Bersahabatlah dengan Alquran

Pusat Studi al-Quran Pimpinan Quraish Shihab menyelenggarakan Konferensi Internasional Studi al-Quran, pada 15-16 Februari 2014, di Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Berikut adalah tulisan (dengan judul seperti tertera di atas) yang merupakan kutipan sepenuhnya dari dialog Harian Umum Republika, (Ahad 16 Februari 2014), dengan Quraish Shihab  seputar sosok dirinya dan dunia penafsiran al-Quran :

Selama 70 tahun bersahabat dengan Alquran, ketua Dewan Pakar Pusat Studi Alquran (PSQ), Prof M Quraish Shihab menemukan segudang hikmah yang menakjuban. Ternyata, Alquran merupakan sumber ilmu yang sangat luas. Ini terbukti setelah Tafsir al-Mishbah yang ia tulis melebihi target semula dari tiga jilid saja menjadi 15 jilid. “Kunci keberhasilan itu ada pada proses berinteraksi yang baik dengan Alquran. Bersahabatlah dengan alquran jangan curiga,” kata alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Mesir itu. Berikut perbincangan lengkap dengan wartawan Republika, Nashih Nashrulla, dengan pakar tafsir itu:

Apa inspirasi kecintaan Anda pada Kajian Alquran

Benih ituu ditanamkan ayah saya. Ia adalah guru besar di bidang tafsir. Dan sejak kecil di rumah itu, kita mengaji dan mengkaji dengan ayah. Saya kira sejak itu tertanam kecintaan, keinginan untu tahu lebih banyak tentang Alquran.  Ada lagi setelah saya di Mesir, saya mengetahui bahwa semua disiplin ilmu keislaman itu lahir melalui Alquran. Waktu ambil jurusan, Anda ambil hukum, pasti belajar Alquran, mau mengkaji sejarah mesti mendalami Alquran, bahasa Arab juga demikian.

Bagaimana Anda memotret kajian tafsir di Tanah Air ?

Kita bisa bagi dua, mandek sama sekali sehingga ulama-ulama kita pun yang begitu alim di berbagai bidang tidak menulis. Sehingga, orang merujuk pada kitab-kitab lama, merekapun enggan menyampaikan hal-hal yang boleh jadi, melintas dalam benak mereka, tetapi takut. Ketakutan yang lahir dari kewaraan mereka, tentu di sisi lain ada faktor bahasa. Banyak orang, bukan cuma ulama, yang pandai berbicara, tetapi tidak lihai menulis, begitu sebaliknya, kita mandek. Sehingga yang jadi rujukan kitab-kitab lama dengan pendapat-pendapat lama. Yang sebagiannya salah menurut ukuran perkembangan ilmu dan dinamika masa. Di sisi lain, lahir anak-anak muda, yang terpelajar, tetapi sebagian dari mereka tidak menguasai ilmu-ilmu alat. Lahirlah penafsiran-penafsiran yang sebenarnya—kalau secara ekstremnya—menyimpang, kalaupun tidak memakai kata menyimpang, ya penafsiran –yang bagi orang-orang yang mengerti—itu tidak tepat. Nah, melihat keadaan ini, saya termasuk salah seorang, dari banyak teman-teman yang melihat ada ketimpangan dan perlu berusaha memperbaikinya, karena itu lahirlah PSQ.

Apa Kesan selama 70 Tahun berinteraksi dengan Alquran ?

Jangan bilang 70 tahun. Katakan, jika usia saya sekarang 70 tahun dan saya belajar mulai usia enam tahun, jadi baru 64 tahun saya mendalami Alquran. Benar-benar fouks setelah berada di Pusat Studi Alquran, sebelumnya masih cari nafkah atau jalan-jalan (sambil tertawa ringan).

Pertama, ketika menulis Tafsir al-Mishbah. Rencana saya tiga jilid, tetapi tidak terasa, satu ayat yang saya terangkan ternyata banyak sekali aspeknya sehingga akhirnya menjadi 15 jilid, itupun saya batasi.

Kesimpulan saya, Alquran menampung banyak sekali ilmu pengetahuan, dan itu saya lihat dari beberapa teman yang menafsirkan Alquran, kita terdorong terus. Kalau orang tidak terikat atau mengikat diri dengan metode penafsiran Alquran, dia akan menyampaikan segala sesuatu walau tidak berkaitan dengan Alquran. Itu yang pertama saya rasakan.

Yang kedua, yang saya rasakan begini, pernah disampaikan oleh ayah saya, sebelum mendalami dan menemukan kandungan Alquran maka bersahabatlah dengan Alquran, jangan curiga. Jika engkau bersahabat dengan seseorang dan percaya kepadamu maka dia akan sampaika rahasia-rahasia, berbeda dengan orang yang kcuma kenal biasa.

Dan itu saya rasakan benar. Karena saya percaya bahwa ilmu ada yang hasil ikhitar dan ilmu pemberian Allah SWT. Syaratnya untuk itu, jangan angkuh dan berkata ini pendapat saya. Terus bersahabat dengan Alquran. Ada juga pesan, jangan paksakan pendapat itu, jika kamu tidak tahu, tangguhkan, boleh jadi Anda yang temukan atau orang lain yang menemukan.

Apa mimpi-mimpi besar Anda ?

Membumikan Alquran di tengah masyarakat plural. Kita ingin nilai-nilai Alquran tersebut diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang intinya adalah kepatuhan kepada Tuhan. Yang menggambarkan rahmat dan kedamaian untuk semua. Jadi, kepatuhan kepada Tuhan tidak harus diartikan semua orang harus masuk Islam, kepatuhan memberikan semua orang kesempatan beriman, silahkan. Kepatuhan kepada Tuhan itu adalah lakum dinukum waliyadin. Silahkan amalkan, tetapi kalau kita paksakan orang lain untuk patuh, Tuhan itu tidak setuju.

Tuhan memberikan kebebasan, menginginkan agar dalam kehidupan di dunia, terwujud bayang-bayang surga itu. Bayang-bayang surga itu, menurut Alquran, sandang, pangan, papan, tercukupi. Dannyang kedua, damai.Biarkan saja, Tuhan berkehendak apa. Jika Tuhan berkehendak semua orang bisa Nasrani, Hindu, dan lainnya.

Dia memang mau begini, kita berlomba dalam kebaikan. Itu juga kita sebabnya, kita di PSQ menolak dan menerima sumbangan yang kita tidak dapat gunakan. Ada orang yang mengasih tanah kepada kita, tetapi tidak bisa digunakan. Kita mau menerima walau non muslim, dengan ide dan semangat sama tetapi tidak mengikat.

Dalam Alquran Allah memerintahkan kita untuk bekerjasama, wa taawanu ala al-birri, perintah tersebut tidak ditujukan sesama Muslim saja. Jika dibaca konteks ayatnya, ayat tersebut bersifat umum dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi itu sebabnya, jika ada orang mau membantu masjid, kita terima walau dari non-Muslim, tetapi bila ada Muslim yang mau membantu membakar gereja, kita tidak terima. Kerjasama dalam kebaikan, itu kita punya filosofi di sini.

Mimpi Anda tak mulus. Anda dituding liberal bahkan Syiah ?

Nabi SAW saja difitnah, apalagi cuma Quraish Shihab (sambil tertawa ringan). Kedua begini, terkadang kita menilai seseorang itu musuh kita. Padahal sebenarnya, bukan dia musuh kita. Tetapi ada musuh asli yang menggunakan orang-orang lantas muncullah anggapan tersebut, yaitu kebodohan. Kebodohan bisa mendorong orang melakukan hal buruk, yang salah di sini ialah kebodohan.

Contoh dalam konteks tuduhan, orang yang hanya tahu satu pendapat, dipikir hanya itu pendapat yang benar. Padahal sebenarnya ada pendapat lain, yang bisa jadi benar, tetapi karena tidak tahu, dituduhlah macam-macam. Dalam konteks Syiah, saya menantang setiap orang, coba tunjukkan dari karya saya, pendapat yang menyatakan saya Syiah.

Prinsip-prinsip Syiah jelas, seperti harus percaya imamah. Ada tidak dalam buku saya? Jika pendapat ulama Syiah, ada yang saya ambil, bahkan Muktazilah, karena keragama itu kita pelajari. Saya penjunjung tinggi Imam Syafii, tetapi terkadang saya tinggalkan pendapatnya. Jika Syafii berpandangan batal wudhu akibat bersentuhan tangan lawan jenis sementara Maliki tidak.

Lalu saya mengambil pendapat Maliki, bukan berarti saya bermazhab Maliki. Orang-orang yang menuding saya Syiah, apakah pernah melihat saya shalat di atas batu Karbala? Apakah, ketika Ramadhan, pernah melihat saya tangguhkan buka puasa 10 hingga 15 menit, sebagaimana keyakinan Syiah, tanya semua mahasiswa saya bagaimana sikap saya kepada sahabat, terhadap Abu Hurairah. Saya kira tuduhan mereka salah.

Wallahualam

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s