Kematian : Batu Ujian Keimanan

Dalam kesempatan ini, Khatib ingin menyampaikan khutbahnya dengan judul Hukum Kematian sebagai Batu Ujian Keimanan. Judul ini didasarkan kepada dua hal : pertama firman Allah  swt yang mengingatkan kita tentang kematian, berbunyi : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Q.S.21:35). Dasar kedua, adalah sejarah hidup Rasulullah, khususnya riwayat tentang saat –saat menjelang dan sesudah kewafatan Baginda Rasulullah SAW.

Kematian adalah salah satu kenyataan hidup. Ia nyata ada seperti adanya diri kita sendiri. Ia teramat terang ada, sebagaimana terangnya sinar matahari. Kematian tidak dapat dipungkiri. Ia menjadi hukum yang telah ditentukan Allah untuk kehidupan kita sendiri, “Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian ia akan mematikan kamu” (Q.S.22:66)

Penekanan tentang soal kematian ini teramat penting untuk diulang-ulang. Ia seringkali hanya efektif menjadi nasehat untuk sebagian besar kita, manakala kita menyempatkan diri dalam acara-acara sehubungan kematian. Sesudah itu kita lupa, lupa selupa-lupanya, tertelan oleh kesibukan urusan-urusan duniawi kita. Sesudah acara-acara kematian, nasehat kematian menjadi tumpul tak mengasah fikiran dan keimanan. Dari al-Quran dan sejarah hidup Rasulullah saw, ada didapatkan bahwa salah satu sisi penting kematian yang harus dicamkan adalah ia menjadi batu ujian bagi keimanan kita. Ayat yang telah dibacakan di atas menjelaskan demikian, Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Q.S.21:35).

Ayat ini adalah ayat 35 surat al-Anbiya (21). Satu ayat sebelumnya, yakni ayat 34-nya menceritakan peringatan Allah kepada Nabi Muhammad khususnya dan umumnya kepada kita umatnya, bahwa Muhammad SAW adalah manusia ‘biasa’ yang juga tunduk kepada hukum kematian yang telah digariskan oleh Allah swt. Muhammad saw adalah seorang yang mempunyai nama dan pengaruh besar bagi umat manusia sedunia, tetapi akhirnya menemui juga kematiannya. Ayat 34 dan 35 tadi lengkapnya berbunyi, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal ? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Q.S.21:34-35).

Dua ayat di atas menjelaskan dua hal: pertama, bahwa sebelum Rasulullah saw hidup, semua manusia mati, tidak terkecuali para Nabi alaihissaalam; kedua, bahwa dengan adanya kematian tersebut, Allah akan menguji orang-orang yang menyaksikan kematian, apakah kehidupan mereka menjadi indah berhiaskan amal-amal kebaikan, ataukah hidup mereka tetap belepotan dengan pekerjaan-pekerjaan buruk tidak karuan.

Kewafatan Rasulullah

                Detik-detik menjelang  dan khususnya sesudah kewafatan Rasulullah saw adalah batu ujian bagi keimanan para sahabat. Siapa di antara kita di masjid mulia ini yang berani meragukan keimanan mereka para sahabat ? Mereka adalah orang-orang yang langsung dididik oleh Rasulullah saw; mereka adalah orang-orang yang berperang mempertahankan agama sehingga berlumuran darah; mereka adalah orang-orang yang telah mengisi dan menghiasi kehidupannya dengan amal-amal saleh, tetapi toh akhirnya Allah harus menguji keimanan mereka; Allah hendak menguji Abu Bakar ibn Shiddiq, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Zubair ibn Awwam, Abd al-Rahman ibn Auf, dll., kaum Muhajirin dan Anshar radhiyallahu ‘anhum.

Ujian ini tidak kepalang-tanggung. Rasulullah saw sebagai orang yang telah menyinari kehidupan mereka dengan ajaran Islam dan ayat-ayat al-Quran dipanggil oleh Allah swt. Rasulullah sebagai seorang ayah, suami, sahabat, guru, jenderal besar, kepala negara, dan seorang utusan Tuhan harus meninggalkan mereka selama-lamanya.

Muhammad  Husain Haekal dala bukunya Hayatu Muhammad menceritakan bahwa mendengar Rasulullah saw wafat, kaum muslimin yang sedang berada dalam masjid terkejut luar biasa. Mereka histeris. Umar ibn Khattab khususnya, tidak langsung percaya Rasulullah saw meninggal. Ia datang ke rumah Aisyah, tempat jenazah Rasulullah saw disemayakan. Setelah disingkapnya kain penutup muka Rasulullah, dia menduga Rasulullah hanya pingsan biasa dan akan kembali siuman sebagaimana kembalinya Rasulullah Musa dari bukit Thursina. Ia keluar dan menemui kaum muslimin dan berteriak  dengan lantang : “Wallahi..layarji’anna Rasulullahi kamaa raja’a Musa. Falayuqtha’anna aydii rijaalin wa arjuluhum za’amu annahu maata” ..Demi Allah, Rasulullah akan kembali, sebagaimana kembalinya Musa. Siapa yang mengatakan Muhammad telah mati, tangan dan kakinya harus dipotong.

Teriakan Umar ini keras dan berulang-ulang. Keadaan menjadi hiruk-pikuk. Kaum muslimin kebingungan.  Sebagaimana Umar, mereka hampir tidak percaya Rasulullah meninggal dunia. Pada saat itu, terbetik dalam pikiran mereka, tidak mungkin Rasulullah mati. Keyakinan Muhammad sebagai utusan Tuhan yang memiliki banyak mukjizat, menjadikan mereka yakin  bahwa Muhammad tidak akan mati.  Meski paling sibuk menenangkan keadaan, boleh dikata Umarpun tidak terkontrol. Dengan keyakinan Nabi masih hidup, Umar terus berteriak-teriak mengancam siapa yang berani mengatakan Muhammad telah mati. Keadaan sementara bisa diatasi. Semua mengerumuni Umar dan mulai percaya Nabi tetap masih hidup. Di sinilah, Umar dan sebagian besar kaum muslimin keliru besar; ada gejala kuat akan munculnya sikap pengkultusan Muhammad yang sangat terlarang dan sangat mungkin menjuruskan mereka tidak lagi beriman sesudah beliau meninggal.

Saat itulah tampil saydina Abu Bakar r.a. menyabarkan Umar bahwa Nabi memang sudah tiada. Umar tidak mau mendengarkan. Mendapatkan dirinya diacuhkan Umar, akhirnya Abu Bakar tampil ke depan, berpidato mengingatkan kaum muslimin :”Ayyuhannas inna Muhammadan  qad mata, wa man kana ya’budullah fa innalllaha hayyun la yamutu, wa ma Muhammaddun illa Rasulun qad khalat min qablihi ‘r-rusul, afain mata au qutila ‘nqlabtum ala a’qabikum wa man yanqalib ‘ala aqibaihi fa lan yadhurraha syayan. “Saudara-saudara, barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah selalu hidup dan tak pernah mati. Kemudian Abu Bakar membacakan ayat : Muhammad hanyalah seorang Rasul. Sebelum diapun telah banyak Rasul yang sudah tiada. Apabila dia mati atau terbunuh, apakah kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa balik ke belakang, ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Mendengar pidato dan ayat tadi, Umarpun tersungkur ke tanah, sadar bahwa Rasulullah memang sudah tiada. Begitu juga yang lain. Mereka baru sadar, seolah mereka tidak pernah mengetahui bahwa ayat 144 Alu Imran di atas pernah turun yang mengandung peringatan agar kaum muslimin tetap teguh dan kokoh beriman kepada Allah walaupun Muhammad sudah meninggal. Seketika itu juga keimanan mereka terselamatkan dari ujian kewafatan Rasulullah saw.

 

Refleksi

Kini, bagi kita adalah mawas diri terhadap soal kematian. Dari kisah ringkas di atas, jelas bahwa soal kematian menyangkut prinsip keimanan. Kita tidak diuji berat oleh Allah  menghadapi kematian Rasulullah sebagaimana para sahabat. Tetapi jika para sahabat  telah berhasil mengatasi ujian kematian Rasulullah dengan menyadari bahwa Allahlah yang senantiasa hidup dan tak pernah mati, maka seharusnya begitulah kita. Manakala kita diujinya dengan kematian, lebih-lebih kematian orang yang kita cintai, maka kematian tersebut harus memecut  diri pribadi kita untuk lebih beriman kepada Allah swt. Salah satu wujud keimanan tersebut pernah digambarkan oleh Rasulullah sebagai bermawas diri dengan kematian. Inilah orang yang cerdik pandai, kata Rasulullah,

Orang yang cerdik pandai adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan berbuat untuk sesudah kematiannya.

Bila hal sesudah kematian adalah pertanggunganjawab di hadapan Allah di hari Akherat nanti, maka orang yang cerdik pandai (al-kayyis) menurut wejangan Nabi di atas adalah orang yang mau belajar dari kematian dan berusaha sungguh-sungguh menghiasi hidupnya dengan keimanan dan amal-amal saleh guna keselamatannya di hari Akherat nanti.

Wallahua’lam..

(Ditulis ulang di) Cinangka, Sawangan, Agst ‘16

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s