Kuliah Prof. Daoed Joesoef dan Mimpi Prof. Arief Rahman

Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta mengadakan pengajian bulanan,  Jumat, 3 Mei 2013, dengan tema Problematika Pendidikan di Indonesia dan Solusinya. Hadir sebagai narasumber adalah Profesor Daoed Joesoef dan Profesor Arief Rahman. Tampak juga ketua umum PP Muhammadiyah, Profesor Din Syamsuddin.

Daoed Joesoef, yang juga mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan di masa pemerintahan Soeharto, mengatakan bahwa pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Tidak ada bangsa yang maju, kecuali mengutamakan pendidikan dalam kehidupan berbangsanya. Bagi  Indonesia, khususnya, pendidikan bukan saja penting karena dapat mengangkat harkat martabat bangsa, tetapi lebih dari itu karena Indonesia adalah bangsa dan negara yang mayoritas rakyatnya muslim, yang seyogyanya dituntun oleh ajaran-ajaran Islam yang sangat concern terhadap ilmu pengetahuan. Negara-negara yang tergolong maju pendidikannya  itu, tegasnya, disebabkan mereka menjalankan atau melakukan apa yang sebenarnya sudah ada dalam ajaran-ajaran Islam.

Kuliah Daoed Joesoef, sepengamatan kami terhadap suasana pengajian, sangat inspiratif. Betapa tidak, tokoh Orde Baru yang dulu (kata orang) dikenal kurang simpati terhadap Islam ini, mengutip banyak ayat al-Quran sebagai dasar pengembangan ilmu. Sebut saja, misalkan, kekagumannya terhadap perintah membaca dalam surat al-‘Alaq yang disebutnya sebagai cara untuk berilmu pengetahuan; tidak bisa orang berilmu pengetahuan kecuali dengan cara membaca. Beliau juga misalnya menyitir ayat al-Quran tentang perintah Allah kepada Rasulullah agar berdoa meminta ditambahkan ilmu, wa qul rabbi zidni ilman; kalau ada sesuatu yang lebih berharga dari ilmu, tentu Allah menyuruh Nabi meminta selain ilmu; wa qul rabbi zidni fulusan, kelakarnya. Daoed Joesoef lagi-lagi terpesona dengan al-Quran ketika apa yang disebutnya sebagai kegiatan bernalar sebagai kata lain dari proses berfikir yang melibatkan otak dalam proses berilmu pengetahuan itu, sudah disebutkan al-Quran dengan kata-kata aqala, tafakkara, tadabbara, dll. Prok..prok..prok, demikian terdengar apresiasi jamaah pengajian.

Akan halnya Arief Rahman, guru besar Universitas Negeri Jakarta, tidak kalah inspiratifnya dengan Daoed Joesoef. Dengan guyon-guyon segarnya, beliau berhasil menjadikan suasana pengajian menjadi sangat dinamis dan hidup.  Arief Rahman memulai kuliahnya dengan mengutip bahwa seorang guru harus secara sadar dan terencana dalam aktivitas mengajarnya, “Masa ada guru yang ketika mengajar, dia bertanya kepada siswanya, apa yang kita bahas kemarin?” , ini jelas guru yang tidak sadar dan juga tidak terencana dalam melakukan tugasnya, katanya. Duta United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) di Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, sangat mementingkan manejemen diri seorang guru; tidak kurang ada 13 watak yang menurutnya harus dikembangkan pada diri seorang guru, yaitu (1) bertakwa, (2) fleksibel, (3) terbuka, (4) tegas, (5) berencana, (6) mandiri, (7) toleran, (8) disiplin, (9) berani  mengambil resiko, (10) sportif, (11) setia kawan (12), memiliki integritas , dan (13) berorientasi masa depan. Yang juga menarik adalah jawaban Arief Rahman ketika seorang peserta pengajian mengutip data tentang Pendidikan di negara Finlandia yang (katanya) dinilai sebagai pendidikan yang terbaik di dunia; spontan beliau menyergah, menolak, dan membantah data tersebut; “Anda mau pendidikan kita sama dengan Finlandia yang di sana orang bebas diperolehkan (maaf) berciuman di jalan ?”, sindirnya.  “Yang saya mimpikan justru pendidikan di Indonesia yang dilandasi ajaran-ajaran Islam yang kuat mendukung kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga sangat mengutamakan akhlakul karimah”, tambahnya. Arief Rahman jelas sekali menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia, khususnya, dan perikehidupan bangsa umumnya, masih belum mengutamakan pendidikan akhlak, moral, etika, dan karakter, yang baginya, merupakan solusi dari problematika di tanah air, termasuk problematika dunia pendidikan.

Di bagian akhir pengajian, Profesor Din Syamsuddin mengatakan bahwa pendidikan merupaka trademark Muhammadiyah. Dunia pendidikan, dengan begitu, katanya, menjadi sangat identik dengan Muhammadiyah, yang sejak tahun 2011, Kyai Haji Ahmad Dahlan sudah memperkenalkannya. “Karena itu, saya mengajak seluruh tokoh Muhammadiyah yang hadir dalam pengajian ini, agar ikut membenahi problematika dunia pendidikan di Indonesia, melalui lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah”, tambahnya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s