hendak menegaskan pesan sederhana bahwa Islam adalah agama yang mempunyai dua dimensi utuh : dimensi

keilmuan dan dimensi praktis; dimensi gagasan dan dimensi aksi; dimensi ide dan dimensi aktualisasi. 

       Kuliah Fuad Jabali  kentara menekankan pentingnya mengkaji Islam sebagai sebuah agama yang sarat dengan ilmu; dan disiplin ilmu-ilmu Islam (setidaknyan dapat kami sebutkan empat  : fikih, ilmu kalam/teologi, tasawuf, dan filsafat) ini, kata Fuad, saling terkait. Teologi, misalnya terkait dengan fikih, dan sebaliknya fikih terkait dengan teologi. Pada tokoh al-Ghazali yang lebih dikenal sebagai seorang teolog dan filsuf, misalnya, pemikiran-pemikirannya jelas dipengaruhi oleh mazhab fikih Syafii yang dianutnya (Sekedar menyebut contoh, al-Ghazali yang berasal dari Persia itu, secara khusus membahas fikih  Syafii dalam kitabnya al-Wasith dan al-Wajiz). Diakui Fuad, bahwa mata kuliah KIK adalah merupakan kelanjutan dari usaha Harun Nasution dengan buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (dua jilid), yang menurutnya bagus karena menghubungkan berbagai disiplin ilmu, walupun ada kurangnya, karena tidak terbahas  dimensi science di dalamnya.

       Sementara itu, Azyumardi Azra kentara menekankan memahami Islam sebagai sebuah ajaran yang sangat lengkap, yang tidak akan pernah  didapatkan pada sistem ajaran pada agama lain. Semua diatur Islam, termasuk tatacara masuk kamar mandi, kata Azyumardi. Karena itu penting sekali, lanjut Azyumardi, untuk menjalankan semua ajaran Islam; to practice and to experience, tegasnya. Kuliah profesor sejarah UIN Jakarta ini, memang inspiratif; Azyumardi mengajak agar orang Islam memberi contoh pada hal-hal ‘sepele’ : bersedia antri, tidak korupsi, tidak nyerobot ketika lampu merah di jalan, dll (Azyumardi cerita bahwa di Jepang, budaya disiplin di jalan sangat tinggi, sehingga pada tengah malampun, ketika lampu merah di jalan, orang Jepang disiplin tidak nyerobot). Dewasa ini, kata Azyumardi, yang terjadi adalah ironi-ironi; banyak orang mengakui muslim, tapi perilakunya tidak mencerminkan ajaran Islam.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s