Empat Kriteria Pemimpin : Pelajaran dari Nabi Yusuf

Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Drs. Husni Thoyar, M.Ag., saat memberi sambutan pada acara Pelantikan  Wakil Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UMJ, pada Senin, 3 Februari 2014, menyampaikan empat kriteria pemimpin yang beliau ambil dari Surat Yusuf.  Pertama, seorang pemimpin itu tidak boleh merasa ‘suci’ atau merasa benar sendiri; wa ma ubarriu nafsi, inna ‘nafsa laammaratun bi ‘s-sui (Q.S. 12:53). Kriteria ini mengharuskan seorang pemimpin untuk bersikap terbuka pada setiap pemikiran dan gagasan bahkan kritik sekalipun dalam rangka kemaslahatan organisasi yang dipimpinnya. Prinsip bahwa bukan berarti jika menjadi seorang pemimpin maka apapun pendapatnya senantiasa benar, dipegangnya. Seorang nabiyallah Yusuf sekalipun, seperti ayat di atas, menyatakan tidak terbebas dari (kemungkinan) berbuat salah, khususnya ketika beliau sebagai manusia biasa mempunyai ketertarikan juga kepada Zulaikha, namun karena rahmat Allah, beliau diselamatkan dari perbuatan keji tersebut (Q.S. 12: 24).

Kriteria kedua dan sekaligus ketiga seorang pemimpin dinyatakan dalam ayat 55 surat Yusuf; yaitu pandai memelihara (hafizhun), dan mempunyai wawasan yang luas (alimun). Pemimpin adalah seorang yang diberikan kepadanya kepercayaan memelihara aset organisasi/institusi. Tidak ada satupun aset organisasi yang hilang ketika ia diberikan amanah kepemimpinan; tidak ada satu rupiahpun, misalnya, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya. Accountable, dan auditable, kata Husni Thoyar. Ayat 55 surat Yusuf ini memang menceritakan ‘lamaran’ Nabi Yusuf kepada Raja Mesir untuk menjadikan beliau sebagai  ‘menteri keuangan’ yang jelas mengurus soal duit. Kriteria ketiga, yakni berwawasan luas, mutlak harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan pengetahuan yang luas, dia dapat menjawab apapun masalah  yang dihadapi organisasinya. Dan sebaliknya, jika wawasannya sempit, amat mustahil  seorang pemimpin mampu memberikan solusi-solusi. Nabi Yusuf adalah seorang pemimpin yang dianugerahi oleh Allah kemampuan pengetahuan menafsirkan mimpi (ta’bir mimpi) yang seringkali ditanyakan oleh rakyatnya, dan bahkan mimpi dari Raja Mesir; semua tafsir mimpinya ini, nyata terbukti di kemudian hari (lihat rangkaian ayat 43-49).

Kriteria keempat pemimpin adalah berbuat baik; wa la nudhiu ajra ‘l-muhsinin; “dan kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. Husni Thoyar mengistilahkan perbuatan baik ini dengan excellence; berbuat yang terbaik. Tugas utama seorang pemimpin adalah melayani sebaik-baiknya keperluan orang-orang yang dipimpinnya. Dalam konteks perguruan tinggi, seorang rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan, ketua program studi, dll., harus sungguh-sungguh melayani mahasiswa, apabila mereka ingin terus dipercaya sebagai tempat menaruh harapan dari mahasiswa dan para orangtuanya. Kalau tidak mampu melayani yang terbaik bagi mahasiswanya, maka kampus akan kehilangan mahasiswanya. Beliau mengutip hasil penelitian di UMJ yang mengatakan bahwa dua penyumbang terbesar mahasiswa masuk ke UMJ adalah pertama kepercayaan orangtua mahasiswa, dan kedua adalah mahasiswa sendiri (alumni). Kembali ke Nabi Yusuf, ketika beliau sudah menjadi Menteri Keuangan Mesir, beliau tidak menaruh dendam kepada saudara-saudaranya yang pernah menjebloskan beliau ke dalam sumur, tetapi memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang dan aman (lihat ayat 94-100).

Wallahu alam

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s