Revitalisasi Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban

Senin, tanggal 11 Shafar 1435 Hijriyah, bertepatan dengan 13 Januari 2013, Masjid at-Taqwa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), menyelenggarakan rapat kerja dengan tema Revitalisasi Fungsi Masjid sebagai Pusat Peradaban. Hadir sebagai narasumber Drs Husni Thoyar, M.Ag., Ketua Badan Pembina Harian UMJ, yang menyampaikan materi “Mewujudkan Masjid sebagai Pusat Peradaban”, dan  Dr. Imam ad-Daruquthni, Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia Pusat, yang menyampaikan materi “Manajemen Pengelolaan Masjid Kampus”.

Husni Thoyar dalam paparannya mengatakan bahwa masjid selain merupakan tempat peribadatan, juga berfungsi sebagai pusat peradaban keagamaan. Masjid menjadi titik fokus kehidupan keagamaan dan sosial. Dalam fungsi terakhir ini, masjid bagi kaum muslimin menjadi pusat atau tempat mendapatkan pendidikan keagamaan, dan bimbingan moral/akhlak dan sosial, pusat penyelesaian masalah di antara jamaah, tempat melaksanakan perayaan atau acara yang berkaitan dengan lingkaran kehidupan. Khusus dalam fungsinya sebagai pusat pendidikan Islam, katanya, di masjid sejak semula diselenggarakan halaqah, talim, dan tarbiyah yang melibatkan lebih banyak peserta belajar. Dalam perkembangannya, di banyak kompleks masjid, didirikan juga madrasah yang berfungsi khusus an sepenuhnya sebagai lembaga pendidikan Islam. Begitu pentingnya kedudukan masjid dalam proses pendidikan keagamaan Islam dan reproduksi ulama, sehingga masjid (yang juga dikenal dengan istilah jami), juga cikal bakal adanya universitas (al-jamiah). Contoh yang paling konkret, katanya, adalah universitas tertua di dunia, al-Azhar, Kairo.

Sementara itu, Imam ad-Daruquthni menegaskan pentingnya menggabungkan –mengutip istilahnya sendiri–visi dan misi akademik yang eksklusif dengan visi dan misi masyarakat Islam yang inklusif, sebagai ideologi kemasjidan kampus. Visi dan misi akademik kampus, maksudnya adalah bahwa sebagai masjid yang pengelolaannya  tidak terpisah dengan manajemen kampus, keberadaan masjid idealnya ikut memperkuat basis akademik kampus; misalnya, katanya, masjid menjadi sarana untuk mendiskusikan pengembangan teori-teori keilmuan yang pada sisi tertentu belum dipandang cukup Islami; teori ekonomi, teori pendidikan, teori hukum, dan lain-lain, masih dapat terus dikembangkan sesuai dengan dasar-dasar keilmuan Islam. Namun demikian, masjid kampus, selain memilik jamaah ‘tetap’ sivitas akademikanya sendiri, juga tidak bisa dipisahkan dengan kedudukannya sebagai tempat umat sendiri, baik untuk beribadah maupun tempat untuk sarana bersosialisasi. Masjid kampus tidak boleh hanya berkutat pada ‘kepentingan’ akademik kampus yang membuatnya tertutup (eksklusif), tetapi juga harus terbuka (inklusif) pada masyarakat di sekitarnya. Imam menyebutkan, misalnya, bahwa program-program masjid harus didasarkan pada analisis potensi jamaah dan analisis lingkungannya. Apakah misalnya, jamaah masjid berlatar belakang masyarakat kelas menengah ke bawah atau menengah ke atas, berpendidikan tinggi, masyarakat urban, dst.    Bila hal ini dilakukan, maka kegiatan-kegiatan masjid akan efektif serta memperoleh dukungan dari masyarakat.

Wallahu’alam

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s