Al-Zarnuji tentang Kelebihan Seorang Guru

Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Muta’allim (berarti Pengajaran bagi Siswa), sebuah kitab yang sangat populer dipakai di dunia pendidikan pesantren di Indonesia, ada keterangan filosofis menarik penulisnya, al-Zarnuji (7 H), tentang kelebihan seorang guru dibanding orang tua; Diterangkan bahwa ada sebuah pertanyaan diajukan kepada Iskandar Dzul Qarnain, sang Raja Agung yang namanya tiga kali diabadikan dalam al-Quran (QS. 18 : 83, 86, dan 94),  “Mengapa anda menghormati guru anda, lebih dari anda menghormati kedua orangtua anda”, demikian bunyi pertanyaan tersebut. “Li anna abi anzalani min al-sama ila ‘l-ardhi, wa ustadzi yarfa’uni min al-ardhi ila ‘s-samai”, (karena orangtuaku telah menyebabkan aku turun dari langit ke bumi, sementara guruku (sebaliknya) mengangkat aku dari bumi ke langit), demikian jawaban Iskandar Dzul Qarnain.

Keterangan filosofis yang merupakan jawaban Iskandar Dzul Qarnain di atas,  sesungguhnya tidaklah berarti memperhadapkan vis a vs posisi guru di satu sisi, dan posisi orang tua di sisi lain. Sebab, jika diperhadapakan demikian, maka posisi orang tua menempati posisi amat teratas, baik dalam al-Quran maupun hadis (pada QS. 17: 23 misalnya, disebutkan bahwa kewajiban berbakti kepada orang tua disebut bersamaan dengan kewajiban beribadah kepada Allah; sementara dalam hadis dinyatakan tentang kewajiban berbakti kepada ibu yang melebihi kewajiban berbakti kepada bapak dalam banding 3:1). Maksud keterangan tersebut lebih menekankan adanya kemuliaan dan posisi terhormat seorang guru atau pendidik, yang tidak dapat digantikan oleh siapapun, termasuk orang tua. Kemuliaan ini dikarenakan karena tugas dan fungsi seorang guru hendaknya mampu mengantar anak didiknya mengenal siapa Tuhannya melalui pengetahuan-pengetahuan ketuhanan (al-maarif al-rabbaniyah). Dengan pengetahuan ketuhanan ini, ruh manusia menjadi ‘naik’ dari bumi sebagai dunia yang muspra (alam al-fana) ke langit sebagai alam keabadaian (alam al-baqa) (hal. 17). Hal sebaliknya,  karena orang tua, ayah dan ibu, ruh manusia yang berasal dari langit, ‘turun’ ke muka bumi, menyatu dengan jasad dalam rahim seorang ibu.

Kegiatan pendidikan dimana seoran guru merupakan aktor utamanya, pada hakikatnya suatu proses yang seyogyanya dapat terus meningkatkan kualitas anak didik dari sifat-sifat kemanusiaannya yang rendah (yang direpresentasikan dengan keberadaannya di bumi), kepada sifat-sifat kemanusiaannya yang tinggi (yang direpresentasikan dengan ‘langit’). Dalam ajaran Islam, misalnya, dikenal ada akhlak-akhlak buruk (al-akhlaq al-madzmumah) yang harus dijauhkan, dan akhlak-akhlak yang mulia (al-akhlaq al-mahmudah) yang harus diusahakan.  Banyak faktor yang dapat menjadikan anak didik dapat terantar kepada kualitas kemanusiaannya yang tinggi dengan akhlak-akhlak mulia; dan yang faktor yang paling utama adalah ajaran-ajaran agama sebagai pengetahuan yang jelas berasal dari Allah SWT. Tugas seorang guru adalah bagaimana mengaitkan apapun bidang ilmu yang diajarkannya kepada siswa dengan ajaran-ajaran agama, sehingga  terbentuk anak didik yang tidak hanya cerdas intelektualnya, tetapi juga bagus akhlaknya.  Tugas mulia inilah yang menjadikan posisi guru ‘melebihi’ posisi orang tua. Wallahu a’lamu.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s