Al-A’raf : antara Penguhuni Surga dan Penghuni Neraka

Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Jakarta (FE UMJ) mengadakan Halal Bihalal, Sabtu, 1 September 2012, sekaligus mengawali kegiatan perkuliahan semester gasal tahun akademik 2012/2013. Hadir sebagai penceramah adalah Ustadz Helmi Hidayat. Ceramah dosen FE UMJ yang juga jebolan salah satu perguruan tinggi di Inggris ini sangat dinamis. Argumentasi-argumentasi al-Quran dan nash-nash Hadisnya membuat kami tercerahkan, dan humor-humor segarnya membuat kami “terhibur”. Yang terang, pesan inti ceramah  satu jam beliau tertancap dalam sanubari peserta (yang bagi saya), yaitu bagaimana kita seyogyanya menjadi komunitas orang-orang saleh melalui media silaturrahim, sebelum kita akhirnya menjadi di antara dua : menjadi penghuni surga atau menjadi penghuni neraka. Para dosen FE UMJ kelihatan hening dan khusyuk mendengarkan hikmah-hikmah penting sang ustaz.

Salah satu hikmah penting tersebut adalah tentang “sebuah tempat” bernama Al-A’raf yang beliau rujuk dari surat ke-tujuh al-Quran : Al-Araf (pentingnya hikmah ini, karena soal al-A’raf ini dipandang penting oleh Allah sendiri sehingga menjadi nama khusus sebuah surat al-Quran!).  Tempat ini, kata beliau, ada di antara penghuni surga dan penghuni neraka. Keterangan tersebut terdapat pada ayat 46 sampai 51, yang lengkap (terjemahnya) sebagai berikut :

46-Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas Al-A’raf (catatan kaki Terjemah Departemen Agama : tempat yang tertinggi di antara surga dan neraka) itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari du golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga : “salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya)

47-Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang zalim itu”.

48-Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan : “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”.

49-(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Kepada orang-orang mumin itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.

50-Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga : “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab : “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,

51-(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami”.

Demikian panjang lebar kisah al-Quran tentang Al-A’raf yang cukup menjadi inspirasi kita untuk akhirnya (sebenarnya) bukan lagi kita memilih di antara dua, tetapi tiga: pertama, menjadi penghuni surgakah; kedua, menjadi orang-orang penghuni surga tetapi ada di atas tempat al-A’rafkah (ustaz Helmi menuliskan ilustrasinya dengan sebuah titik yang dikirinya ada garis panjang para penghuni surga dan di kanannya ditulis menukik curam ke bawah sebagai tempat penghuni neraka) yang terpaksa melihat kengerian-kengerian siksa yang ditimpakan kepada penghuni neraka; dan ketiga, menjadi penghuni neraka yang sesungguhnya.

Kiranya kita sama memilih menjadi orang yang diizinkan Allah tergolong kelompok pertama; dan menjadi orang-orang yang baik atau saleh adalah caranya. Sebab, penghuni surga tidak lain adalah orang-orang saleh seperti para rasul (rusul), para nabi (al-anbiya), dan orang-orang yang mati syahid dalam peperangan demi membela agama Allah (syuhada). Bagi kita yang bukan ketiga orang-orang saleh itu, juga sangat bisa dengan menjadi orang-orang yang baik (shalihin). Dimulai dengan senantiasa menjaga silaturrahim dengan Allah Tuhan Yang Maha Baik, dan  juga bersilaturrahim dengan orang-orang baik di lingkungan kita, pilihan ketiga menjadi penghuni surga sungguh sangat niscaya kita akan raih.

Wallahu a’lam

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s