Teologi Komunikasi

Sabtu, 8 Februari 2014, kami berkesempatan menutup acara Pelatihan Sinematografi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pelatihan yang berlangsung mulai tanggal 3 Februari ini, bertujuan untuk memberikan dasar-dasar keterampilan kepada para mahasiswa dalam membuat tayangan-tayangan dokumenter. Beragam materi seperti proses produksi, pembuatan naskah, teknik dasar video editing, dll., tersaji dalam pelatihan yang diisi para narasumber dari Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Dalam kesempatan ini, kami share ke para mahasiswa bahwa dalam ajaran Islam, ilmu komunikasi yang sangat penting ini memiliki basis teologi yang sangat kuat, merujuk kepada dua surat dalam al-Quran, dan ajaibnya masing-masing tersebut pada ayat empat surat al-‘Alaq (96) dan surat al-Rahman (55). Dalam surat al-‘Alaq ayat 4, al-Quran menyatakan (Allah) Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam; alladzi ‘allama bi ‘l-qalam. Catatan kaki Terjemah Departemen Agama menyebutkan bahwa Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Aktivitas menulis (kitabah/writing) dan  membaca (qiraah/reading) adalah dua diantara empat keterampilan berkomunikasi, selain mendengar (simaah/listening) dan berbicara (khitabah/speaking). Melalui surat al-‘Alaq ini, tegas kami, Allah mengajarkan ilmu komunikasi kepada manusia. Dalam tafsiran kontekstualnya, al-qalam (yang secara harfiyah adalah ‘pena’ dalam bahasa Arab) dapat berarti semua alat yang digunakan oleh manusia dalam melakukan proses komunikasi. “Seperti alat-alat yang digunakan dalam pelatihan sinematografi anda ini”, tegas kami. Jadi, boleh dikatakan dalam surat al-‘Alaq ayat empat ini, al-Quran menyinggung soal ‘alat’ komunikasi.

Berbeda dengan surat al-‘Alaq ayat empat yang menyinggung soal alat komunikasi, maka surat al-Rahman ayat empat berbicara tentang fungsi alat tersebut, yaitu ‘al-bayan’ (secara harfiyah berarti menjelaskan) atau berkomunikasi itu sendiri; ‘Allamahu ‘l-bayan; (Allah) mengajarnya (manusia) pandai berbicara. Kemampuan berbicara, seperti disinggung di atas, merupakan salah satu keterampilan berkomunikasi. Dengan al-bayan, manusia menyampaikan pesan (message) kepada lawan komunikasinya, baik baik melalui –istilah kami–media tulis, media baca, maupun media dengar (Dalam kesempatan sambutan ini, saya mengutip pendapat rekan dosen kami, Otjo Wironeno,  yang mengatakan bahwa melalui ayat ini Allah mengajarkan kemampuan berkomunikasi yang merupakan unsur sangat penting dalam membentuk suatu kebudayaan dan peradaban umat manusia. Sejarah kebudayaan dan peradaban umat manusia dari waktu ke waktu, terbentuk karena kemampuan manusia dalam berkomunikasi ini).

Wallahu a’lam

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s