Perihal Usia Empat Puluh Tahun

Saat menghadiri acara silaturrahim alumni angkatan ‘93 jurusan Bahasa dan Sastera Arab Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 23 Juli 2016 di Taman Mini Indonesia Indah, ada kesadaran membatin : kami dan teman-teman sudah (seharusnya) pada usia matang dalam hidup. Usia yang berarti tidak lagi muda dan mulai menapak fase usia menua. Usia yang seharusnya matang berkeluarga dan matang memimpin tanggungjawabnya (istri, anak, dan masyarakat); usia empatpuluh tahun. Jika rata-rata tahun kelahiran kami adalah 1973 dan 1974, maka usia teman-teman adalah 42 dan 43 tahun.

Al-Quran mengabadikan indah perihal usia 40 tahun ini. Allah berfirman dalam surat al-Ahqaf (46) ayat 15 berikut : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa : Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nimat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Indahnya untaian ayat di atas. Indahnya pengabadian perihal usia 40 tahun ini. Indahnya hantaran al-Quran tentang bagaimana seharusnya hal ‘kematangan usia’ 40 ini didapatkan. Berikut hantaran al-Quran dimaksud : pertama, sikap semakin sayang kepada orang tua (utamanya Sang Ibu dan segudang pengorbanannya) yang amat mungkin terlantar akibat kesibukan-kesibukan sepele duniawi kita; kedua, sikap pandai berterimakasih atas aneka nimat dan anugerah Ilahi kepada kita yang boleh jadi kita ‘bodoh’ mengingatnya; ketiga, sikap berkemauan memperbanyak amal-amal maslahat berupa pikiran yang baik, kata-kata yang baik, dan perbuatan yang baik, bukan malah kebalikannya; keempat, mematok ‘harga mati’ bahwa keturunannya ke depan harus berhiaskan nilai-nilai kebaikan, dengan mempersiapkan sejak dini apa yang terbaik untuk anak cucu; dan terakhir kelima yang ‘jauh lebih penting’ adalah kesadaran bahwa usianya terus merangkak dan bergerak mengantarnya menjadi sudah melemah tulangnya dan ditumbuhi uban kepalanya (QS. 19:4) sebagai betul-betul sudah dimulai proses penuaannya, sehingga ia sadar berdoa sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu ya Allah, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

Dengan memiliki kelima sikap matang ini, siapapun yang menapak usia 40-an, insya Allah dia berhasil memimpin dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya. Na’udzubillah dari kita mengabaikan peringatan surat al-Ahqaf di atas, karena siapapun yang menapak usia 40 ini dan mengabaikan peringatan surat al-Ahqaf ini, dia akan gagal memimpin dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya.

Wallahu a’lam..

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s