Dzul Qarnain, Alexander, dan Cyrus

Dalam perjalanan dari kota Isfahan menuju kota Shiraz, Rabu, 23 Mei 2012, rombongan Tim Studi Budaya Iran, berkunjung ke makam Cyrus, seorang kaisar legendaris Persia dari Dinasti Achaemenian yang paling terkenal. Cyrus –atau orang Iran menyebutnya Koroush–berkuasa sekitar tahun 500-an SM. Makam Cyrus terletak di kawasan Morghab. Makam besar itu terdiri atas ruangan atau bilik segi empat yang dibangun di atas anjungan artistik bertingkat enam. Tinggi ruangan sekitar tiga meter dan di situ terdapat dua makam : makam Cyrus dan makam permaisurinya, Kasandan. Dua makam ini dipertemukan oleh koridor sempit sepanjang satu meter dan lebar 35 sentimeter.

Yang menarik adalah diskusi ketokohan Cyrus dikaitkan dengan dua nama besar lainnya, yaitu Dzul Qarnain dan Alexander. Cyrus dan Alexander biasa disebut Cyrus The Great dan Alexander The Great; The Great berarti Yang Agung. Kedua nama terakhir ini, kerap disebut sebagai Dzul Qarnain yang nama dan kisahnya diabadikan dalam al-Quran surat al-Kahfi (18) ayat 83-98. Siapa sebenarnya Dzul Qarnain itu ?

Inti Kandungan Ayat

Sebelum mendiskusikan ketiga tokoh besar di atas, ada baiknya disimak inti kandungan ayat 83-98 tersebut sebagai berikut : Dzul Qarnain adalah raja yang baik dan adil; mendapat petunjuk dari Allah; wilayah kekuasaannya sangat luas; dalam ekspansinya ke bagian barat, Dzul Qarnain sampai ke sebuah tempat (al-Quran tidak menjelaskan namanya, dan karenanya kata Sayyid Quthb, pendapat tentang nama tempat itu tidak ada dasar yang sahih) di mana dia berkata kepada penduduknya tentang balasan buruk orang yang ingkar, dan balasan baik bagi orang yang saleh; dalam ekspansinya ke wilayah timur, Dzul Qarnain sampai ke sebuah tempat di mana penduduknya telanjang tidak berbusana; dan dalam ekspansinya yang lain, Dzul Qarnain sampai ke sebuah tempat di mana ia menolong penduduknya dari serangan bangsa perusak Yajuj dan Majuj dengan membuat sebuah dinding raksasa sebagai benteng perlindungan. Di akhir uraiannya tentang kisah Dzul Qarnain ini, Sayyid Quthb menulis : “(Tokoh Dzul Qarnain) ini adalah contoh seorang pemimpin yang baik, tidak angkuh dan tidak congkak. Dia tidak menjadikan wilayah dan orang yang ditaklukkannya sebagai objek eksploitasi, tetapi justru membuat kemaslahatan-kemaslahatan”.

Pendapat Ahli

Para ahli tafsir memang berbeda pendapat tentang siapa tokoh Dzul Qarnain ini. Ibnu Asyur, misalnya, mencatat tiga pendapat : pertama, Alexander The Great, kedua, Tubba’ Abu Kurb (salah seorang raja Himyar), dan ketiga, Afridun bin Atsfiyan bin Jamsyid (salah seorang raja Persia) yang dipilih oleh Ibnu Asyur sebagai pendapat yang paling mendekati. Mufasir lain, al-Alusi, mengatakan bahwa buku-buku sejarah mencatat bahwa tokoh yang wilayah kekuasaannya seperti digambarkan al-Quran, tidak lain kecuali Alexander Agung. Sementara menurut Sayyid Quthb, Alexander bukanlah Dzul Qarnain yang dimaksudkan oleh al-Quran, karena Alexander adalah seorang musyrik (watsaniy). Dengan merujuk pendapat Abu Rayhan al-Biruni dalam bukunya al-Atsar al-Baqiyah ‘an al-Qurun al-Khaliyah (Jejak-jejak Tersisa dari Sejarah Masa Lampau), Sayyid Quthb berpendapat bahwa Dzul Qarnain adalah seorang raja Himyar bernama Abu Bakar bin Ifriqasy dengan alasan kebiasaan raja-raja Himyar menyebut nama mereka dengan tambahan kata Dzu atau Dzi. Tapi cepat juga Sayyid Quthb menambahkan bahwa amat mungkin ini yang benar, meski tidak ada alat untuk membuktikannya. Tidak mungkin, tambahnya, mengkaji sejarah seorang Dzul Qarnain yang diceritakan oleh al-Quran secara sekilas  itu.

‘Mengoreksi’ Alexander

Betapapun beragamnya pendapat tentang siapa sebenarnya tokoh Dzul Qarnain, pengaitannya kepada nama tokoh tertentu memang lebih baik tidak melampaui batas yang digariskan al-Quran. Al-Quran tidak menyebut nama, dan hanya menyebut julukannya, Dzul Qarnain yang berarti yang mempunyai dua tanduk. Namun demikian, upaya mengambil pendapat yang dianggap paling ‘mendekati’ bukanlah suatu yang salah. Kami sendiri, misalnya, sering –tanpa ketelitian sebelumnya—sering menyampaikan pendapat yang mengatakan bahwa Dzul Qarnain adalah Alexander Agung dari Macedonia Yunani itu. Momentum kunjungan ke makam Cyrus, memberikan kesadaran bahwa pendapat ini perlu dikoreksi. Bukan saja merujuk pendapat Sayyid Quthb yang menolak pengaitan Dzul Qarnain dengan Alexander, tetapi juga merujuk sebuah buku yang ditulis oleh Dina Y Sulaeman, Journey to Iran : Bukan Jalan-jalan Biasa yang ada mengutip pendapat Will Durant, sejarawan terkenal dunia dalam bukunya yang fenomenal , Sejarah Peradaban, bahwa saat menginvasi Shiraz, Alexander seperti kehilangan akalnya dan kota indah tersebut telah dibakar sampai rata dengan tanah. Tentara Alexander juga mendatangi rumah-rumah rakyat dan merampas harta benda mereka (hal. 222). Bukan hanya itu, film Alexander The Great, mengukuhkan keraguan Dina tentang keagungan Alexander. Dalam film ini (kami juga pernah menyaksikan penayangannya di sebuah stasiun televisi dan dapat mengkonfirmasi keraguan Dina ini), digambarkan betapa Alexander memang adalah kaisar yang kuat, tegas, dan cerdik, tapi dia digambarkan punya akhlak buruk : homoseks. Sosok seperti ini umumnya akan tetap diakui oleh Barat sebagai orang besar. Tidak sedikit pemimpin Barat yang terjerat kasus-kasus amoral, akan tetapi mereka tetap dipuja dan diagungkan. Hanya saja, Islam punya kriteria moral yang sangat ketat untuk menetapkan keagungan seorang tokoh sejarah. Saya yakin, tegas Dina, jika penggambaran pribadi Alexander dalam film itu memiliki landasan sejarah yang kuat, ia bukanlah Dzul Qarnain yang disebut dalam al-Quran, kaisar bijak yang membangun dinding dari besi baja untuk menolong kaum lemah dari kejahatan Yajuj dan Majuj. Tidak mungkin kaisar homo akan dicatat oleh al-Quran sebagai orang agung (hal. 222-223)

Cyrus ?

Lantas, kembali mengutip Dina, kalau bukan Alexander, apakah Dzul Qarnain itu adalah Cyrus, sebagaimana yang dikatakan seorang ustad tafsir al-Quran di Iran ? Saya juga tidak tahu, jawabnya. Yang jelas, tambahnya, salah satu ciri khas para raja kuno Iran –sebagaimana yang bisa dilihat dari relief yang dipahatkan di berbagai prasasti dan peninggalan bersejarah Iran lainnya- adalah, mereka menggunakan mahkota yang berbentuk topi bertanduk dua (hal. 223). Wallahu a’lam.

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s