Konferensi Internasional Studi al-Quran

Pusat Studi al-Quran (PSQ) pimpinan  M. Quraish Shihab, menyelenggarakan Konferensi Internasional Studi al-Quran (International Conference on Quranic Studies) dalam rangka memeringati 10 tahun keberadaannya di Tanah Air.  Konferensi diselenggarakan dua hari di Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada hari pertama, tanggal 15 Februari 2014 dikaji dua tema pokok, yaitu Chellenges of Quranic Studies in Global Area oleh para pakar al-Quran dari Saudi Arabia, Mesir, Iran, dan Indonesia  dan Tafsir Studies in Southeast Asia yang dibahas oleh pembicara dari Australia, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Indonesianis terkenal dari Australia, Anthony H Jhons, tercatat membahas makalah berjudul Studying the Quran : A Road with No End; Sementara hari kedua tanggal 16 –dimana kami berkesempatan hadir—dilaksanakan pendalaman studi al-Quran oleh para peserta, yang membahas tidak kurang dari 17 Call for Papers peserta seminar yang juga berasal dari dalam dan luar negeri. 

Pada hari kedua konferensi,  penulis aktif berdiskusi pada kelas al-Mahally kajian Parallel 06: New Approaches to the Qur’ân, yang mengkaji topik-topik Telaah Kritis terhadap Pemaknaan ‘ad-Din’ dan ‘al-Islam’ dalam Quran : A Reformist Translation; Integralitas al-Quran menurut Hamiduddin al-Farahi dan Implikasinya terhadap Penafsiran al-Quran; Philosopical Hermeneutics (A Study on Abdul Karim Soroush’s Work (al-Qabdh wa ‘l- Basth) fi ‘s-Shariah; dan I’jaz Tilawat al-Quran : Pendekatan Ilmu Tajwid dalam Kitab I’jaz Rasm al-Quran wa I’jaz al-Tilawat karya Muhammad Syamlul.

Pada topik Telaah Kritis terhadap Pemaknaan ‘ad-Din’ dan ‘al-Islam’ dalam Quran : A Reformist Translation, misalnya, narasumber, Fejrian Yazdajird Iwanebel, mahasiswa Program Doktor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, menjelaskan bahwa buku Quran : A Reformist Translation karya bersama Edip Yuksel, Layth Saleh al-Syaiban, dan Martha Schulte Nafeh adalah sebuah karya terjemah al-Quran yang menurutnya melampaui sekedar karya terjemah, karena di dalamnya, para penulis melakukan upaya pemahaman yang lebih jauh dan tidak hanya sekedar mengalihbahasakan ayat-ayat al-Quran; narasumber menyebutnya sebagai “pemaknaan”. Dicontohkan, misalnya, kata al-Din (salah satunya terdapat pada QS. 3 : 19 dan 85) yang dimaknai sebagai ‘sistem’, bukan ‘agama’. Kalau QS. Alu Imran (3) ayat 19 diterjemahkan akan berbunyi : Sesungguhnya sistem (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam; sementara ayat 85 berbunyi : Barangsiapa mencari sistem selain sistem Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (sistem itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.  Menurut narasumber, semangat yang diusung tiga penulis dalam penafsiran ini adalah reformasi pemahaman terhadap al-Quran, dan ketiganya memang dikenal sebagai  aktivis dan pemikir reformis yang mempunyai orientasi pembaharuan dalam Islam.

Makalah lainnya adalah Integralitas al-Quran menurut Hamiduddin al-Farahi dan Implikasinya terhadap Penafsiran al-Quran yang ditulis oleh Abdul Halim yang menjelaskan bahwa ide tentang susunan al-Quran sebagai satu kesatuan adalah hal yang sangat penting dalam rangka memahami al-Quran secara utuh. Ide ini kemudian dikenal dengan sebutan al-nazhm. Hamiduddin al-Farahi, seorang ulama India, menulis buku khusus, Tadabbur al-Quran, dalam membahas nazhm al-Quran ini. Dia berpendapat bahwa al-nazhm berbeda dengan munasabah; Munasabah menurutnya merupakan bagian dari nazhm. Tanasub antara sebagian ayat dengan ayat yang lain tidak bisa mengungkap wacana al-Quran sebagai sebuah satu kesatuan yang utuh.  Guna  menguatkan teorinya tentang nazhm al-Quran ini, al-Farahi berpendapat bahwa setiap surat al-Quran memiliki ‘amud (pokok, inti/ main idea)-nya, di mana setiap lafaz pada surat tersebut mesti berubungan dengan ‘amud tersebut. Begitu seterusnya dengan surat lainnya dengan masing-masing ‘amudnya; dan dari rangkaian ‘amud -‘amud tersebut terdapat sebuah ‘amud besar (master idea). Abdul Halim mencontohkan tafsiran al-Farahi terkait surat at-Tahrim (66) yang merupakan surat tentang rumah tangga Rasul; Menurut al-Farahi ayat 1 sampai 5 berisi teguran kepada Nabi yang di dalamnya termuat pesan-pesan moral yang disampaikan pada ayat-ayat beriutnya; ayat 6 sampai 9 merupakan content surat tentang memuliakan derajat manusia dengan amanahnya, taubat nasuha, tanggungjawab keagamaan, serta pencegahan penyebab-penyebab kesesatan; sementara ayat 10-12 berisi penutup surat tentang pemisalan antara orang-orang mumin dan orang-orang kafir. Untuk dicatat, bahwa ayat 6 sampai 9 di atas, menurut al-Farahi, merupakan ‘amud dari surat at Tahrim ini.

Wallahu ‘alamu

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s