Ibnu Sina

Hampir satu tahun kurang lebih pengalaman kami menyambangi Iran, khususnya ketika di kota Isfahan guide kami menunjuk sebuah ruangan di sebuah masjid tempat Ibnu Sina mengajar, kami ingin mengabadikan di blog sederhana ini tulisan tentang tokoh besar Ibnu Sina, yang  sepenuhnya merupakan kutipan dari buku Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah, karya M. Natsir Arsyad, terbitan Mizan, 1992.

Ibnu Sina yang lebih dikenal di Barat dengan nama Avicenna mempunyai nama lengkap  Abu Ali al-Huseyn bin Abdullah bin Hasan Ali bin Sina. Menurut Ibnu Khallikan dan al-Qifti serta Bayhaqi, ia lahir pada bulan Shafar 370 H/Agustus 980 M. Menurut Ibnu Abi Ushaybi’ah ia lahir pada tahun 375 H, di desa Afshanah dekat kota Kharmaitan Propinsi Bukhara Afghanistan. Ayahnya tergolong mampu, berasal dari Balkh yang diangkat oleh penguasa Samanish, Nuh II bin Mansyur untuk menduduki jabatan gubernur di sebuah distrik di Bukhara. Pelajaran pertama yang diterimanya pada masa kanak-kanak adalah al-Quran dan sastra yang diberikan secara privat kepadanya. Kendatipun masa belajarnya  pada pendidikan formal berlangsung amat singkat, namun tidak seorangpun menyangsikan ketajaman otaknya yang luar biasa serta daya ingatannya yang amat kuat. Ia mulai belajar pada usia dini, 5 tahun. dan hanya dalam waktu 13 tahun saja, berarti pada usia remaja, 18 tahun, Ibnu Sina telah menguasai seluruh cabang ilmu pengetahuan yang ada pada waktu itu. Ilmu-ilmu agama seperti tafsir, fiqh, perbandingaan agama (ushuluddin), dan sebagainya sudah dikuasainya ketika baru berusia 10 tahun. Setelah itu, ia belajar ilmu hukum, logika, matematika, fisika, politik, kedokteran dan filsafat. Pada masa kecilnya, ia dibimbing dan dididik belajar oleh Abu Abdullah Natili, seorang sahabat karib ayahnya, Abu Bakr al-Khwarizmi dan oleh ayahnya sendiri.

Brilian

Ibnu Sina juga dikenal sebagai otodidak yang amat tekun dan brilian. Ilmu kedokteran, misalnya, ia kuasai dalam waktu hanya satu setengah tahun tanpa bimbingan seorang gurupun. Bahkan menurut Rom Landau, nama Ibnu Sina menjadi masyhur dan mencapai tarap internasional sebagai dokter ahli jauh melebihi dokter-dokter ternama yang ada pada masa itu, seperti misalnya Ali bin Sahl ath-Thabari, Ali bin Abbas al-Majusi dan Abu Bakr Muhammad bin Zakaraiyya ar-Razi.

Tentang ketekunan belajarnya yang luar biasa dapat diketahui misalnya dari kisahnya ketika belajar metafisika. Buku “Metaphysics of Aristotle” dibacanya berulang-ulang hingga 40 kali, karena sulitnya mengerti isi buku tersebut. Namun tanpa mengenal rasa bosan dan lelah, ia membaca terus sampai akhirnya isi buku tersebut dipahaminya ketika membaca buku karangan al-Farabi, “Tentang Tujuan Ilmu Fisika”, yang merupakan komentar atas buku Aristoteles.

Ibnu Sina meninggal di Hamadhan, dalam usia 58 tahun, pada bulan Ramadhan 428 H/1037 M. Ia dimakamkan di sana.  Dan dalam rangka memperingati 1000 tahun hari kelahirannya, (“Fair Millenium”) di Teheran pada tahun 1955 M, dia telah dinobatkan sebagai “Father of Doctors” untuk selama-lamanya, dan di sana telah dibangun sebuah monumen sejarah untuk itu. Kuburannya di Hamadhan dikepung oleh berpuluh-puluh makam para dokter. Mereka tampaknya cukup bangga dapat dikuburkan dalam deretan “Bapak Dokter Islam” itu.

Sebelum meninggal, menurut G.C. Anawati, ia telah mengarang buku sejumlah  kurang lebih 276 buah. Dan ini meliputi pelbagai subyek ilmu pengetahuan seperti filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, musik, syair, teologi, politik, matematika, fisika, kimia, sastra, kosmologi, dan sebagainya.

Seperti dikatakan terdahulu bahwa ilmu tafsir, fiqh, dan sebagainya merupakan cabang ilmu yang pertama kali digelutinya. Namun perlu diketahui bahwa pada waktu itu, ia pun sudah berkenalan dengan ilmu logika dan matematika. Thabathaba’i mengungkapkan bahwa Ibnu Sina pernah belajar pada seorang sarjana ulung Abu Bakr al-Khwarizmi. Bahkan ia membantu gurunya yang telah tua itu untuk menuliskan sebagian isi bukunya. Padahal waktu itu ia masih berusia enam tahun. Salah seorang gurunya yang amat berjasa mengajar ilmu akhlak, fiqh dan tasawuf di masa kecil adalah Ismail az-Zahid.

Menginjak usia 10 tahun, ia sudah mulai terjun ke dunia filsafat hingga pada umur kira-kira 16 tahun. Saat itulah otak encernya mulai tampak. Sering terjadi soal-soal ilmiah yang tidak dapat diselesaikan oleh gurunya, mampu ia pecahkan dengan cara yang mengagumkan. Senjatanya ilmu logika elementer yang telah diperkenalkan kepadanya di usia dini ternyata banyak sekali membantu untuk menggumuli buku-buku Isagoge dari Porphyry, Euclides dan “Almagest”-nya Ptolemaios. Sementara itu, studi mendalam tentang ilmu-ilmu kealaman dan metafisika, terutama ajaran Plato dan Aristoteles, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, tetap berlanjut.

Meski usia 16 tahun, mulailah ia mengelana ke dunia ilmu pengetahuan tanpa bimbingan seorang gurupun. Pada usia ini, ilmu yang pertama kali memancing minatnya adalah kedokteran. Hampir semua buku-buku kedokteran yang ada pada waktu itu ia baca tanpa mengalami kesulitan berarti dalam mencernanya. Kemudian bidang metafisikalah yang tampaknya agak lambat ia dalami, kendati justru di kemudian hari di bidang inilah ia dianggap paling ahli.

Ke Mesjid

Keahliannya dalam banyak bidang ilmu pengetahuan yang jarang tertandingi ini ternyata tidak cukup membuatnya lalai sebagai seorang Muslim yang taat. Tentang hal ini ia sendiri pernah mengungkapkannya : “Setiap aku menyangsikan suatu soal dan tidak mendapatkan batas pengertian yang benar dalam perbandingannya, aku senantiasa ke masjid melakukan shalat, memohon kepada Tuhan hingga terbuka bagiku soal itu dan memecahkannya dengan mudah. Aku pulang ke rumah dan meletakkan lampu di hadapanku, lalu terus membaca dan mengarang. Bila rasa kantuk amat mendesak, atau badanku merasa letih sekali, aku lalu minum secangkir hingga timbul kembali kesegaranku, dan aku teruskan membaca lagi. Tetapi jika kantuk tak tertahankan, aku lalu tidur dan biasanya aku bermimpi tentang soal-soal yang belum selesai dalam pikiranku. Di dalam mimpi itu, kebanyakan soal-soal itu biasanya menjadi terang masalahnya”. Pada bagian lain pernyataannya, ia mengaku : “Aku tetap menjalani pengabdian yang sebaik-baiknya kepada Tuhan”.

sebagai sarjana Islam kaliber internasional, di samping kebesarannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, ia tetap teguh dan menundukkan dirinya kepada Tuhan. Tentang ini, Duncan Mc Donald pernah memberi komentar : “Di samping sebagai pengajar ilmu yang tekun, Ibnu Sina juga pembaca al-Quran dan yakin dalam mengerjakan amal-amal keagamaan”.

Meskipun Ibnu Sina banyak mendapat sorotan, baik pujian dan sanjungan, tak kurang pula yang menilainya sebagai seorang yang misterius. Berbagai macam komentar yang menyudutkan diselipkan dan ditambah-tambahkan dalam kisah hidupnya. Riwayat kehidupannya misalnya, ada yang menganggapnya bagaikan “cerita seribu satu malam” yang dibumbui foya-foya dengan minum anggur, perempuan, serta dibuai oleh nyanyian-nyanyian sensual. Tetapi pada akhirnya Ibnu Sina tetap tegar dalam kebesarannya mengatasi segala sanjungan setinggi langit dan komentar-komentar menyakitkan.

Ensiklopedi Kedokteran Pertama

Pada usia 21, ketika berada di Khwarazm, ia mulai menulis karyanya yang pertama yang berjudul “Al-Majmu” (“Compendium”, ikhtisar) yang memuat berbagai macam ilmu pengetahuan umum yang lengkap. Kemudian ia melanjutkan menulis buku-buku lain. Nama-nama semua buku yang pernah dikarang Ibnu Sina, termasuk yang berbentuk risalah kecil, dimuat dan dihimpun dalam satu buku besar yang berjudul “Essai de Bibliographie Avicenna” yang dibuat oleh seorang Pater Dominican di Kairo. Pada tahun 1950 M buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Liga Arab bagian kebudayaan dengan nama “Muallafat Ibnu Siena” (“Karangan-karangan Ibnu Sina”). Termasuk di dalamnya bukunya yang amat terkenal “Al-Qanun fi ath-Thibb” (“Canon of Medicine”, konstitusi ilmu kedokteran). Buku ini sejak zaman dinasti Han di Cina telah menjadi buku standar karya-karya medis di Cina. Teori-teori anatomi dan fisiologi yang terkandung di dalamnya telah mendasari sebagian besar analogi manusia terhadap negara, dan mikrokosmos (dunia kecil) terhadap alam semesta sebagai makrokosmos (dunia besar). Misalnya digambarkan bahwa surga kahyangan adalah bulat bundar dan bumi adalah persegi, dan dengan demikian kepala itu bulat dan kaki empat persegi. Terdapat 4 musim dan 12 bulan dalam setahun, dengan begitu manusia memiliki 4 tungkai dan lengan (anggota badan) mempunyai 12 tulang sendi. Hati (heart) adalah ‘pangeran”nya tubuh manusia, sementara paru-paru adalah ‘menteri’nya. Lever merupakan ‘jenderal’-nya sang badan, sedang kandung empedu sebagai ‘markas pusat’-nya. Limpa dan perut sebagai ‘lumbung’ sedang usus merupakan sistem komunikasi dan sistem pembuangan.

“Canon of Medicine” memuat pernyataan yang tegas bahwa “darah mengalir secara terus menerus dalam suatu lingkaran dan tak pernah berhenti”. Namun ini belum dapat dianggap sebagai suatu penemuan tentang sirkulasi darah, karena bangsa Cina tidak membedakan antara urat-urat darah halus (veins) dengan pembuluh nadi (arteries). Analogi tersebut di atas hanyalah sebuah analogi yang digambarkan antara gerakan darah dan siklus alam semesta, pergantian musim, dan gerakan-gerakan tubuh tanpa peragaan secara empirik pada keadaan yang sebenarnya.

Sejumlah besar karangan Ibnu Sina juga telah diterjemahkan dalam bahasa Latin dan Hebrew, pada Abad-abad Pertengahan, yang merupakan bahasa-bahasa pengantar ilmu pengetahuan di masa itu, “Qanun fi ath-Thibb”misalnya, yang telah dianggap sebagai “buku suci”nya ilmu kedokteran telah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa an telah menjadi buku yang menguasai dunia pengobatan Eropa selama kurang lebih 500 tahun. Berarti jauh lebih lama dan kebih penting  dibanding buku-buku karangan Galen, seorang ahli kedokteran Yunani yang sudah terkenal lebih dahulu. “Qanun fi ath-Thibb” juga digunakan sebagai buku teks di berbagai universitas di Perancis. Misalnya saja di Sekolah Tinggi Kedokteran Montpellier dan Louvin pada abad ke-17 M. Oleh Prof. Philip K. Hitti, buku tersebut  disebut sebagai “Ensiklopedi Kedokteran”. Pada 30 tahun terakhir dari abad ke-15 M, buku tersebut telah mengalami 15 kali penerbitan versi bahasa Latin dan sekali dalam bahasa Hebrew. Beberapa tahun kemudian barulah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Antara tahun 1150-1187 M, Gerard dan Cremona menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa, Perancis, Spanyol, Hebrew, Itali, dan sebagainya. Dalam abad ke-16 M, buku tersebut telah dicetak ulang berali-kali-lebih dari 21 kali. Penerbitan berpuluh kali ini belum lagi termasuk penerbitan yang hanya mengambil bagian-bagian tertentu dari buku ini, yang jumlahnya tak terhitung lagi. Begitu pula mengenai penerbitan komentar-komentar terhadap materi isinya yang malah lebih banyak lagi jumlahnya. Dan penerbitan ini, baik dalam bentuk salinan langsung, terjemahan, komentar, dan sebagainya, berlangsung terus-menerus sampai aabad ke-18 M.

Perintis Studi Penyakit Saraf

Tentang salah satu petunjuk betapa kuatnya pengaruh buku tersebut, Ohaucer mengingatkan dalam pembukaan “Canterbury Tales” bahwa sejak abad ke-13 M, hingga abad ke-16 M., tak seorang dokter atau penulispun (dalam bidang kedokteran) yang lepas dari pengaruhnya. Teks aslinya dalam bahasa Arab dicetak di Roma pada tahun 1593 M. tak lama stelah adanya percetakan bahasa Arab di sana. Bahkan sampai abad ke-19 M., buku tersebut masih tetap dipergunakan, terutama mengenai penyakit saraf (neurasthenia) di mana Ibnu Sina merupakan perintisnya. Buku tersebut juga mengajarkan metode-metode pembedahan, yang di dalamnya ia menandaskan perlunya sterilisasi  dengan jalan pembersihan luka (disinfection). Di dalamnya, keterangan-keterangan yang ada lebih diperjelas lagi dengan hiasan gambar-gambar dan sketsa-sketsa yang sekaligus menunjukkan pengetahuan anatomi Ibnu Sina yang luas.

Buku laun yang membuat namanya melejit adalah “Asy-Syifa” (The Book of Discovery, buku tentang penemuan). Dalam bahasa Latin dikenal sebagai “Sanatio” atau “Sufficents”, terdiri dari 18 jilid. Naskah aslinya masih tersimpan di Oxford University, London. Buku tersebut merupakan karya maraton yang ditulis dalam waktu puluhan tahun, dari sejak masa remaja sampai menjelang akhir hayatnya. Ia banyak mencakup subyek : logika, fisika, matematika dan metafisika, temasuk pula di dalamnya psikologi, pertanian, kehewanan, retorika, dan syair. Kalau sarjana Jerman, von Gothe diabadikan namanya karena buku “Faust”, sebuah buku cerita roman yang hanya terdiri dari dua jilid yang dikarang selama kurang lebih 60 tahun, maka Ibnu Sina terukir namanya karena “Asy-Syifa” yang jauh lebih tebal (18 jilid) dan berisi segala macam ilmu pengetahuan yang amat luas cakupannya.

sebagai seorang dokter kawakan, ia pernah dijuluki sebagai Medicorum Principal atau ‘Raja Diraja Dokter’, oleh kaum Latin Skolastik. Julukan lain yang pernah diberikan padanya—misalnya—adalah “Raja Obat”. Dalam dunia Islam –malahan—ia dianggap sebagai zenith, puncak tertinggi dalam ilmu kedokteran. Ia mulai terjun ke lapangan sebagai dokter praktek ketika baru menginjak usia remaja, 18 tahun. Kendatipun masih sangat muda, namun saat itu ia berhasil mengobati penyakit yang diderita oleh Sultan Nuh II bin Mansur di Bukhara pada tahun 387 H/997 M. Padahal waktu itu penyakit Sultan sudah tergolong parah dan dokter-dokter lain bahkan hampir putus asa. Tapi berkat pertolongannya, Sultan menjadi sehat kembali. Sejak itulah ia diangkat menjadi dokter pribadi di istana Sultan. Pembesar-pembesar negara yang pernah mengundangnya untuk memberi pengobatan, selain Sultan Nuh II, antara lain adalah Ratu Sayyidah dan Sultan Majdud di Rayy, Amir Syamsul Ma’ali dari Thabaristan, Sultan Syamsu Dawla di Hamadhan, serta Sultan ‘Alaud Dawla di Isfahan.

Penemuan –penemuan Baru

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s