‘Ceramah Kematian’ Profesor Agus Suradika

Kamis, 21 Juli 2016, bertepatan dengan 16 Syawal 1437 H, sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) berkumpul di masjid at-Taqwa dalam rangka Halal Bihalal Keluarga Besar UMJ. Acara dihadiri oleh Drs. Hajriyanto Y Thohari, MA, selaku Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua Badan Pembina Harian UMJ, Drs. Husni Thoyyar, M.Ag., Rektor UMJ, Prof. Dr. Syaiful Bakhri, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Sun’an Miskan, Lc., dan Prof. Dr. Agus Suradika selaku penceramah.

Menarik isi ceramah Agus Suradika yang menegaskan bahwa akhir perjalanan hidup manusia adalah kematian dan pertanggungjawaban di Hari Kiamat. Beliau mengingatkan apa yang akan terjadi di Hari Pertanggungjawaban ini dengan menyitir ayat 106-107 surat Alu Imran (3) : “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu’ (106) Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka merea berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya” (107).

Setahun terakhir ini, karena menyadari sudah menjadi kakek, saya mempelajari kematian”, akunya. “Dan kematian itu, menurut ilmu kedokteran, ternyata ‘sederhana’ yaitu tidak berfungsinya lagi secara normal organ jantung dalam tubuh kita. Ketika jantung itu terbuka, berarti hidup, dan saat tertutup, berarti mati. Kemudian jantung terbuka lagi, kita menjadi hidup lagi. Saat jantung kita tertutup dan tidak kembali lagi terbuka, maka di situlah terjadi kematian”, jelasnya.

Secara khusus, Agus Suradika yang menjabat Ketua Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta dan Guru Besar Metodologi Penelitian UMJ ini, mengajak peserta halal bihalal merenungkan penggalan ayat : ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman?’ (akafartum ba’da imanikum). Menurutnya ayat tersebut berarti ‘mengapa kamu kafir (kepada Tuhan/Allah), sesudah kamu beriman (kepada Tuhan/Allah)’. Menurutnya juga, Tuhan itu adalah setiap zat yang mendominasi kehidupan kita, yang bisa dalam bentuk apa saja, seperti hawa nafsu, harta, kekuasaan, jabatan, dll. Merujuk buku ‘klasik’ tulisan Cendikiawan Muslim Imaduddin Abdurrahim tentang Tauhid, Agus Suradika menekankan pentingnya menyertakan Allah dalam kehidupan sehari-hari, supaya manusia tidak terperosok menjadi kafir. Dia juga mengajak hadirin untuk berbuat sebanyak-banyaknya amal kebaikan, sebagai persiapan sebelum datangnya kematian. “Kematian tidak perlu ditakuti, tetapi hanya perlu dipersiapkan dengan kita berbuat sebanyak-banyaknya kebaikan kepada sesama”, pesannya.

Sebelumnya, Rektor UMJ, Syaiful Bakhri, dalam sambutannya mengajak agar sivitas akademika UMJ sesudah menjalani ibadah puasa Ramadhan, memiliki tiga hal : kesucian, kekuatan, dan kemenangan. “Dengan kesucian (dari kita beribadah khususnya Ramadhan), kita akan memperoleh kekuatan (dari Tuhan), dan dengan kekuaan tersebut kita akan memperoleh kemenangan, terutama dalam rangka membangun Universitas Muhammadiyah Jakarta yang berkemajuan”, katanya.

Acara ditutup dengan saling berjabat tangan antar sivitas akademika, dilanjutkan makan siang bersama dan kemudian shalat zuhur berjamaah.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s