‘Dunia tanpa Islam’

Doktor Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampaikan ceramahnya pada kegiatan diskusi bulanan dosen Universitas Muhammadiyah (UMJ) pada Jumat, 20 Januari 2017. Kegiatan diskusi bulanan dosen ini digawangi oleh Lembaga Pengkajian dan Penerapan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMJ.

Dalam ceramahnya, Mu’ti yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, menyampaikan hasil kajian Graham E Fuller, dalam bukunya A World Without Islam (Dunia tanpa Islam), yang pada intinya menyimpulkan bahwa mustahil dunia tanpa Islam. Graham E Fuller sendiri adalah seorang diplomat senior dan mantan wartawan Amerika Serikat.

Kesimpulan buku Fuller di atas, kata Mu’ti, didasari beberapa argumentasi.
Pertama argumentasi demografis; Islam sudah ada dan tersebar di seluruh dunia dari barat sampai timur. Islam sudah menjadi agama dunia yang tingkat perkembangannya sangat pesat. Termasuk di Amerika. ‘Di Amerika ada tujuh juta warga muslim, lebih besar dari warga yahudi yang hanya lima juta’, jelas Mu’ti. ‘Bahkan di Eropa, tingkat perkembangannya 300 persen!’ tambahnya.
Mu’ti juga menyampaikan prediksi sebuah lembaga penelitian di Amerika bahwa pada tahun 2050 jumlah muslim akan sama dengan pemeluk kristen (Sekarang populasi muslim 23 persen, sementara kristen 31 persen, dan pada 2050 diprediksi umat kristen 32 persen, sementara muslim 31 persen).

Argumentasi kedua Fuller, kata Mu’ti, adalah secara ekonomi. Bahwa ekonomi dunia kini bergeser dari eropa ke asia. Asia dimaksud di sini selain negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Cina, juga termasuk Timur Tengah yang notabene mayoritas berpenduduk muslim. Negara-negara Timur Tengah yang kaya minyak itu, misalnya, merupakan daya tarik tersendiri bagi negara-negara di dunia untuk berbisnis.

Sementara argumentasi ketiga Fuller adalah bahwa secara politik, sudah banyak orang-orang Islam yang menduduki jabatan-jabatan strategis di negara-negara barat. Memperkuat argumentasi ini, Mu’ti juga menyampaikan pendapat Ziauddin Sardar, bahwa kebangkitan Islam justru bukan di Timur Tengah, tetapi di Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. ‘Secara politik, demokrasi di Indonesia, memang relatif lebih baik di banding dengan negara-negara muslim lainnya’, katanya. ‘Tetapi demokrasi di Indonesia ini harus kita dorong ke arah yang substantif, bukan formalistis seperti sekarang ini’, demikian Mu’ti mengingatkan.

Di bagian lain ceramahanya, Mu’ti mengatakan bahwa memang ada ketakutan Barat terhadap kekuatan Islam yang akhirnya memunculkan sikap islamophobia. Namun demikian, harus disadari bahwa Islam juga dihadapkan kepada masalah seperti tidak adanya persatuan di dunia Islam yang terbukti dari tercabik-cabiknya negara-negara di Timur Tengah. ‘Melihat Timur Tengah sekarang ini seperti melihat peta kelam’, katanya.

Di bagian akhir ceramahnya, Mu’ti, berpesan bahwa ada dua hal yang harus ditumbuhkan di dunia Islam agar Islam terus ‘mewarnai’ dunia, yaitu pertama membangun rasa percaya diri, karena negara-negara Islam kaya dengan potensi untuk menjadi lebih maju dibanding Barat; dan kedua membangun masyarakat ilmu dengan tradisi kuat membaca dan menulis. ‘Hasil penelitian UNESCO bahwa indeks literasi di dunia Muslim 0,001 tidak akan terjadi jika umat Islam kuat dalam tradisi keilmuannya’, demikian Mu’ti menyemangati.

Wallahu a’lam..

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s