Mendudukkan Pemikiran Sang Mufassir

Alquran adalah pedoman bagi kehidupan umat Islam. Alquran bukan hanya seonggokan tumpukan kertas dengan tulisan Arab di dalamnya. Alquran itu mulia karena di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk untuk membuat umat yang membacanya menjadi mulia.

Meski Quraish Shihab bukan satu-satunya mufasir di Indonesia, ia mengenalkan metode tafsir yang menjadi embrio penting dalam perkembangan tafsir modern di Indonesia. Ia memberi warna tersendiri dalam dunia tafsir bagi negeri ini.

Dalam bukunya, Profil Para Mufasir Alquran, Saiful Amin Ghofur menuliskan selama ini ada empat metode tafsir yang digunakan  untuk membedah isi kandungan Alquran. Yaitu, metode ijmali  atau global, tahlili atau analitis, muqaran atau perbandingan, dan maudhui atau tematik. Masing-masing memiliki keunggulan sehingga sulit menentukan  mana yang terbaik dari keempat metode. “Aplikasinya tergantung kebutuhan,” ujar dia.

Jika kebutuhannya untuk menuntaskan dan mencari jawaban atas sebuah topik permasalahan, paling tepat menggunakan metode mauhdui. Namun, jika kebutuhannya untuk mengetahui kandungan ayat, metode yang lebih baik dipakai  adalah tahlili.

Mahakarya Quraish Shihab, yaitu Tafsir al-Mishbah, menurutnya bisa menjelaskan kandungan isi Alquran secara runtut dengan tertib susunan ayat dan surahnya. Ia mampu menulis tafsir al-Quran 30 juz dengan sangat akbar dan mendetail hingga 15 jilid.

Sebelum menafsirkan surah, menurutnya, Quraish tak melewatkan pengantar yang meliputi identitas dan variabel dasar, seperti nama surah, jumlah ayat, dengan penjelasan tentang perbedaan penghitungan, tempat turunnya surah tersebut disertai pengecualian ayat-ayat yang tidak termasuk kategori, nomor surah berdasarkan urutan mushaf dan urutan turun, tema pokok, keterkaitan atau munasabah antara surah sebelum dan sesudahnya, dan sebab turunnya surah tersebut.

Setelah pengantar disajikan dengan perinci, Quraish kemudian mulai menyajikan penafsirannya dengan cara menganalisis secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran sesuai dengan urutan bacaan mushaf.

Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa ayat-ayat dan surah dalam Alquran tersebut punya keserasian yang sempurna dan merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan.

       Buku Kajian Alquran di Indonesia karya Howard M Federspiel menilai corak dan gaya penafsiran Alquran ala Quraish, merupakan generasi baru yang mewarnai dinamika tafsir modern di Tanah Air.

Quraish telah meletakkan standar baru bagi studi Alquran yang bisa dicerna oleh kalangan awam. Selain mengupas dari  makna-makna dari ayat-ayat Alquran, Quraish juga memberikan wawasan tambahan aktual dan lokal.

Howard menguraikan, dinamika kajian tafsir di Indonesia mengalami fase-fase. Setidaknya jika diurai, ada tiga fase utama. Ketiga generasi ini memiliki karakteristik tafsir yang berbeda-beda, tetapi tetap saling melengkapi satu sama lain.

Generasi mufasir pertama, sebut dia, bermula dari awal abad ke-20 hinggsa awal 1960-an. Model ini ditandai dengan adanya penafsiran yang terpisah-pisah dan belum terkodifikasikan dengan baik.

Generasi kedua menghadirkan  model tafsir yang lebih sempurna. Didalam tafsirnya, disisipkan beberapa catatan, catatan kaki, terjemahan per kata, juga indeks yang sederhana. Tafsir yang mulai muncul pada 1970-an lebih baik dibandingkan sebelumnya. “Banyak komentar-komentar luas terhadap teks,” tulis dia.

Karya representatif  yang mewakili generasi ini adalah al-Furqan karya Ahmad Hassan,    Tafsir Alquran karya Hamidy , dan Tafsir al-Quranul Karim karya Mahmud Yunus. Karakteristik tafsir generasi ini ialah adanya informasi mengenai konsep-konsep Islam dan poin-poin inti yang terdapat pada setiap surah dalam Alquran. Pada berikutnya, yaitu generasi ketiga diwakili oleh karya Ash-Shiddieqy dengan judul tafsir al-Bayan, Halim Hasan lewat Tafsir Alquranul Karim, dan karya Buya Hamka dengan judul Tafsir al-Azhar.

Menurut Howard , model tafsir pada generasi ini lebih meningkat dibandingkan generasi sebelumnya, seperti kombinasi dari tafsir-tafsir generasi kedua dan merampingkan hal-hal yang bersifat primer tentang ilmu-ilmu tafsir.

Tafsir pada generasi ini bertujuan untuk memahami kandungan Alquran secara komprehensif  yang berisi materi tentang teks dan metodologi dalam menganalisis tafsir.

Dominasi Tafsir

       Pemetaan karya-karya Quraish tentu bisa ditelusuri melalui puluhan karyanya yang , dan telah terbit ke permukaan. Jika didudikkan secara jelas, corak tafsir sangat mendominasi ragam pemikiran dan karyanya tersebut.

Kepala Puslitbang Lajnah Tashih AlQuran Kementerian Agama, Dr. Muchlis Hanafi, menyatakan, Quraish bisa membuat karya tafsir dari metode maudhui, tahlili, dan ijmali. Metode maudhui terpancr dari karya berjudul Wawasan Alquran : Tafsir Maudhui atas Pelbagai Persoalan Umat dan disembpurnakan dengan buku selanjutnya, yakni Sececah Cahaya Ilahi.

      Metode tafsir tematik ini menginspirasi banyak cendekiawan. Pada 1990-an, metode tersebut banyak dipakai dalam skripsi, tesis,  disertasi, dan karya ilmiah lainnya.

Quraish juga menuliskan beberapa buku lain dengan model  ini. Diantaranya, Menyingkap tabir Ilahi, Asma al-Husna, Yang Tersembunyi, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah, Pengantin Alquran, dan Jin, Malaikat, Iblis, Setan.

      Sedangkan penggunaan metode tahlili, Quraish menerapkannya dalam Tafsir Alquran al-Karim : Tafsir atas Surah-surah Pendek Berdasarkan Urutan Turun Wahyu. Quraish memulainya dengan  mengupas surah al-Fatihah sebagai mukadimah, kemudian dilanjutkan surah al-Alaq dan seterusnya.

Selain buku itu, corak tahlili tampak pada Tafsir al-Mishbah : Pesan, Kesan, dan Keserasian Alquran. Bedanya dengan tafsir yang ditulis sebelumnya, ia mengurutkan ayat-ayat suci yang dibahas sesuai urutan mushaf Alquran.

Pada Juli 2012, Quraish menyuguhkan karyanya yang dibuat dengan metode ijmali. Ia memberi nama karya tersebut dengan judul al-Lubab; Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-surah Alquran. Ia juga menelurkan karya terjemahan Alquran, yang diberi nama Alquran dan Maknanya pada 2010.

Selain itu, ia juga banyak menulis karya-karya lain berbentuk artikel tafsir (maqalat tafsiriyyah). Di antaranya adalah Lentera Hati, Membumikan Alquran, dan Membumikan Alquran Jilid 2.

       Ia juga banyak menulis buku-buku yang berbentuk wawasan keislaman (tsaqafat islamiyyah). Hingga detik ini, Quraish Shihab tak pernah lelah berkarya. ia terus menyalurkan ilmu-ilmu yang dipunyainya untuk diteruskan dalam media yang bisa menyentuh hati umat.

wallahu alam.

(Sumber tulisan : Rubrik Islam Digest Harian Republika, Ahad, 16 Februari 2014; Catatan : Tulisan ini diterbitkan bersamaan dengan penyeleggaraan Konferensi Internasional Studi Al-Quran yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Alquran Pimpinan M. Quraish Shihab, pada Sabtu-Ahad, 15-16 Februari 2014 di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s