Tantangan Ekonomi Abad Kedua Muhammadiyah

Kamis malam Jumat, tanggal 17 Januari 2013, kami mengikuti pengajian bulanan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta. Pengajian diisi oleh Prof. Dr. Bambang Sudibyo, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mantan Menteri Keuangan dan Menteri Pendidikan Nasional itu mengatakan bahwa Indonesia berada dalam arus utama pergeseran pusat gravitasi geo-ekonomi dari Barat ke Asia. Krisis ekonomi Eropa dan Amerika Serikat sejak 2008 , dan juga kiris ekonomi Asia Timur dan Tenggara yang sejak 1980-an terus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia, merupakan bagian dari fenomena pergeseran tersebut. Beberapa data penelitian beliau kutip untuk memperkuat posisi ekonomi Indonesia  dalam arus utama pergeseran tersebut : Kantor Akuntan Price Waterhouse Coopers menyebutkan, tahun 2050 PDB Indonesia akan menjadi terbesar ke-enam di dunia; Menurut Mac Keinsey, tahun 2030, PDB Indonesia akan menjadi terbesar ke-tujuh; sementara menurut Citibank, tahun 2030, PDB Indonesia akan menjadi terbesar ke-7, dan bahkan tahun 2040 terbesar ke-empat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Indonesia, tegas beliau, sedang bertransisi menuju negara kaya ! Seolah hendak mengatakan fenomena pergeseran ini bukan hal aneh, Pa Bambang menguti surat Alu Imran (3) ayat 140 : ..Dan hari-hari itu kami pertukarkan di antara manusia.. .

Menurut Pa Bambang, di abad ke-dua sejak didirikannya, sudah saatnya Muhammadiyah merespon tantangan ekonomi global ini. Agar Muhammadiyah tetap berwibawa dan tetap relevan serta eksis sebagai gerakan dakwah pembaharuan umat, kata beliau, Muhammadiyah harus menjadi kekuatan ekonomi yang esksis. Ethos al-Maun, adalah kekuatan Muhammadiyah dalam gerakan pemberdayaan umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia ini, tambahnya.

Saat ini, kata beliau Muhammadiyah “masih bercap” kekuatan sosial dan dakwah, belum kekuatan ekonomi.  Data-data berikut, menurutnya, tidak cukup membuat Muhammadiyah eksis sebagai kekuatan ekonomi : SD/MI (>2.900), SMP/MTs (>1.700), SMA/MA/SMK (>940), Pondok Pesantren (>63), Perguruan Tinggi (>172), Rumah Sakit/Poliklinik/Klinik Bersalin (>480), Bank Syariah (1 (ekuiti<5%)), Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (26), Baitul Mal wa al-Tamwil (>400), Induk Koperasi BTM (1), Koperasi Syariah (81), Minimart (22), Kedai Pesisir (5), Annual Cash Flows (>15 T), Karyawan (>300.000 orang), dan Pelanggan (> 20.000.000 orang).

Di akhir pengajian, Pa Bambang memberikan kiat-kiat agar Muhammadiyah dapat menjadi kekuatan ekonomi; di antaranya agar amal usaha Muhammadiyah (AUM) sosial yang sudah ada diperbanyak dan diperbesar, AUM dikelola dengan visi ekonomi/bisnis yang profesional  tanpa meninggalkan watak sosialnya, dan AUM pendidikan tinggi dimanfaatkan untuk mencetak sebanyak mungkin para entreprenur. Wallahu alam.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s