‘Irrasionalitas’ Muhammadiyah

Dalam kesempatan memandu diskusi pada kegiatan Baitul Arqam bagi mahasiswa Program Studi Zakat Wakaf Fakultas Agama Islam Universitas Muhamadiyah Jakarta, Desember 2013,  Prof. Dr. Yunan Yusuf sebagai narasumber menyampaikan informasi menarik tentang adanya ‘irrasionalitas’ yang terjadi di Muhammadiyah. Informasi ini bagi kami cukup menarik, karena Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi keagamaan   modern dan rasional; penolakan terhadap praktik-praktik khurafat masyarakat yang tidak masuk akal, adalah di antara contoh bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang rasional.

Irrasionalitas yang terjadi di Muhammadiyah, kata Yunan Yusuf yang juga Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Guru Besar Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, adalah terkait dengan potensi dana Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berupa sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dll., yang  jika ditotal mencapai hampir 20 trilyun rupiah. Potensi dana AUM yang sangat besar ini tersimpan pada banyak bank-bank baik yang konvensional, maupun yang syariah, katanya. Yunan menegaskan, dari dana tersebut, AUM hanya memanfaatkan  dana 1,5 trilyun, yang berarti 18,5 trilyun sisanya tersimpan di bank-bank yang selain konvensional, juga sangat mungkin dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip Muhammadiyah. Ini jelas tidak asuk akal, tegasnya. Menurut pengakuannya, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, memintanya agar beliau ikut menertibkan irrasionalitas di Muhammadiyah ini. Masih menurutnya, dana AUM yang sangat besar dan potensial untuk dapat diperluas pada pembentukan AUM lainnya itu (seperti, katanya, pembentukan penerbit buku  sekelas Gramedia—beliau menyebutnya sebagai Toko Buku  Matahari) akan diproyeksikan disimpan pada tujuh bank besar syariah, yaitu BNI Syariah, BRI Syariah, Bank Muamalat, Bank Bukopin Syariah, Bank Mandiri Syariah, Bank Mega Syariah, dan Bank Danamon Syariah.

Paparan Yunan Yusuf cukup ampuh mendulang aneka pertanyaan dari para mahasiswa; di antaranya adalah mampukah Muhammadiyah menyejahterakan anggotanya, jika gagasan besar merasionalisasi penggunaan dana besar AUMnya tersebut terrealisir. Yunan diplomatis menjawab, bahwa organisasi Muhammadiyah berbeda dengan organisasi pemerintah yang sangat ketat dalam hal  tetakelola anggaran negara. Berbeda dengan Muhamadiyah, kecuali dihajatkan profesionalitas dan rasionalitas dalam penggunaan dana organisasi, maka anggota Muhammadiyah harus menyadari bahwa keberadaannya merupakan bentuk pengabdian kepada Muhammadiyah, sehingga siapapun yang mengelola keuangan organisasi, maka pengawasannya bukan saja aturan-aturan internal Muhammadiyah, tetapi juga waskat (pengawasan malaikat), katanya.

Wallahu alam

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s