Pemimpin dan Dua Kriteria Utamanya

Dalam beberapa kali kesempatan bertaushiyah, kami mengulas judul “Pemimpin dan Dua Kriteria Utamanya”. Topik taushiyah dan sekarang menjadi judul tulisan ini lahir dari persepsi kami terhadap semacam kekhasan konsep pemimpin (terutama melalui terminologi “khalifah”) dalam al-Quran; khas karena sesudah kami teliti, al-Quran memang luar biasa dalam keserasian kata dan suratnya, tanasubu ‘l-ayat wa ‘l-suwar, kata Imam al-Biqaiy.  Ada tiga surat penting yang menjadi argumentasi judul tulisan : pertama surat al-Ahzab (33) ayat 72, kedua surat al-Baqarah (2) ayat 30, dan ketiga surat Shad (38) ayat 26.

Dalam surat al-Ahzab disebutkan bahwa Allah SWT telah menawarkan pengembanan suatu amanah kepada langit, bumi, dan gunung, tetapi ketiganya merasa keberatan dengan tugas “maha” besar tersebut, karena mereka khawatir tidak akan mampu menjalankannya; sementara manusia merasa mampu dan akhirnya mengambil alih tugas tersebut. Penghujung ayat, Allah menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat zalim (zhaluum) dan sangat bodoh (jahuul).

Deskripsi ayat ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk pemimpin di antara makhluk lainnya. Manusia, makhluk Allah yang secara fisik dan lahiriyah sangat sangat (sengaja ditulis dua kali) kecil dan lemah, mempunyai keunggulan penciptaan dibanding langit, bumi, dan gunung yang ketiganya dari sudut fisik sangat sangat besar (besarnya atau hebatnya penciptaan langit, misalnya, dapat dibaca pada Q.S. 79 : 27).  Terkait kata amanah (al-amanah),  Fazlur Rahman mengatakan sebagai  misi  untuk menciptakan sebuah tata sosial yang bermoral di atas dunia (Tema-tema Pokok al-Quran, 1980, 28).  Misi ini jelas merupakan misi seorang pemimpin atau menurut bahasa al-Quran, misi seorang khalifah, untuk mewujudkan tata kehidupan manusia yang mencerahkan dan membahagiakan, bukan lingkungan kehidupan yang dipenuhi oleh berbagai problematika kemanusiaan, seperti perang, kekacauan ekonomi, eksploitasi sumber daya alam, penistaan manusia dengan perzinahan, dll seperti yang terjadi dewasa ini.

Namun demikian, ungkapan wa hamalaha al-insan (manusialah yang menanggung tugas amanah kekhalifahan) seperti tertulis dalam surat al-Ahzab ayat 72 itu sendiri, menandakan bahwa ada di antara manusia yang memang mampu menjalankan misi kekhalifahan ini. Merekalah yang tercatat dalam tinta sejarah sebagai pemimpin yang berhasil mewujudkan tata sosial yang mencerahkan di masanya, dan dikenang indah oleh sejarah. Kepemimpinan Rasulullah SAW adalah di antaranya, seperti diakui oleh bahkan ilmuwan-ilmuwan  Barat seperti  Robert N Bellah, Michael Heart, dll. Keberhasilan kepemimpinan Nabi SAW ini jelas karena beliau memang memenuhi dua kriteria utama kepemimpinan ini.

Dua kriteria kepemimpinan ini dinyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 30 yang berbicara tentang kekhalifahan nabiyallah Adam alayh al-salam, dan surat Shad ayat 26 yang menceritakan kekhalifahan nabiyallah Daud alayh al-salam (perlu dicatat, dalam al-Quran, kata khalifah, hanya terdapat pada dua surat ini). Nabi Adam adalah seorang pemimpin yang sangat tinggi ilmunya, sehingga dengan ketinggian ilmunya itu, makhluk semulia malaikatpun rela bersujud memberi penghormatan kepadanya. Sementara Nabi Daud adalah seorang pemimpin yang sangat adil dalam memerintah, sehingga dia mengecam salah seorang rakyatnya yang akan berbuat sewenang-wenang kepada seorang rakyatnya yang lain.

Kriteria berilmu dan bersikap adil inilah yang merupakan “rahasia” konsep kepemimpinan yang berhasil. Al-Quran semacam menegaskan bahwa siapapun yang ingin  atau menjalani tugas sebagai pemimpin, haruslah memenuhi dua kriteria ini. Jika tidak, kepemimpinan tersebut, tidak akan pernah berhasil. Selama-lamanya. Sungguh selama-lamnya, bukan saja karena menurut akal sehat, dua kriteria ini memang logis adanya, tetapi juga karena dua kriteria ini merupakan konsep langsung dari al-Quran yang jelas tidak akan terbantahkan.

Kriteria pertama atau kriteria berilmu mutlak harus dimiliki seorang pemimpin. Bagaimana tidak, sementara dialah yang membawa sejumlah besar orang lain untuk mengikuti kemana dia melangkah. Kalau langkahnya salah karena tidak didasari oleh seperangkat ilmu, maka jelas pemimpin ini hanya membawa dirinya dan orang lain dalam jurang kehancuran. Untuk hal ini, ada contoh menarik dari kepemimpinan para mantan presiden negara muslim, seperti Mesir, Libya, Tunisia, dan termasuk Indonesia yang kita sudah mengetahui bagaimana mereka mengakhiri secara tragis kepemimpinannya. Mengapa? Karena menurut Zaim Saidi (dalam sebuah kolomnya di Harian Republika beberapa tahun yang lalu) mereka memimpin tidak sesuai sunnah Rasulullah SAW. Mereka berkuasa hampir rata-rata 30 tahun, sementara yang dicontohkan oleh Rasul, memimpin itu paling lama 10 tahun dengan merujuk kepemimpinan beliau di Negara Madinah. Kriteria berilmu menjadikan seseorang akan betindak secara terukur, sehingga tidak bias.

Kriteria kedua adalah adil. Adil adalah proporsional. Adil adalah keseimbangan berdasar pertimbangan logika. Bila keadilan tidak ada, maka yang ada bukan tindakan proporsional, tetapi kesewenang-wenangan. Jika keadilan tidak didasarkan pertimbangan logika, maka keseimbangan yang ada adalah dipaksakan.  Sikap pemimpin yang adil jelas ditunjukkan dengan memperlakukan sama semua orang yang dipimpinnya. Di depan hukum, misalnya, Tidak tebang pilih, kata suatu pepatah. Rasulullah pernah bersabda akan memotong tangan puterinya, Fatimah, jika ternyata mencuri. Rasulullah juga ikut menggotong-gotong batu ketika  membangun masjid di Madinah.

Yang menarik dari konsepsi al-Quran tentang kepemimpinan ini adalah bahwa  kriteria berilmu (al-‘ilm) dari surat al-Baqarah, dan kriteria adil (al-‘adl) dari surat Shad ini, masing-masing merupakan kebalikan dari konsep sangat zalim (zhaluum) dan sangat bodoh (jahuul) dalam surat al-Ahzab; berilmu (al-‘ilm) adalah lawan dari kebodohan (al-jahl), dan adil (al-‘adl) adalah lawan dari kezaliman (al-zhulm).  Sebuah keserasian yang luar biasa dalam al-Quran !

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s