Tiga Kunci Untuk Bersikap Istiqamah

Bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijah 1433 H, atau Hari Raya Idul Adha, kami mengikuti sebuah khutbah Jumat di Masjid Baitul Ula, Cirendeu, dengan tema Tiga Kunci Untuk Bersikap Istiqamah. Tema khutbah ini sangat penting didokumentasikan untuk menjadi renungan bersama terkait fenomena kehidupan kebangsaaan kita yang sangat jauh dari sikap-sikap istiqamah. Betapa tidak, fenomena yang menyesakkan dada dari setumpuk persoalan masyarakat kita, seperti korupsi, kolusi, tawuran, jual beli jabatan, dll., membuktikan bahwa hawa nafsu masih jauh lebih kuat mendominasi hidup kita ketimbang hidup beragama secara istiqamah. Menurut Khatib, tiga kunci untuk dapat hidup secara istiqamah tersebut : pertama Al-Quran, kedua; lingkungan, dan ketiga adalah kesabaran.

Pertama, al-Quran. Rujukan ayat sang khatib adalah surat al-Takwir (81) ayat 27-28, Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan lurus. Sikap istiqamah dapat terpelihara jika seseorang berpegang teguh pada al-Quran. Sebab al-Quran memang diturunkan oleh Allah untuk menjadi pedoman bagi umat Islam khususnya, kapan dan di mana saja. Akhlak istiqamah  dengan demikian tumbuh dengan sendirinya bersamaan ketika kita mengamalkan al-Quran. Orang yang sungguh-sungguh mengamalkan al-Quran sudah dapat dipastikan hidup secara istiqamah; Sesungguhnya al-Quran ini memberi pedoman bagi siapa saja yang mau bersikap lebih lurus, demikian bunyi ayat 9 surat al-Isra (17). 

Kedua, lingkungan. Ayatnya surat Hud (11) ayat 112 : Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.  Maksud lingkungan di sini adalah orang-orang yang dinyatakan ayat sebagai beserta kamu. Sebuah sikap atau tindakan, amat boleh jadi tidak merupakan dorongan diri sendiri, melainkan karena faktor orang lain. Dan jika orang-orang di sekitar kita adalah orang-orang saleh, maka sangat besar kemungkinan kita juga akan berbuat hal-hal baik dan isitqamah dalam kebaikan tersebut; tetapi sebaliknya jika  teman-teman kita berperilaku buruk, maka percayalah jangankan istiqamah dalam kebaikan, melangkah untuk berbuat yang baik saja, boleh jadi akan dihalangi.

Ketiga, kesabaran. Kesabaran merupakan sikap mental yang sangat penting dalam menumbuhkan sikap istiqamah. Bahkan dapat dikatakan tidak ada sifat baik apapun yang tumbuh dan berkembang dengan baik, tanpa sikap sabar. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mendefinisikan sabar sebagai mengendalikan diri dari keluh-kesah dan marah-marah (habs al-nafs ‘an al-jaz’a’ wa al-tasakkhuth). Bersikap istiqamah berarti tidak mengeluh kepada Allah dari  sekian banyak kewajiban yang harus ditunaikannya; bersikap istiqamah juga berarti tidak lekas marah-marah, bilapun ada hal-hal yang membuatnya melemah.     

Momentum Hari Raya Kurban adalah saatnya kita mau dan dapat belajar dari sikap istiqamah nabi Ibrahim yang tetap menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan putra beliau, Ismail, meski nyatanya ini adalah ujian semata untuk membuktikan kecintaan kepada Allah adalah di atas semua kecintaan kepada selainNya. Wallahu Alam

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s