Pertemuan Konsep Tawakkal al-Ghazali dan Ibnu Qayyim

Salah satu topik penting menyangkut hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah tentang tawakkal. Hampir di setiap buku rujukan utama disiplin keilmuan tasawuf, khususnya, topik ini dibahas. Seakan ‘tidak pernah’ dapat terjelaskan secara tuntas, atau malah merupakan topik yang tidak akan pernah habis djelaskan, para ulama dari generasi ke genarasi mengupas topik ini. Dan akhirnya, ada kajian menarik antara al-Ghazali dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah ketika keduanya “benar-benar bertemu” konsep ketika membahas topik tawakkal ini. Kami anggap menarik karena keduanya hidup secara terpisah; al-Ghazali hidup di abad lima hijriyah, sementara Ibnu Qayyim yang merupakan murid utama Ibnu Taimiyah itu, hidup pada abad tujuh hijriyah.

Menurut al-Ghazali, dalam Ihya Ulumu ‘l-Din, pokok dari sifat tawakkal adalah ketauhidan kepada Allah. Pokok tauhid, lanjut al-Ghazali, tersimpul dalam lafaz tauhid, la ilaha illa ‘l-Lah wahdahu la syarika lahu lahu ‘l-mulk wa lahu ‘l-hamd yuhyi wa yumit wa huwa ala kulli syayin qadir yang berarti Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Dia Esa tidak ada sekutu. BagiNya kerajaan, dan bagiNya pujian, Dia menghidupkan dan Dia mematikan, Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu. Al-Ghazali memberikan penekanan khusus terhadap ungkapan lahu ‘l-mulk wa lahu ‘l-hamd yang bagi penulis sangat penting; ungkapan lahu ‘l-mulk Anda, tegas al-Ghazali, mengandung pengakuan iman Anda sendiri bahwa Allah SWT itu memiliki kekuasaan (al-qudrah). Sementara ungkapan lahu ‘l-hamd Anda, lanjutnya, mengandung pengakuan iman Anda juga bahwa Allah SWT itu memiliki kemuliaan dan kebijaksanaan (al-juud wa ‘l-hikmah). Orang yang mengucapkan lafaz tauhid ini dan menancapkan secara dominan maknanya di dalam hati, maka orang tersebut sempurna imannya, dan telah menjadi seorang yang bertawakkal. Demikian disimpulkan al-Ghazali.

Sementara itu, Ibnu Qayyim, dalam Madarij al-Salikin, merunut konsep tawakkal dari ayat iyyaKa nabudu wa iyyaKa nastain dalam surat al-Fatihah yang amat sering kita baca itu. Ayat tersebut berarti hanya kepadaMu-lah kami mengabdi, dan hanya kepadaMu-lah kami memohon pertolongan.  Menurutnya, dari ayat ini timbul dua konsep pokok, yaitu istianah dan ibadah. Konsep istianah terambil dari ayat iyyaKa nastain, sementara konsep ibadah terambil dari ayat iyyaKa nabudu. Konsep tawakkal itu tidak lain istianah itu sendiri. Begitu pendapat Ibnu Qayyim.

Lalu, di mana pertemuan konsep al-Ghazali dan Ibnu Qayyim terkait konsep tawakkal itu ?

Kalau kita cermati, maka pertemuan konsep keduanya tertulis dalam redaksi aslinya sebagai berikut :

إياك نعبد=العبادة (إبن قيم)————-,له الحمد= الإيمان بالجود والحكمة (الغزالي

إياك نستعين= الإستعانة (إبن قيم)————–,له الملك= الإيمان بالقدرة (الغزالي

Dari pemetaan di atas tergambar :

1. Jika al-Ghazali mengatakan bahwa sifat tawakkal adalah gabungan dari pengakuan secara dominan dalam hati seseorang tentang keimanannya akan kemahakuasaan Allah dan kemahamuliaanNya, maka dari konsep Ibnu Qayyim kita dapat sebutkan bahwa sifat tawakkal merupakan gabungan kesadaran seorang hamba untuk memohon pertolongan Allah melalui selain ikhtiar optimalnya, juga dengan mempertinggi kualitas ibadahnya.

2. Penghambaan (ibadah) kita kepada Allah bukanlah sesuatu yang asing tanpa alasan, sebab penghambaan tersebut didasarkan oleh kenyataan bahwa Allah itu adalah Tuhan yang penuh dengan sifat kemahasempurnaan, kemahamuliaan, dan kemahabijaksanaan. Tidak ada seorangpun yang mempunyai atribut-atribut setinggi dan seperti itu sehingga pantas dipertuhankan, kecuali Allah swt. Kita mengimani sepenuhnya kemahamuliaan-kemahamuliaan Allah tersebut, dan karenanya kitapun tunduk patuh menghamba kepadaNya.

3. Permohonan (isitianah) kita akan pertolongan Allah dari setiap yang kita cita-citakan, bukan juga hal aneh dan tanpa sebab, karena kita mengimani sepenuhnya bahwa segala sesuatu dimiliki oleh Allah. BagiNya yang ada di langit dan di bumi, sehingga jika Allah mau Dia akan memberikan semua yang kita inginkan, dan sebaliknya, jika Dia tidak berkehendak, sebesar apapun ikhtiar kita, apa yang kita cita-citakan, tidak akan pernah kita dapatkan.

Wacana tentang konsep tawakkal sangat mungkin mempertemukan pemikiran para ulama seperti pada al-Ghazali dan Ibnu Qayyim di atas. Pertemuan konsep tentang tawakkal ini menandakan bahwa jika diteliti dengan seksama, konsep-konsep kunci keilmuan Islam (khususnya di dunia Tasawuf), akan memperlihatkan kekhasan-kekhasannya. Khas karena kemungkinan besar akan terkuak segi-segi yang tidak terduga sebelumnya. Sangat mungkin seorang Ibnu Qayyim yang hidup belakangan membaca pemikiran  al-Ghazali; tetapi mungkin juga tidak, khususnya berkenaan dengan konsep tawakkal ini, namun, kenyataannya keduanya dapat bertemu konsep ketika mengulas topik ini. Kecuali hal tersebut adalah biasa, kita juga dapat mengatakan bahwa pertemuan konsep ini adalah luarbiasa, karena kehebatan konsep tawakkal itu sendiri. Wallahu alam.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s