Parsepolis Yang Membisu dan Umar bin Khatthab

Ketika berkunjung ke reruntuhan istana Parsepolis, Shiraz, Iran, Mei 2012, Lelila Javid, seorang guide kami menjelaskan “The soldiers of Umar came to and destroyed this palace”. Sesudah kami pulang ke Indonesia, penjelasan guide ini membuahkan ide tulisan tentang penaklukan Persia (Iran) oleh kaum muslimin di masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatthab, dengan judul seperti tertulis di atas. Judul tulisan ini lumayan lama “membatu” tersimpan dalam benak dan tak menghasilkan uraian apa-apa, hingga penayangan film “Omar” (Umar bin Khatthab) di MNC TV, setiap hari menjelang sahur di bulan Ramadhan ini. Film berdurasi kurang lebih satu jam ini sangat inspiratif, mencerahkan, dan akhirnya “memaksa” saya memecahkan batu kebekuan menulis.  Ketika menyaksikan episode ke-24 tentang awal penaklukan Persia, tulisan ini dibuat.

Pada masa Umar, wilayah Islam sudah sangat luas. Sebelum Rasulullah SAW wafat pada tahun 632 M, misalnya, seluruh Semenanjung Arabia telah tunduk di bawah kekuasaan Islam; sementara usaha-usaha ekspansi ke (baca: PENGISLAMAN) luar Arabia, dilakukan pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan dilanjutkan pada masa Umar. Harun Nasution mencatat, kekuasaan Islam di bawah khalifah Umar, telah meliputi selain Semenanjung Arabia, Palestina, Syam (Suriah), Irak, Persia, dan Mesir.

Ketika menaklukan Persia, Umar menugaskan Saad bin Abi Waqqas (yang kemudian jatuh sakit dan tetap mengatur strategi peperangan), sementara Persia dipimpin oleh panglima legendarisnya, Rustum, dengan kekuatan penuh. Kedua pasukan bertemu di daerah Qadisiyyah (Irak, yang ketika itu masuk dalam kekuasaan Persia) pada tahun 637 M.  Pertempuran dimenangkan oleh kaum muslimin. Menurut Michael H Heart yang menempatkan Umar pada urut ke-51 seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia, kemenangan kaum muslimin dalam perang Qadissiyah ini merupakan  kunci kemenangan Arab atas Persia; dan dalam penyerbuan langsung ke Persia, dalam pertempuran Nehavend tahun 642 M, kaum muslimin secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar pada tahun 644 M, sebagian besar daerah barat Persia sudah terkuasai sepenuhnya. Sementara sesudah kewafatan Umar, bagian timur Persia dengan cepat dapat ditaklukan.

Meski muncul pendapat yang mengatakan ada “permusuhan” bangsa Persia atas bangsa Arab, dari penaklukan Persia ini, Cendekiawan Iran, Murtadha Mutthahari, dalam bukunya al-Islam wa Iran, mengatakan bahwa penaklukan Persia oleh Islam pada masa kekhalifahan Umar, disebutnya sebagai bad’u islam al-furs, permulaan Islam di Iran,dan menjadikan masyarakat Iran berbondong-bondong masuk kepada agama Allah ini dengan sukacita.

Sangat boleh jadi, tentara Islam mendatangi dan menghancurkan istana Parsepolis yang  menjadi simbol kejayaan kerajaan Persia itu. Sebuah peristiwa politik yang tidak mungkin terjadi kecuali atas rencana Allah SWT. Istana yang membisu itu kini hanya merupakan puing-puing batu berserakan dan menjadi saksi sejarah masa lalu bangsa Persia, yang faktanya dahulu beragama Majusi Pemuja Api itu. Kini bangsa yang besar dan berkebudayaan tua itu berada dalam “pelukan hangat” Islam.

Wallahu a’lam..

Beberapa sumber :

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid I (2008)

Murtadha Mutthahari, Al-Islam wa Iran (1997)

Michael H. Hart, The 100, a Ranking of The Most Influential Persons in History (1978)

This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s