Filosofi Ketupat Idul Fitri

Ketupat yang secara lahiriyah biasa menjadi makanan ciri khas tiap kali perayaan Idul Fitri sesudah ibadah puasa Ramadhan, memiliki makna filosofis yang dalam. Demikian yang dapat disimpulkan dari khutbah Jumat yang disampaikan oleh Buya Wirman Yusar, Pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pada 31 Maret 2012 (13 Syawal 1433), di Masjid al-Taqwa  Universitas Muhammadiyah Jakarta. Menurutnya, ada lima makna yang terkandung dari simbol makanan ketupat tersebut. Kelima makna ini seyogyanya tercermin dalam kehidupan pribadi setiap muslim. Pertama, ketupat itu padat isinya; ini menandakan bahwa seorang muslim harus bertambah padat keberagamaannya sesudah bulan Ramadhan yang telah “mendidiknya” dengan beragam aktivitas keberagamaan baik secara individual, seperti shalat tarawih, tadarrus, maupun sosial seperti berinfak, bersedekah, berzakat. Perjuangan dalam memadatkan keberagamaan ini, sesungguhnya tidak terhenti dengan berakhirnya Ramadhan, tetapi terus berlangsung pada 11 bulan sesudahnya. Ibadah dalam dimensi individual dan ranah sosial dalam 11 bulan ini, semakin bertambah baik secara kuantitas, maupun kualitas.

Kedua, ketupat itu saling terjalin janurnya; ini memberikan hikmah urgensinya prinsip kebersamaan, solidaritas, dan kesadaran sebagai sebuah entitias umat yang satu dan utuh. Prinsip ini bertentangan 180 derajat dengan sikap ingin menang sendiri karena pemahaman keagamaan yang sempit. Kasus bentrok tragis dan sadis antara Sunni dan Syiah di Sampang, Madura, yang terjadi belakangan, (ke depan seharusnya) menyadarkan pentingnya sikap saling memahami betapapun ada perbedaan antara keduanya. Mendahulukan adanya kesamaan, dan bukan menonjolkan perbedaan, meniscayakan keterjalinan antar umat supaya kuat “seperti” ketupat.

Ketiga, membuat ketupat itu membutuhkan ketekunan. Ini mengajarkan segala sesuatu memerlukan proses, tidak sekaligus jadi. Almarhum Nurcholish Madjid, kutip Buya, mengatakan bahwa firman Allah kun fa yakun dalam ayat 82 surat Yasin (36), khususnya pada kata yakun yang merupakan bentuk kata kerjasekarang dan yang akan datang (fi’l mudhari) itu, mengajarkan tentang adanya proses menjadi sesuatu. Beliau mencontohkan bahwa menjadi orang yang bertakwa dan berilmu itu perlu proses, tidak bisa sim sa labim. Kesadaran adanya hukum proses ini, menjadikan umat Islam terus berusaha dan berupayah keras menjadi umat yang terbaik.

Keempat, ketupat itu mengajarkan “merasa diri lepat” (terus terang ketika kami tanya arti kata “lepat” dalam bahasa Indonesia dan hubungan maknanya dengan ketupat, jawaban beliau belum memuaskan; dugaan kami kata “ketupat” dan “lepat” sama memilik suku kata “pat” di akhirnya, dan dimaksudkan untuk sesuatu yang penjelasanya jauh lebih penting dari sekedar menautkan dua kata tersebut), yaitu merasa bersalah jika memang terbukti bersalah. Lepat dalam hal ini berarti “salah” (?). Bersikap merasa masih banyak kesalahan yang dilakukan dalam hidup ini, menjadikan seorang muslim terus melakukan perbaikan dirinya. Perasaan ini sangat penting dimiliki, ketika seseorang diberikan suatu amanah yang berdampak luas kepada khalayak. Bercermin atas kesalahan yang pernah dilakukannya, menjadikan seorang presiden wanita negara Finlandia (?) memilih mundur dari jabatan tersebut, daripada dia mengorbankan rakyat karena dipimpin oleh seorang yang bercacat moral. Demikian beliau mencontohkan.

Kelima, ketupat itu biasanya dihidangkan dengan lauk lainnya, semisal opor ayam, daging, atau bahkan semur tahu atau tempe, dll. Hambar rasanya makan ketupat tanpa lauk lainnya ini. Filosofi ini, mengajarkan bahwa ada seorang pemimpin, ada juga yang dipimpin. Keduanya harus ada dan bekerjasama dalam rangka menghasilkan cita rasa kehidupan berbangsa dan bernegara yang prima. Betapa hambarnya pemimpin yang tidak lagi legitimate di hadapan rakyatnya, karena kata-kata pengarahannya tidak lagi “bertuah”, dan betapa sengsaranya sekelompok rakyat tanpa pemimpin, karena ketiadaan perekatnya.

Wallahu a’lamu

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s