Menyoal Hadits-Hadits Populer

Judul tulisan di atas adalah sebuah judul buku yang selengkapnya tertulis : “Menyoal Hadits-Hadits Populer : Upaya Mengenali Sunnah yang Benar Bukan yang Terkenal”, (212 halaman), terbitan Quantum Adi Karya, 2012, yang kami terima dari penulisnya, rekan kami, Adi Hidayat, staf pengajar Bahasa Arab di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta, pada Senin, 12 April 2012. Ini adalah kali kedua Pa Adi, begitu kami memanggilnya, menghibahkan karya akademiknya kepada fakultas, setelah sebelumnya kami menerima karya beliau, Makna Ayat Puasa : Mengenal Kedalaman Bahasa Al-Quran (terbit 2012).Membaca secara cepat beberapa bagian dari kedua karyanya ini, saya berkesan Pa Adi sangat apik menggores kata demi kata, sehingga tulisannya enak dibaca. Dan, puitis juga. Enak. Kemampuannya menghasilkan karya buku tentang Hadis dalam satu bulan (hal. 5 dan 9) demi merespon cepat kedahagaan wawasan jamaah pengajiannya tentang status hadis-hadis yang populer, patut diapresiasi siapapun. Sebuah aktivitas menulis yang (saya dapat kuat menduga ) Pa Adi pasti sangat menikmatinya, lebih-lebih didorongkan oleh bahwa..”Tulisan ini lahir bernafas cinta Rabbani (ku kepada Allah) dan rindu Nabawi (ku kepada Rasulullah) … Rasa cinta dan ketaatan nabawi inilah yang melahirkan buku sederhana ini, mengukir setiap huruf yang dirangkainya”, demikian jujurnya (hal. 2)   

Ada 17 hadis populer yang berkembang di masyarakat yang terkoleksi dalam buku ini dan terkena bidikan penyematan status dhaif atau maudhu’ Pa Adi. ke-17 hadis tersebut adalah (1) Menuntut Ilmu ke Negeri Cina, (2) Ibu adalah Madrasah Pertama, (3) Makan di Saat Lapar, Berhenti sebelum Kenyang, (4) Berhaji dengan Uang Hasil Korupsi, (5) Wanita adalah Tiang Negara, (6) Pahala Sedekah Jumat Sama dengan Ramadhan, (7) Perbedaan Rahmat adalah Rahmat, (8) Cintailah Saudarmu Sekadarnya, (9) Miqat Haji dan Umrah, (10) Bekerja untuk Dunia Seakan Hidup Abadi, (11) Kefakiran Nyaris Menjadi Kekafiran, (12) Cinta Tanah Air Bagian dari Iman, (13) Menyambongi Orang Angkuh adalah Sedekah, (14) Berziarah ke Makam Nabi saw, (15) Permulaan Ramadhan adalah Rahmat, (16) Tidur Orang Puasa adalah Ibadah, (17) Mengadzani Bayi yang Baru Lahir.

Hadis “Uthlubu ‘l-‘Ilma wa law bi ‘s-Shin fa inna Thalaba ‘l-Ilmi Faridhatun ‘ala Kulli Muslimin”, Carilah ilmu walaupun hingga ke Cina. Sungguh mencari ilmu itu adalah satu kewajiban bagi setiap Muslim, misalnya, menurut penulisnya termasuk pada hadis yang amat lemah dari segi validitasnya, bahkan dipandang  sebagai hadis palsu (hal. 35). Mengutip Syaikh Nashiruddin al-Albani, seorang pakar hadis kontemporer, dalam Silsilatul Ahaditsnya, penulis menyampaikan dua riwayat penelusuran al-Hafidz Jalalu ‘d-Din al-Suyuthiy, dimana tertera pada keduanya nama perawi Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim al-‘Asqalaniy yang dinilai bermasalah; Imam Ad-Zahabi bahkan menyebutnya sebagai pendusta (kadzzab) (hal. 34). Hadis tentang Makan di Saat Lapar, Berhenti sebelum Kenyang, juga bermasalah. Hadis yang sangat populer dan sering dirujuk oleh para penceramah ketika membahas soal puasa, khususnya di bulan Ramadhan, ternyata hannyalah penuturan seorang dokter dari Sudan yang ditanya oleh seorang raja Persia mengenai resep kesehatan yang paling efektif tanpa melahirkan efek samping. Ini dikisahkan oleh Imam al-Suyuthiy dalam kitabnya, ar-Rahmah fi ‘t-Thib wa ‘l-Hikmah (hal. 52-54). Termasuk hadis yang sangat populer adalah “al-Takabbur ‘ala ‘l-Mutakabbir shadaqah”, Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah. Penilaian ulama terhadap ‘hadis’ ini, diantaranya Muhammad bin Darwisy al-Hut dalam Asna ‘l-Mathalib yang berpendapat, bahwa ungkapan ini adalah hadis palsu yang berasal dari tuturan masyarakat. Sementara al-‘Ajluni menulis dalam Kasyfu ‘l-Khafa bahwa ungkapan ini hanyalah sekedar kalam, tuturan orang-orang (hal. 161).

Meski dapat disebutkan bahwa buku ini terbilang ‘sengit’ membombardir sebagian hadis-hadis yang –meminjam ungkapan penulisnya—cetar membahana di masyarakat, agaknya penulisnya ‘terpesona’ oleh hadis terakhir nomor 17 di atas, tentang mengadzani bayi yang baru lahir  (Ada mengundang pertanyaan tersendiri mengenai bagaimana sikap penulis sesungguhnya terhadap hadis ini).  Dibahas dalam 16 halaman (terbanyak kedua dibanding pembahasan hadis tentang Miqat Haji dan Umrah dalam 19 halaman), hadis ini cukup serius dikaji penulis. Dan, mesti disimpulkannya sebagai hadis dhaif dan berkualitas munkar, matruk, bahkan ada di antaranya yang diduga palsu, entoh penulis tetap mengatakan bahwa hal ini tidak lantas menjadikan adzan pada telinga bayi yang baru dilahirkan  sebagai hal yang terlarang, sepanjang tindakan mengadzankan bayi tersebut tidak disandarkan pada hadis-hadis munkar, matruk, atau mawhdu’ (hal. 206). Bahkan, tegas penulis meyakinkan, mengadzankan bayi yang terlahir bisa menjadi sunnah bila disandarkan pada hadis-hadis atau ayat al-Quran yang mengisyaratkan at-ta’widz wa ‘l-isti’adzah, yaitu memperlindungkan bayi dari godaan setan dan hal buruk yang mungkin menimpanya (hal. 206).

Bertabur rujukan kitab-kitab hadis karangan ulama ternama seperti al-Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Ibnu Hibban al-Busti, Ali al-Qari al-Harawi, al-Mundziri, Ibnu Hatim al-Razi, Jalalu ‘d-Din al-Suyuthi, Ibnu ‘l-Jauzi, Nashiru ‘l-Din al-Albaniy, Mahmud Thahhan, dll., serta berlandaskan kajian teoritik ilmu hadis, buku ini sangat penting ditelaah oleh siapapun penggiat ilmu-ilmu Hadis, disamping juga sangat penting dibaca oleh siapa saja yang ingin ‘meluruskan’ dirinya dengan teks-teks hadis yang sungguh-sungguh benar dapat dipertanggungjawabkan berasal dari Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s