Spirit Hari Akhir

Jumat, 16 Juni 2012, saya berkesempatan menggantikan tugas khutbah seorang ustadz di Masjid al-Taqwa, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sudah agak lama saya berkeinginan mengangkat tema tentang Hari Akhir atau Hari Kiamat sebagai spirit perilaku beragama karena sangat pentingnya, dan akhirnya hari itu bisa.

Yang pertama, saya menyatakan bahwa ajaran tentang Hari Akhir adalah salah satu ajaran sentral dalam Islam. Bukan posisinya pada urut kelima yang biasa dikenal pada Rukun Iman menurut kalangan Ahlus Sunnah, tetapi karena penggandengannya oleh al-Quran terkait dengan ajaran sentral lainnya : iman kepada Allah. Ungkapan iman kepada Allah dalam al-Quran, seringkali digandengkan dengan iman kepada Hari Akhir. Ada 23 ayat dalam delapan surat al-Quran menyatakan seperti itu (lihat misalnya QS.2: 8, QS.3:114, dan QS.4:38). Pada hadis juga didapatkan data penggandengan iman kepada Allah dengan Hari Akhir ini. Misalnya dalam konteks hadis tentang berbuat baik kepada tetangga, menghormati tamu, dan berkata-kata baik (HR. Bukhari dan Muslim). Yang kedua, saya mengatakan bahwa dalam potret sejarah dakwah Rasulullah SAW, orientasi dakwah beliau pada periode Makkah, khususnya, adalah memancangkan pondasi iman kepada dua ajaran sentral ini. Periode Makkah adalah periode dakwah Rasulullah dalam menancapkan landasan akidah yang (harus) kuat, untuk ‘bangunan rumah’ Islam dengan tata aturan hukum sebagaimana menjadi orientasi dakwah beliau pada Periode Madinah. Dalam kaitan dakwah di Makkah ini, salah satu bentuk masyarakat yang dihadapi oleh Rasulullah adalah kaum yang mengingkari Hari Akhir. Mereka disebut kaum Dahriyyin, atau kaum yang berfaham bahwa kehidupan itu hanya di dunia dan akan habis seiring habisnya waktu (al-dahr) (lihat satu-satunya ayat tentang kaum Dahriyyin ini pada QS.45:24)

Yang ketiga, saya menginformasikan bahwa al-Quran banyak menyebut istilah tentang Hari Akhir ini, di antaranya adalah yaum al-qiyamah dan yaum taqum al-sa’ah yang biasa diterjemahkan dengan Hari Kiamat (guru kami al-marhum Muhammad Nabhan Husein pernah meneliti istilah-istilah yang dipakai oleh al-Quran dalam menerangkan Hari Akhir dan peristiwa-peristiwanya ini, dan berkesimpulan ada 50-an lebih istilah tentang Hari Kiamat). Dalam konteks informasi al-Quran tentang Hari Akhir ini, yang menarik adalah pemakaian kata al-Naba yang berarti Berita Besar. Kata al-Naba merujuk kepada nama surat ke-78 al-Quran. Berita besar dimaksud adalah Hari Kiamat.

Yang keempat, saya mengajukan pertanyaan : kalau Hari Akhir atau Hari Kiamat adalah sebuah berita besar, berita besar apanya ? Apa maknanya bagi kita ? Di sini saya mengajukan dua jawaban : pertama, besar kejadian atau peristiwa terjadinya kiamat itu. Bumi hancur, langit terbelah, air laut dihamburkan, gunung-gunung seperti kapas beterbangan, benda-benda langit saling bertabrakan, dll. Dahsyat. Hebat. Naudzubillah kita mengalami Hari Akhir itu. Kedua, besar manfaat menjadikannya sebagai pelajaran untuk perbaikan amal kita di dunia. Bahwa hidup ini tidak selesai hanya di dunia. Ada pertanggungjawaban dari setiap langkah kaki, setiap ayunan tangan, setiap ucapan mulut, dst. Boleh jadi suatu perbuatan (baik/buruk) kita pandang kecil, tetapi ia akan menjadi Berita Besar di Hari Akhir karena tercatat di Buku Catatan Amal (BCA) nanti. La yughadiru shagirata wa la kabiratan illa ahshaha, kata al-Quran (QS.18: 49); BCA ini tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.

Dalam maknanya yang kedua sebagai besar manfaat mengingatnya ini, menarik dicatat bahwa al-Quran menggunakan kata yunabbiukum, yang berarti Dia (Allah) akan memberitahu kamu (di Hari Akhir) tentang yang kamu perselisihkan (QS.5:48, QS.6:104; QS.) dan yang kamu lakukan (QS. 5:105, QS.6:60, QS.9:94,105, QS.39:7, QS.62:8) di dunia. Kata yunabbiu ini, terambil dari nabbaa yang berarti memberi kabar berita, atau al-naba yang berarti berita besar sebagaimana tersebut di atas. Karena semua perbuatan kita, baik yang kecil apalagi yang besar, akan menjadi berita besar (bagi Allah dan manusia) di Hari Akhir kelak, sudah sepantasnya, kita menjadikan iman kepada Hari Akhir ini sebagai spirit untuk senantiasa introspektif dan mawas diri dari melakukan kekeliruan-kekeliruan. Kita berupaya sekuat mungkin tidak melakukan kekeliruan besar, juga yang kecil, karena kalian kira sesuatu (yang kecil) itu sepele, sementara dalam pandangan Allah sangat besar (QS.24:15). Wallahu a’lam.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s