Ihsan Filosofinya, Ahsanu ‘Amala Praksisnya

Tiba-tiba terbersit dalam fikiran saya menuliskan judul seperti tertulis di atas. Judul tersebut, bagi saya, lebih dan semakin meneguhkan tentang keterkaitan ajaran Islam satu sama lainnya. Ihsan -dari penjelasan hadis Rasulullah-misalnya, sebuah konsep tentang tingkat tertinggi religiusitas seseorang, karena koneksitasnya dengan Tuhan (Allah) sebagai Sumber Kebaikan (SK), lalu menjadikannya semakin terarah dalam hidupnya (persisnya saya telah tulis di blog ini dengan judul Orientasi Tertinggi Hidup Mumin).

Kata ihsan tersebut, kalau ditelusur akar katanya dalam bahasa Arab, terambil dari kata ahsana yuhsinu ihsanan yang berarti berbuat baik. Lalu dalam bentuk superlatifnya, terambil kata ahsan yang berarti paling baik, atau terbaik. Kata ini dipakai oleh al-Quran, surat al-Mulk ayat 2, dengan kata ahsanu amala, yang lengkapnya berbunyi :

الذي خلق الموت والحيوة ليبلوكم أيكم أحسن عملا

(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapakah yang paling baik/paling bagus amalnya

Hemat saya, ayat 2 surat al-Mulk ini, memiliki pesan praksis; atau dalam bahasa judul tulisan ini, ahsanu amala praksisnya. Rumusan atau kandungan konsep ihsan yang filosofis itu, ternyata memiliki rumusan praksis atau teknisnya dengan (salah satunya) ayat 2 surat al-Mulk ini. Mudahnya begini : seorang mumin yang sudah mencapai taraf ihsan, dapat dipastikan semua perbuatannya akan terbaik, karena dalam proses ‘melahirkan’ yang terbaik itu, dirinya terkoneksi dengan SK; dan sebaliknya, seseorang yang sudah menghasilkan amal terbaik, pastilah berada pada tingkat ihsan, dengan PENJELASAN SEDIKIT, bahwa bilapun yang melakukan amal terbaik itu tidak berlandaskan keimanan (sebutlah misalnya, orang-orang yang belum menjadi mumin), maka koneksinya dengan SK tadi bukan pada wilayah kesadarannya (bahasa hadis ‘seolah-olah engkau melihat Allah’ — kaannaka tarahu–yang menjadikan engkau terinspirasi langsung olehNya), tetapi pada wilayah -sebutlah-non kesadaran (bahasa hadis ‘andaipun engkau tidak melihat Allah, maka sesungguhnya  Dia melihatmu’– fa in lam takun taraahu fa innahu yaraaka–yang menjadikan Dia menginspirasimu tanpa engkau sadari). Wallahu a’lamu.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s