Taziyah Ke Rumah Ki Ageng

Rabu malam, 16 Januari 2013, pukul 08.00-11.00, kami menghadiri malam taziyah atas wafatnya Ki Ageng Abdul Fattah Wibisono, di rumah beliau, daerah Semanggi, dekat kampus UIN Ciputat. Malam taziyah ini sengaja digelar oleh Keluarga Besar Muhammadiyah, khususnya Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), di mana almarhum adalah Ketua Badan Pelaksana Harian UHAMKA. Acara malam taziyah ini, diadakan menyusul wafatnya almarhum pada Sabtu, 12 Januari 2013, di Rumah Sakit Islam Jakarta, yang kemudian jenazah dibawa langsung oleh keluarga ke kampung halaman beliau, Lamongan, Jawa Timur.

Dalam acara tersebut hadir tokoh-tokoh Muhammadiyah, baik dari Pengurus Pusat seperti Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, Prof. Dr. Agus Suradika, Drs. Husni Thoyar, M.Ag., dll. Tampak juga Rektor UIN Ciputat, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Prof. Agus Suradika,  khususnya, dalam sambutannya atas nama ketua PWM DKI Jakarta, mengatakan bahwa almarhum Ki Ageng adalah tokoh yang sangat bersahaja, namun diakui secara nasional keilmuannya. Almarhum, tegasnya, adalah tokoh yang kerap tampil mewakili Muhammadiyah dalam persoalan penentuan satu Ramadhan dan satu Syawal. Sementara itu Profesor Yunan, dalam testimoninya, mengatakan hal menarik, bahwa sebutan “Ki Ageng” di depan nama alamarhum yang sengaja disematkannya sendiri itu, adalah karena secara silsilah, keturunan keluarga almarhum dapat diurut sampai kepada Jaka Tingkir, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang yang memerintah tahun 1549-1582 dengan nama Hadiwijaya. Jaka Tingkir adalah putra dari Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga (harus dicatat, bahwa guru pertama Jaka Tingkir adalah Sunan Kalijaga).

Sementara itu, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam taushiyahnya mengatakan bahwa peristiwa kematian adalah nasehat yang paling ampuh untuk membimbing seseorang memperbaiki perilakunya. Kematian, katanya, adalah seperti cermin yang dari pantulannya seseorang seharusnya mempersiapkan diri sebaik-baiknya ketika dijemput oleh kematian. Ditegaskannya juga, bahwa peristiwa kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, karena kematian adalah seperti peristiwa “pulang” dari suatu tempat ke tempat asal; pulang kerja, pulang dari suatu acara, dan bahkan pulang kampung, yang semuanya menyenangkan! Sambil mengutip ayat inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Kita adalah milik Allah, dan kepadaNyalah kita akan kembali), guru besar filsafat Islam UIN Ciputat ini mengatakan bahwa kematian adalah peristiwa pulang ke kampung Ilahi, tempat asal kita yang sesungguhnya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s