Sang Pembuka Cakrawala

Pusat Studi al-Quran Pimpinan Quraish Shihab menyelenggarakan Konferensi Internasional Studi al-Quran, pada 15-16 Februari 2014, di Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Berikut adalah tulisan (dengan judul seperti tertera di atas) yang merupakan kutipan sepenuhnya dari Harian Umum Republika, (Ahad 16 Februari 2014), yang memotret sosok Quraish Shihab  dalam dunia penafsiran al-Quran :

Kepakaran Quraish Shihab menjadi oase bagi siapa pun yang pernah berguru secara langsung  ataupun tidak kepadanya.  Wakil Menteri Agama Prof Nasaruddin mengaku sangat akrab dan mengenal sosok Quraish. Kedua-duanya sama-sama putra daerah dari Sulawesi Selatan.

Nasaruddin mengatakan, ia belajar langsung sejak di bangku kuliah S-1, S-2, sampai S-3. Sewaktu di Makassar, pernah pula ditunjuk sebagai asisten. “Dia (Quraish) juga yang memboyong saya ke Jakarta,” kata dia saat berbincang melalui saluran telepon kepada Republika di Jakarta.

Sepanjang pergaulannya dengan Quraish, Nasaruddin menilai, ayah dari Najwa Shihab tersebut sangat memahami bagaimana membumikan al-Quran di Indonesia.

Pemahaman antropologi keindonesiaannya yang mumpuni ternyata semakin memperkaya pandangannya dalam menuliskan tafsir al-Quran. Salah satu mahakaryanya, kata dia, dapat dibaca pada tafsir al-Mishbah. “Saya rasa beliau figur yang sulit ditemukan lagi di republik ini”, kata dia.

Nasaruddin juga mencatat, sebagai seorang ilmuwan Quraish sangat produktif dalam melahirkan karya. Tapi, ada satu ciri khas yang sangat kental dalam penulisan ataupun buah pikir dari sosok Quraish. Gaya penulisan yang moderat hampir tak pernah muncul korban dari ujung pena tulisan maupun ucapan lidahnya.

Lantas, yang semakin membuat Nasaruddin menaruh hormat terhadap sosok Quraish adalah kepribadiannya yang bersahaja. Walau memiliki kedekatan dengan Presiden Soeharto serta BJ Habibie, Quraish tak pernah memanfaatkannya secara berlebih.

Rektor Institut Ilmu Quran Prof Akhsin Sakho menggambarkan sosok Quraish Shihab sebagai sang pembuka cakrawala keilmuan dalam mempelajari ilmu tafsir Alquran. Pendekatan yang dilakukan Quraish tak hanya mengedepankan aspek rasional semata.

“Tetapi, beliau masih tetap menggunakan pendekatan tradisional, yakni menjelaskan semua aturan Alquran itu secara apa adanya. Itulah yang membuat beliau menjadi sosok pembuka banyak wawasan dalam menafsirkan al-Quran.”

Akhsin menilai, gaya penafsiran Alquran yang dilakukan Quraish ini memiliki cara yang berbeda jika dibandingkan dengan penafsir al-Quran di Indonesia pada masa lalu. Dari sosok masa lalu itu, ia menyebut salah satunya adalah Buya Hamka.

“Pak Quraish menggunakan pendekatan bayani, balaghi. Lalu, kemudian di dalamnya ada pula unsur ijtima atau kemasyarakatan,” tuturnya.

Uniknya pula, kata Akhsin, sosok Quraish ini selalu mampu berada di tengah-tengah lalu lintas pemikiran. Pandangan beliau, kata dia, begitu moderat dan mencerahkan. “Ia tidak mengarah ke kiri maupun ke kanan. Beliau sosok yang moderat,” ujarnya.

Kepala Lajnah Tashih Alquran Kementerian Agama, Dr. Muchlis M Hanafi menilai, Quraish Shihab adalah pribadi yang sangat menghargai waktu. Di tengah kesibukannya, Quraish ternyata tetap mampu produktif melahirkan lebih dari 30 karya. Paling monumental adalah Tafsir al-Mishbah.

Ia pun menilai, dari keseluruhan karya yang ditulish Quraish tersebut ternyata memiliki kelebihan masing-masing. “Jika harus membandingkan mana karya beliau yang menjadi masterpiece, rasanya sangat sulit,” kata dia.

Muchlis mencatat, sepanjang hidupnya sosok Quraish itu begitu produktif dalam menelurkan karya tulis. Dari produktivitas menulis tersebut, ia melihat, sesungguhnya hal tersebut mencerminkan sisi lain dari kehidupan Quraish yang sangat menghargai waktunya. “Sulit terbayangkan, aktif tetapi tetap produktif,” ungkap dia.

Kesan lainnya yang ditangkap Muchlis terhadap sosok Quraish adalah kontribusi yang begitu besar dalam pengembangan studi tafsir dan ilmu Alquran di Indonesia. Beliau, kata Muchlis, mampu menghadirkan Alquran dalam kehidupan bermasyarakat secara mudah untuk dipelajari sekaligus pula diamalkan.

Selama ini, jika berbicara soal tafsir, Muchlis mengatakan, masyarakat akan langsung dibawa pada pemahaman yang rumit dan penuh dengan istilah teknis keilmuan. Tetapi, Pak Quraish mampu mencairkan kebekuan itu dan menghadirkannya secara sederhana, sehingga mudah dicerna untuk semua kalangan.

Wallahu alam.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s