Pemimpin : antara Ruwaibidhah dan ‘Ibadurrahman

Salah satu prinsip yang digariskan oleh Islam dalam kehidupan kita adalah kepatuhan kepada pemimpin. Bahkan prinsip kepatuhan ini, ada satu tingkat di bawah prinsip kepatuhan kita kepada Allah dan RasulNya. Allah swt berifirman dalam surat al-Nisa (4) ayat 59 :

“Hai orang-orang yang beriman, patuhilah Allah dan patuhilah RasulNya, dan (patuhilah) pemimpin di antara kamu..”

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini diturunkan ketika Rasulullah saw
mengangkat Abdullah bin Hudzaifah bin Qis sebagai pemimpin atau komandan perang dalam suatu ekspedisi militer kecil yang disebut sariyyah. Dari asbab nuzul ayat ini dapat dimengerti bahwa ayat tersebut penekanannya lebih pada arti pemerintahan dan kekuasaan, dibanding arti-arti lainnya. Dengan demikian ayat 59 surat al-Nisa ini menjadi dasar bagi kaum mukminin untuk patuh kepada pemimpin penguasa dan pemerintah mereka. Pertanyaannya : bagaimana sosok pemimpin yang harus kita patuhi itu ? Pertanyaan ini harus kita jawab berdasarkan petunjuk al-Quran dan Hadis, sehingga sesama kita tidak ada silang sengketa yang membawa perpecahan dan perselisihan. Lanjutan ayat di atas berbunyi : “Maka, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Hadis), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.

Ruwaibidhan dan ‘Ibadurrahman

Penelusuran terhadap al-Quran dan Hadis memperkenalkan sekurang-kurangnya dua macam pemimpin; pertama, pemimpin yang disebut Pemimpin Ruwaibidhah, dan kedua, pemimpin yang disebut Pemimpin ‘Ibadurrahman.

Pemimpin pertama (Ruwaibidhah) didasarkan kepada jawaban Rasulullah saw ketika ditanya para sahabat tentang orang-orang yang tergolong kelompok Ruwaibidhah; Rasulullah bersabda : rajulun taafihun yatakallamu fi amri ‘l-aammah (Seseorang yang tidak ada apa-apanya, yang banyak berbicara mengenai urusan masyarakat luas).

Dari hadis Rasulullah saw ini, dapat dijelaskan bahwa ada orang yang suka berbicara tentang urusan menyangkut kehidupan orang banyak, tetapi orang itu tidak mempunyai pengetahuan sama sekali tentang yang dibicarakannya. Seorang pemimpin macam begini dimungkinkan muncul di tengah-tengah kita. Ia dengan lantangnya mengumbar janji ini janji itu sekedar menarik perhatian dan simpati kita, sementara ia sendiri tidak mengerti apa sesungguhnya yang dijanjikan itu. Inilah pemimpin Ruwaibidhah. Pemimpin Ruwaibidhah adalah pemimpin yang aji mumpung keadaan, sehingga ia tega membohongi rakyat dengan segala macam cara supaya ia terpilih menjadi pemimpin. Maraknya pemberitaan akhir-akhir ini di media massa, bahwa banyak di antara calon pemimpin kita yang memalsukan ijazah adalah salah satu contoh konkret Pemimpin Ruwaibidhah! Dapat dibayangkan bagaimana runyam dan berantakannya jika bangsa dan negara kita dipimpin oleh macam pemimpin ini.

Pemimpin kedua, adalah Pemimpin ‘Ibadurrahman. ‘Ibadurrahman berarti ‘hamba-hamba Allah’. Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa jangankan ia berpangkat rendah, setinggi langitpun jabatannya, ia hanyalah hamba Allah, yang sedang dipercayakan Allah, untuk memimpin hamba-hamba Allah. Surat al-Furqan (25) dari ayat 63 sampai ayat 74 menjelaskan 10 ciri pemimpin ini :

Pertama (Ayat 63),

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang cara hidupnya sederhana. Ia sadar bahwa kewibawaannya terletak bukan pada cara hidup berglamor harta, tetapi kesahajaan dan kesederhanaan. Begitu cara ia memikat hati raktyatnya yang kebanyakan hidup susah dan sengsara. Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang bila berhadapan dengan rakyat yang menghujatnya karena kebodohan mereka, ia menjawabnya dengan bijaksana, tidak menggunakan kekuatan senjata.

Kedua (Ayat 64)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang gemar bangun malam untuk shalat tahajjud. Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang di waktu rakyatnya sedang lelap tertidur lengket di atas kasur, ia diam-diam bangun melaporkan perjalanan kepemimpinannya kepada Allah. Malam-malam dia berdoa kepada Allah mohon diamankan negeri dan rakyatnya, dan disukseskan segala usaha penghidupan mereka.

Ketiga (Ayat 65)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang program pemerintahannya bertujuan agar rakyatnya terhindar dari siksa api neraka. Sebuah program yang demikian luhur yang tidak mungkin tercapai, kecuali atas kehendak Allah; dan karenanya ia tidak bosan berdoa kepada Allah agar rakyatnya dihindarkan dari krisis dan bencana.

Keempat (Ayat 67)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang mempergunakan uang rakyat untuk keperluan-keperluan yang sangat dibutuhkan oleh rakyat. Ia tidak mengumbar-ngumbar harta rakyat untuk kebutuhan yang tidak ada gunanya. Tetapi Pemimpin ‘Ibadurrahman juga tidak pelit kepada rakyat. Ia tidak menahan-nahan uang rakyat untuk kesejahteraan mereka.

Kelima (Ayat 68)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang selalu menjadikan Allah sebagai motivasi, dasar, dan falsafah kepemimpinannya. Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang menyadari bahwa kepemimpinannya hanyalah atas izin Allah, milik Allah, dan suatu saat akan diambil oleh Allah. Oleh karena itu setiap ucapan, perbuatan, dan keputusannya senantiasa mempertimbangkan bagaimana Allah.

Keenam (Ayat 68)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang tidak menggunakan secara semena-mena kekuasaannya untuk membunuh orang lain. Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang sangat menghormati hak hidup rakyatnya, sehingga ia selalu berusaha untuk melindungi dan mengamankan mereka dari orang-orang yang membuat keresahan dan teror.

Ketujuh (Ayat  68)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang tidak berzina, tidak membuat keadaan yang semakin subur oleh praktik-praktik perzinahan, prostitusi, dan kumpul kebo. Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang berusaha sekuat tenaga menjaga kebersihan kesucian moril dirinya dan masyarakatnya. Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang sangat anti pornografi dan pornoaksi.

Kedelapan (Ayat 72)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang tidak pernah berkata dusta, lebih-lebih manyangkut kesaksiannya terhadap kemaksiatan. Ia dengan tegas mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah. Dia tidak membenarkan yang salah, dan tidak menyulap yang salah menjadi benar. Selain itu, Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang selalu menjaga waktunya dari perbuatan yang sia-sia.

Kesembilan (Ayat 73)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang suka membaca al-Quran, hobi mempelajari apa isi al-Quran, mau merenungi al-Quran, dan menjadikan al-Quran sebagai sumber inspirasi dalam merumuskan konsep-konsep pemerintahannya.

Kesepuluh (Ayat 74)

Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang tidak lantas melupakan keluarganya hanya karena ia sudah menjadi milik orang banyak. Dia bimbing keluarga dan keturunannya agar menjadi teladan juga untuk masyarakatnya. Pemimpin ‘Ibadurrahman adalah pemimpin yang dapat menjaga secara harmonis antara kepentingan rakyatnya dan kebutuhan keluarganya.

Demikianlah Pemimpin ‘Ibadurrahman. Inilah pemimpin yang wajib dipatuhi seperti diperintahkan surat al-Nisa tadi. Pemimpin ini sungguh sangat berbeda dengan Pemimpin Ruwaibidhah yang haram ditaati. Mudah-mudahan kita dianugerahkan oleh Allah para pemimpin yang akan memimpin kita, anak dan keturunan kita dengan Pemimpin ‘Ibadurrahman.

Wallahu a’lam…

 (Ditulis ulang di) Cinangka, Sawangan, Agst ‘16

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s